Home Artikel Kajian Penjelasan Kaidah Pertama Al-Qowa’idul Arba’ah

Penjelasan Kaidah Pertama Al-Qowa’idul Arba’ah

18
0
SHARE

BAB KEDUA: Kaidah Pertama

Imam dakwah Tauhid, Syaikhul Islam Muhammad At-Tamimi rahimahullah berkata,

القاعدة الأولى

أن تعلم أنّ الكفّار الذين قاتلهم رسول الله يُقِرُّون بأنّ الله تعالى هو الخالِق المدبِّر، وأنّ ذلك لم يُدْخِلْهم في الإسلام، والدليل: قوله تعالى:  {قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ} (يونس:31)

Kaidah pertama:

Anda perlu mengetahui bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meyakini bahwa Allah Ta’ala adalah satu-satunya Sang Pencipta dan Pengatur (segala urusan). Meski demikian, hal itu tidaklah menyebabkan mereka masuk ke dalam agama Islam. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah: ‘Siapa yang memberi rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati (menghidupkan) dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup (mematikan), dan siapa yang mengatur segala urusan? ‘Maka mereka (kaum musyrikin) akan menjawab:’Allah’. Maka katakanlah:’Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)” (QS. QS. Yunus: 31).

————————————————————————

Penjelasan

Inti kaidah pertama ini adalah penetapan Tauhid Rububiyyah mengharuskan kepada penetapan Tauhid Uluhiyyah (Ibadah). Di dalam bab ini terdapat penjelasan bahwa penetapan Tauhid Rububiyyah tidak cukup bagi kesahan Islam seseorang, akan tetapi haruslah diiringi dengan penetapan Tauhid Uluhiyyah, yang mengandung penetapan Tauhid Al-Asma` wa Shifat.

Dalam ayat tersebut di atas, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa orang-orang yang menyekutukan Allah jika ditanya tentang keesesaan-Nya dalam Rububiyyah-Nya,yaitu siapa yang memberikan rezeqi dari langit berupa hujan dan dari bumi berupa pohon dan tanaman,siapa yang yang menciptakan dan memiliki pendengaran dan penglihatan1, siapa yang mengeluarkan  sesuatu yang hidup dari yang mati,seperti : pepohonan dari bebijian,burung dari telur dan pengeluaran seseorang dari status kafir berubah menjadi mukmin, siapa yang mengeluarkan sesuatu yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur alam atas dan bawah, pastilah mereka akan mengatakan bahwa semua itu yang bisa melakukan hanyalah Allah saja

Dengan demikian, mereka mengakui keesaan Allah dalam Rububiyyah-Nya.

Kemudian Allah berhujjah dengan pengakuan mereka tersebut untuk mengharuskan mereka mentauhidkan Allah dalam Uluhiyyah-Nya, dengan bertakwa,meninggalkan sesembahan selain Allah dan meninggalkan kesyirikan dalam beribadah kepada Allah.

Terkait dengan hal ini,  Allah tegur mereka dengan menggunakan pertanyaan pengingkaran,

{فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ}

Ini menunjukkan bahwa mengesakan Allah dalam Rububiyyah-Nya, mengharuskan seseorang mengesakan-Nya dalam Uluhiyyah-Nya

Bahwa Tuhan Pencipta,Yang Memberi rezeki,Yang Menghidupkan dan Mematikan serta Sang Pengatur alam semesta, inilah satu-satunya yang harusnya disembah,sebagaimana firman Allah :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. (Al-Baqarah : 21)

Kesimpulan Kaidah Pertama :

  1. Mengesakan Allah dalam Rububiyyah-Nya, mengharuskan mengesakan-Nya dalam Uluhiyyah-Nya
  2. Penetapan Tauhid Rububiyyah tidak cukup bagi kesahan Islam seseorang, akan tetapi haruslah bersamaan dengan penetapan Tauhid Uluhiyyah. Karena kebanyakan musyrikin dari kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam sampai kaum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ,yaitu kafir Quraisy mereka mengakui Tauhid Rububiyyah, namun tetap status mereka musyrikin,karena menentang konsekuensinya berupa mentauhidkan Allah dalam Uluhiyyah-Nya. Sebagaimana kaum musyrikin yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan dalam Ayat di atas.
  3. Adalah sebuah kesalahan,jika  seseorang memahami makna La ilaha illallahu sebatas pada makna Rububiyyah saja, misalnya :
    makna La ilaha illallahu adalah “Tidak ada Sang Pencipta kecuali Allah”,  ini adalah kesalahan dan tidak menyebabkan masuknya seseorang ke dalam agama Islam, karena makna La ilaha illallahu yang benar adalah “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”.
  4. Hubungan diantara ketiga macam Tauhid

1. Hubungan Tauhid Rububiyyah dengan Tauhid Uluhiyyah

توحيدالربوبية مستلزم لتوحيد الألوهية

Mengesakan Allah dalam Rububiyyah-Nya mengharuskan mengesakan-Nya dalam Uluhiyyah-Nya

Maksudnya :

Barangsiapa yang meyakini keesaan Allah dalam Rububiyyah-Nya,yaitu: meyakini bahwa Allah itu Esa,tidak ada sekutu bagi-Nya dalam menciptakan makhluk,mengaturnya,memberi rezeki,memberi manfa’at,menimpakan musibah/mudhorot,menghidupkan,mematikannya dan lainnya yang menjadi kekhususan Allah,maka keyakinan tersebut mengharuskannya mempertuhankan-Nya dalam beribadah,mengesakan dan mentauhidkan-Nya dalam segala bentuk peribadatan. Karena hanya Dzat yang mampu menciptakan makhluk,mengaturnya,memberi rezeki kepadanya dan yang selainnya dari makna-makna Rububiyyah itu sajalah yang pantas dan wajib disembah,selain-Nya tidak boleh dan tidak pantas disembah.

توحيد الألوهية متضمن لتوحيد الربوبية

Mengesakan Allah dalam Uluhiyyah-Nya mengandung pengesaan-Nya dalam  Rububiyyah-Nya

Maksudnya : Setiap orang yang mentauhidkan Allah dalam peribadatan dan tidak melakukan kesyirikan,pastilah terkandung keyakinan dalam hatinya bahwa Allah lah satu-satunya Dzat yang menciptakan dan memiliki alam semesta,mengaturnya,memberi rezeki kepada makhluk-Nya,berarti ia meyakini bahwa  satu-satunya Tuhan yang berhak disembah adalah Allah yang Esa dalam Rububiyyah-Nya,tidak ada tandingan-Nya,

2. Hubungan Tauhidul Asma` was Shifat dengan kedua macam tauhid yang lainnya

توحيد الأسماء والصفات شامل للنوعين

Mengesakan Allah dalam nama dan sifat-Nya mencakup kedua macam tauhid yang lainnya (Tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah sekaligus)

Maksudnya : Dalam nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya ada yang menunjukkan Uluhiyyah-Nya,seperti : Allah, Al-Gafur, At-Tawwab, dan adapula yang menunjukkan Rububiyyah Allah,seperti: Al-Khaliq,Ar-Razzaq, dan yang lainnya.

Diantara ulama rahimahumullah ada yang menjelaskan bahwa Tauhidul Uluhiyyah mengandung Tauhidur Rububiyyah dan Tauhidul Asma` wash Shifat, ditinjau dari sisi berikut ini :

Berkata Syaikh Muhammad Shaleh Al-‘Utsaimin rahimahullah, ketika ditanya tentang cakupan makna syahadat La ilaha illallahu,

هي تشمل أنواع التوحيد كلها إما بالتضمن وإما بالابتداء، وذلك أن قول القائل: أشهد أن لا إله إلا الله يتبادر إلى المفهوم أن المراد بها توحيد العبادة، وتوحيد العبادة الذي يسمى توحيد الألوهية متضمنٌ لتوحيد الربوبية؛ لأن كل من عبد الله وحده فإنه لن يعبده حتى يكون مقراً له بالربوبية، وكذلك متضمن لتوحيد الأسماء والصفات؛ لأن الإنسان لا يعبد إلا من علم أنه مستحقٌ للعبادة، لما له من الأسماء والصفات؛ ولهذا قال إبراهيم لأبيه:{ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لا يَسْمَعُ وَلا يُبْصِرُ وَلا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا} (مريم:42)، فتوحيد العبادة وهو توحيد الألوهية متضمن لتوحيد الربوبية والأسماء والصفات.

Syahadat tersebut mencakup seluruh macam Tauhid (yang tiga macam), baik secara tersirat dalam kandungan maknanya, maupun secara tersurat (secara langsung dipahami dari lafadznya, pent.).

Hal itu disebabkan bahwa ucapan seseorang : Asyhadu an La ilaha illallah, segera dapat dipahami maknanya adalah Tauhidul Ibadah.

Sedangkan Tauhidul Ibadah  – yang disebut juga dengan Tauhidul Uluhiyyah –  ini (sebenarnya) mengandung Tauhidur Rububiyyah, alasannya karena setiap orang yang beribadah (menyembah) kepada Allah semata, maka tidaklah ia menyembah-Nya kecuali sampai ia mengakui keesaan Rububiyyah-Nya.

Demikian juga (Tauhidul Uluhiyyah) mengandung Tauhidul Asma` wash Shifat, karena manusia tidaklah menyembah kecuali suatu Dzat yang diketahuinya berhak untuk disembah,alasannya  karena memiliki nama (yang terindah) dan sifat (yang termulia).

Oleh karena itulah, Nabi Ibrahim (‘alaihis salam) pernah berkata kepada bapaknya,

{ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لا يَسْمَعُ وَلا يُبْصِرُ وَلا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا}

(42)  “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? ”. (QS. Maryam:42).

Maka (kesimpulannya) Tauhidul Ibadah adalah Tauhidul Uluhiyyah yang mengandung Tauhidur Rububiyyah dan Tauhidul Asma` wash Shifat.2

  1. Kesimpulan: Jadi, alasan kaum musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyembah selain Allah bukanlah karena mereka meyakini bahwa sesembahan mereka memiliki kekhususan Rububiyyah sebagaimana Allah,mereka tidak meyakini sesembahan mereka bisa menciptakan makhluk,menghidupkan,mematikan dan mengatur alam semesta ini. Lalu apakah alasan mereka ? Simak jawabannya dalam kaedah ke-2!

***

(bersambung)

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

Anda sedang membaca: ” Syarah Al-Qowa’idul Arba’ah “, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini:

____

  1. Kedua perkara ini disebutkan secara khusus,karena untuk memperingatkan kenikmatan yang lebih besar lagi dari kenikmatan sebelumnya,agar mereka semakin sadar 
  2. Dari website: audio.Islamweb.net/audio/Fulltxt.php?audioid=317025 

Sumber: https://muslim.or.id/27243-penjelasan-kaidah-pertama-al-qowaidul-arbaah.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here