Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (4): Ilmu Tujuan Dan Ilmu Sarana

Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (4): Ilmu Tujuan Dan Ilmu Sarana

  • Ilmu Syari’at Ditinjau dari Sisi Materi Inti atau Tidaknya terbagi menjadi dua, yaitu Ilmu Inti dan Ilmu Penunjang

    Asy-Syathibi rahimahullah, di dalam kitabnya Al-Muwafaqat berkata,

    من العلم ما هو من صلب العلم ، ومنه ما هو ملح العلم لا من صلبه، ومنه ما ليس من صلبه ولا ملحه

    “Di antara disiplin Ilmu Syar’i ada yang int, dan ada juga yang penunjang, yang tidak termasuk inti ilmu. Di samping itu, juga ada yang tidak termasuk ilmu inti dan tidak pula ilmu penunjang.”1

    Syaikh Shaleh Alusy Syaikh hafizhahullah mengatakan,

    من المعلوم أنّ العلم قسمان كما يقول طائفة من أهل العلم منهم الشاطبي في أول الموافقات: ((العلم قسمان عُقَدٌ وملَح))، والعقد تعقد القلب مع العلم والملح لابد منها للمسير في طلب العلم

    “Merupakan perkara yang sudah diketahui, bahwa disiplin ilmu Syar’i terbagi menjadi dua, sebagaimana disebutkan oleh sekelompok Ulama diantaranya adalah Asy-Syathibi di awal kitab Al-Muwafaqat, bahwa ilmu Syar’i ada dua macam, ‘Uqod (inti) dan Mulah (penunjang). ‘Uqod (ilmu inti) sifatnya adalah ilmu yang mengikat hati dengan kuat, sedangkan Mulah (ilmu penunjang) sifatnya adalah ilmu yang harus ada untuk keistiqomahan perjalanan menuntut ilmu Syar’i.2

    Dari pernyataan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa ilmu Syari’at ditinjau dari sisi, materi inti atau tidaknya, terbagi menjadi dua, yaitu:

    1. Ilmu Inti (Shulbul ‘Ilmi)

    Ulama menyebut ilmu ini dengan sebutan ‘Uqodul ‘Ilmi (Simpul Ilmu) karena sifatnya sebagai simpul pengikat hati, sehingga ilmu itu benar-benar terikat kuat dan erat dalam hati.

    Ada pula yang menyebut ilmu ini dengan sebutan Shulbul ‘Ilmi (Inti Ilmu) karena sifatnya sebagai inti utama ilmu Syari’at, dijadikan pegangan oleh seorang hamba dalam memahami dan mengamalkan agama Islam.

    Ilmu Ini Terbagi Menjadi Dua, yaitu:

    1. Ilmu Al-Ashliyyah (Ilmu Pokok/Tujuan) atau Ilmu maqsudun li dzatihi (ilmu tujuan), yang dimaksud dengan ilmu ini adalah ilmu tentang Al-Qur`an (Tafsir), As-Sunnah (ilmu Hadits), Tauhid dan Fiqh.

    2. Ilmu Ash-Shinaiyyah (Ilmu Alat) atau Ilmu maqsudun li ghairihi (ilmu sarana), seperti : Ushul Fikih,Ushul Tafsir,Mushtholahul Hadits, Siroh, Tajwid dan Tahsin, Nahwu, Shorof, Al-Ma’ani wal Bayan, Balaghoh, dan yang semisalnya (Penjelasan lebih lanjut baca Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (3))

    Sifat Ilmu Inti

    Ulama menjelaskan bahwa sifat ilmu Inti ini adalah sebagai ilmu yang pokok, menjadi pegangan, pusat perhatian dalam aktifitas menuntut ilmu dan puncak arah tujuan Ulama yang kokoh ilmunya, sebagaimana perkataan Asy-Syathibi rahimahullah setelah menyampaikan ketiga macam ilmu di atas:

    فهذه ثلاثة أقسام : القسم الأول : هو الأصل والمعتمد ، والذي عليه مدار الطلب ، وإليه تنتهي مقاصد الراسخين

    “Maka ilmu ini ada tiga macam, yang pertama (Ilmu Inti) adalah ilmu pokok dan

    menjadi pegangan, serta ilmu yang menjadi pusat perhatian dalam aktifitas menuntut ilmu, kepadanyalah puncak arah tujuan Ulama yang kokoh ilmunya.” 3

    Syaikh Shaleh Alusy Syaikh hafizhahullah berkata,

    العلم منه عُقَد يصار إليها ومنه ملح مساندة

    “Di antara disiplin Ilmu Syar’i ada yang jenis ilmu inti, sebagai puncak arah tujuan (dalam menuntut ilmu Syar’i) dan ada juga yang merupakan ilmu penunjang, sebagai penunjang/penguat ilmu Inti.” 4

    2. Ilmu Penunjang (Mulahul ‘Ilmi)

    Ulama menyebut ilmu ini dengan sebutan Mulahul ‘Ilmi, yaitu suatu ilmu yang berkedudukan sebagai penunjang dan penguat ilmu Inti, sebagai pelengkap bagi ilmu Inti serta sebagai sarana untuk bisa istiqamah dalam menuntut ilmu Inti. Di antara ilmu penunjang ini adalah lmu tentang sya’ir, perumpaman-perumpamaan yang baik, kisah-kisah Ulama, biografi Ulama, kisah tentang perdebatan Ulama dan ilmu Sejarah Islam.

    Sifat Ilmu Penunjang ini adalah:

    • Ilmu Penunjang ini menyempurnakan pemahaman seseorang terhadap ilmu Inti.

    • Ilmu Penunjang ini memang bermanfa’at, akan tetapi barangsiapa yang tidak mempelajarinya tidaklah mengapa, karena ketidaktahuannya tidak membahayakan ilmunya.

    • Jika seseorang ingin mempelajari ilmu Penunjang ini dengan sekedarnya, tidak harus mempelajarinya dari seorang Ulama yang ahli dalam ilmu tersebut, cukup ia membacanya sendiri dengan seksama, karena bukanlah ilmu tujuan, kecuali jika ingin menjadi pakar dalam ilmu-ilmu Penunjang ini, misalnya ingin menjadi penya’ir atau sejarawan.

    • Memperluas wawasan dengan mengetahui ilmu Penunjang ini, berfungsi juga sebagai penyemangat dan penggembira dalam mempelajari ilmu Inti yang berat, karena jika seorang penuntut ilmu Syar’i hanya mempelajari ilmu Inti saja, maka dikhawatirkan ia merasa berat, monoton dan bosan, lalu menjadi lemah semangat dan akhirnya berhenti dari menuntut ilmu Syar’i ini.

      Membaca kitab-kitab tentang ilmu Penunjang ini, perlu dilakukan sebagai selingan, misalnya membaca kitab tentang biografi Ulama, bagaimana ketekunan dan kiat-kiat mereka dalam menuntut ilmu Syar’i, atau bagaimana kemiskinan mereka, namun berhasil menjadi Ulama. Hal ini memompa semangatnya untuk bisa istiqomah dalam menuntut ilmu Syar’i.

    • Seorang penuntut ilmu Syar’i bebas memilih membaca kitab-kitab dalam ilmu Penunjang ini, baik itu kitab-kitab jenis mukhtashoroh (ringkas), mutawassithoh (menengah) maupun muthowwalat (panjang), asal mampu memahaminya, karena sifatnya sebatas penunjang dan untuk memperluas wawasan. Hal ini beda dengan belajar Ilmu Inti yang sifatnya Ta`shili (pendasaran yang kokoh) .

    (Keterangan lebih lanjut baca Cara Mempelajari Kitab-Kitab Ulama (bag. 3))

    Imbangi Ilmu Inti dengan Ilmu Penunjang

    Maksud mengimbangi di sini, bukan berarti harus memberikan perhatian yang sama persis antara belajar ilmu Inti dengan ilmu Penunjang! Tidaklah demikian, namun maksudnya, berikanlah kepada tiap-tiap ilmu sesuai dengan haknya masing-masing! Berikanlah kepada ilmu Inti sesuai dengan porsinya, demikian pula berikanlah kepada ilmu Penunjang sesuai dengan porsinya pula. Tentu hak ilmu Inti jauh lebih besar daripada ilmu Penunjang.

    Mengimbangi ilmu Inti dengan ilmu Penunjang itu perkara yang penting, karena seorang penuntut ilmu Syar’i biasanya mengalami saat-saat semangat kuat, tengah-tengah, dan menurun.

    Sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

    إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتـِي فَقَدْ أَفْلَحَ، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

    Setiap amalan ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat, ada masa jenuhnya. Barangsiapa kejenuhannya terarah kepada sunnahku berarti dia telah beruntung, dan barangsiapa yang kejenuhannya tidak membawa dia kepada yang demikian maka dia telah binasa” (HR. Ahmad, lihat Shahih At-Targhib).

    Jadi, jika Anda dapatkan diri Anda sedang semangat-semangatnya belajar, maka hadirilah majelis Ilmu Inti dengan sungguh-sungguh, pahami pelajaran dengan baik, catatlah dan hafalkanlah! Perbanyak membaca kitab-kitab Ulama dan melakukan pembahasan ilmiyyah!

    Namun, jika Anda dapatkan diri Anda lemah dan turun semangat atau jiwa Anda sedang membutuhkan selingan, maka janganlah Anda keluar dari ilmu kecuali kepada ilmu atau amal! Silahkan Anda keluar sementara dari ilmu Inti menuju kepada ilmu Penunjang, niscaya akan bermanfaat bagi Anda!

    Adapun seorang penuntut ilmu ketika merasakan turun semangat belajarnya, kemudian keluar dari ilmu kepada permainan atau jalan-jalan, obrolan, dan nongkrong seperti orang awam yang melalaikan, maka hal ini tidaklah selayaknya dilakukan.

    Ulama dan Ilmu Penunjang

    Janganlah Anda merasa asing ketika seorang Ulama besar terkadang memberikan perhatian kepada ilmu Penunjang ini di sela-sela waktu sibuknya, sesekali saja! Bukan berarti mereka punya waktu nganggur yang kosong dari kesibukan untuk berleha-leha, bermain-main pelesiran kesana kemari yang melalaikan mereka dari ilmu Syar’i. Tidaklah demikian!

    Namun, mereka memberikan perhatian kepada ilmu Penunjang ini di sela-sela waktu sibuknya dalam rangka menjaga kesimbangan dalam perjalanan ilmiyyahnya, agar tidak keluar dari ilmu kecuali kepada ilmu! Dan agar tidak terputus perjalanan ilmiyyahnya di tengah jalan!

    Berikut dua contoh nyata tersebut:

    1. Diriwayatkan bahwa Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri rahimahullah, dahulu pernah suatu saat ketika beliau selesai menyampaikan pelajaran Hadits, berkata kepada murid-muridnya, “Sampaikan ilmu-ilmu “Mulah” kalian! Datangkan sya’ir-sya’ir kalian! Riwayatkan berita-berita kalian!”, akhirnya merekapun ada yang mengkisahkan kisah ini dan itu, meriwayatkan kabar ini dan itu, dan seterusnya, hingga mereka pun gembira dan semangat.

    2. Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah juga demikian, di samping beliau memiliki tulisan-tulisan dalam disiplin ilmu Inti, beliau juga memiliki tulisan-tulisan dalam masalah ilmu Penunjang.

    Beliau banyak memiliki tulisan dalam ilmu Inti, seperti kitab At-Tamhiid, tentang syarah Hadits, kitab Al-Istidzkar, tentang syarah Hadits pula, kitab Al-Kaafii tentang fikih madzhab Malikiyyah. Namun beliau juga menulis kitab-kitab “Mulah, seperti Bahjatul Majalis, tentang sya’ir dan kabar.

    Peringatan: Jangan Anda Jadikan Ilmu Penunjang Sebagai Ilmu Inti!

    Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullah mengatakan,

    فمن رام المُلح وترك عقد العلم، فإنّه لن يدرك بل سيكون عنده أخبار كثيرة ومعلومات أو ثقافة لكن لا يستطيع أنْ يتكلم بوضوحٍ في مسألة عقدية، أو في مسألة فقهية

    “Maka barangsiapa mencari (dan memberi perhatian besar kepada) ilmu Penunjang dan meninggalkan ilmu Inti, maka ia tidakakan menguasai (ilmu Syari’at dengan baik), yang ada hanyalah ia memiliki kabar dan info-info atau wawasan (keislaman) semata, akan tetapi tidak mampu (secara ilmiyyah) berbicara dengan jelas (sistematis) dalam masalah Aqidah atau Fikih (Ilmu Inti).” 5

    Wallahu a’lam.

    ***

    Referensi:

    Diolah dari transkrip Muhadharah Syaikh Shaleh Alusy Syaikh hafizhahullah, berjudul Al-Manhajiyyah fi qira`ati kutubi Ahlil ‘Ilmi, dari http://saleh.af.org.sa/node/28 dan Al-Farqu bainal ‘Uqod wal Mulah, http://saleh.af.org.sa/node/45.

    Catatan kaki

    2 . http://saleh.af.org.sa/node/45

    4 . http://saleh.af.org.sa/node/28

    Sumber: https://muslim.or.id/24722-skala-prioritas-dalam-belajar-agama-islam-4-ilmu-inti-dan-ilmu-penunjang.html

Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (2)

Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (2)

  • Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du :

    Setelah dijelaskan tentang definisi ilmu Fardhu ‘Ain, maka pada bagian kedua ini Anda akan diajak memahami tentang macam-macam ilmu Fardu ‘Ain , agar Anda bisa mengenal kewajiban Anda dalam mempelajari agama Islam.

    Pembagian ilmu Fardu ‘ain

    Berkata Syaikh Muhammad Sholeh Al-‘Utsaimin rahimahullah mendefinisikan ilmu fadhu ‘ain :

    وضابطه أن يتوقف عليه معرفة عبادة يريد فعلها أو معاملة يريد القيام بها , فإنه يجب عليه في هذه الحال أن يعرف كيف يتعبد الله بهذه العبادة , وكيف يقوم بهذه المعاملة , وما عدا ذلك من العلم ففرض كفاية

    Dan patokannya (ilmu fardhu ‘ain) adalah suatu ilmu yang menjadi syarat bisa terlaksananya (dengan benar) sebuah ibadah yang hendak dilakukan oleh seorang hamba atau mu’amalah (aktifitas dengan orang lain) yang hendak dikerjakannya, maka pada keadaan ini wajib ia mengetahui (ilmu tentang )bagaimana beribadah kepada Allah dengan ibadah itu, dan (ilmu tentang )bagaimana bermu’amalah dengan aktifitas mu’amalah itu. Adapun ilmu-ilmu selain itu, adalah ilmu fardhu kifayah”1

    Dari keterangan di atas kita ketahui bahwa ruang lingkup ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap muslim dan muslimah adalah perkara yang berkaitan dengan ibadah,yaitu hubungan manusia dengan Allah, dan mu’amalah, yaitu hubungan manusia dengan manusia yang lain.

    Padahal, sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa diantara bentuk-bentuk ibadah dan mu’amalah, ada yang sebagiannya sama-sama wajib dilakukan oleh setiap orang , namun ada juga bentuk ibadah dan mu’amalah yang hanya mampu dilakukan oleh sebagian orang saja tanpa sebagian orang yang lain atau hanya sebagian orang saja yang berkepentingan untuk segera melakukannya ketika itu, sehingga hanya sebagian orang tersebut saja yang wajib mempelajari hukum-hukumnya, adapun bagi yang lain, tidaklah wajib mempelajarinya.

    Oleh karena itu, dari penjelasan Syaikh Muhammad Sholeh Al-‘Utsaimin rahimahullah di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu Fardu ‘ain terbagi menjadi dua:

    1. Jenis ilmu Fardu ‘ain yang harus dipelajari oleh seluruh mukallafiin (orang-orang yang baligh dan berakal sehat )dimanapun mereka berada dan kapanpun juga.

    Jenis ilmu Fardu ‘ain inilah yang disebutkan contoh-contohnya oleh Imam Ahmad,An-Nawawi dan Ulama Lajnah Daimah KSA rahimahumullah, yang sudah dinukilkan fatwanya di artikel bagian ke-1, seperti :

    Mengetahui tauhid dan kebalikannya,yaitu syirik, pokok-pokok keimanan (Rukun Iman) dan Rukun Islam, hukum-hukum sholat, tatacara wudhu`, bersuci dari junub, dan yang semisalnya dan termasuk juga dalam jenis ini, yaitu mengetahui perkara-perkara yang diharomkan dalam Islam,seperti dalam masalah makanan,minuman,pakaian,kehormatan,darah,harta,ucapan dan perbuatan.

    2. Jenis ilmu Fardu ‘ain yang harus dipelajari oleh sebagian mukallafiin saja, yang memiliki kewajiban tertentu yang khusus baginya.

    Sehingga orang lain yang tidak memiliki kewajiban tersebut, tidak harus mempelajari ilmu itu.

    Penjelasan :

    Jenis ilmu Fardu ‘ain yang satu ini, contoh-contohnya diantaranya adalah :

    • Ilmu tentang suatu ibadah tertentu bagi orang yang mampu mengerjakannya.Berkata Syaikh Muhammad Sholeh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan contoh-contoh ilmu fardhu ‘ain:

      من كان عنده مال أن يتعلم أحكام الزكاة ……. من أراد أن يحج أن يتعلم أحكام الحج لأن هذه عبادات متلقاة من الشرع فلابد أن يعلم كيف شرعها الشارع ليعبد الله على بصيرة

      Orang yang memiliki harta wajib mempelajari hukum-hukum zakat…….. demikian pula orang yang hendak menunaikan ibadah haji, wajib baginya mempelajari hukum-hukum haji, karena ibadah itu sumbernya adalah Syari’at, maka wajib mempelajari tata cara ibadah yang disyari’atkan oleh Allah, agar seseorang bisa beribadah kepada-Nya berdasarkan ilmu 2

    • Ilmu tentang pekerjaan, profesi atau tugas, agar bisa menunaikan kewajiban pekerjaannya dan agar terhindar dari melakukan keharoman dalam pekerjaannya. Berkata Ibnu Hazm rahimahullah :

      ثم فرض على قواد العساكر معرفة السِّير وأحكام الجهاد وقَسْم الغنائم والفيء. ثم فرض على الأمراء والقضاة تعلم الأحكام والأقضية والحدود، وليس تعلم ذلك فرضا على غيرهم

      .Selanjutnya, diwajibkan bagi para komandan pasukan untuk mengetahui ilmu tentang strategi mobilitas pasukan, hukum-hukum jihad, pembagian rampasan perang dan fai`.
      Diwajibkan pula bagi para pejabat pemerintahan dan hakim untuk mempelajari hukum-hukum fikih peradilan dan hukuman hudud, akan tetapi mempelajari hal itu tidak wajib bagi selain mereka.3

    • Ilmu tentang mu’malah (aktivitas) yang hendak dilakukannya, agar bisa menghindari larangan yang haram dilakukan dan bisa menunaikan kewajibannya terhadap pihak lain. Berkata Syaikh Muhammad Sholeh Al-Munajjid rahimahullah memberi contoh ilmu-ilmu yang termasuk fardhu ‘ain :

      ومن ذلك تعلم أحكام البيع والشراء لمن أراد أن يتعامل بذلك ، وكذا أحكام النكاح والطلاق والأطعمة والأشربة وغيرها من المعاملات لمن أراد الإقدام على شيء منها

      Dan yang termasuk ilmu fardhu ‘ain adalah mempelajari hukum-hukum jualbeli bagi orang yang hendak melakukan aktifitas jualbeli, demikian pula hukum-hukum nikah, thalaq, makanan, minuman dan mu’amalah selainnya, bagi orang yang hendak melakukan salahsatu bentuk mu’amalah tersebut 4

    • Ilmu tentang hukum suatu kejadian kontemporer bagi yang mengalaminya. Berkata An-Nawawi rahimahullah:

      ويجب عليه الاستفتاء إذا نزلت به حادثة يجب عليه علم حكمها فإن لم يجد ببلده من يستفتيه وجب عليه الرحيل إلى من يفتيه وإن بَعُدت داره، وقد رحل خلائق من السلف في المسألة الواحدة الليالي والأيام

      “Wajib baginya (seseorang yg tidak tahu hukum suatu kejadian-pent) untuk meminta fatwa, jika mengalami kejadian kontemporer yang harus diketahui hukumnya. Jika di negrinya tidak didapatkan orang yang mampu berfatwa, maka wajib baginya pergi kepada orang yang mampu berfatwa walaupun jauh dari rumahnya. (Di dalam sejarah) beberapa orang Salaf dahulu pergi mencari ilmu tentang satu masalah sampai selama berhari-hari”5.

    2. Ilmu Fardhu Kifayah

    Yaitu sebuah ilmu yang jika sudah ada sebagian kaum muslimin yang mempelajarinya dengan mencukupi,maka gugurlah kewajiban tersebut atas seluruh kaum muslimin yang lainnya, namun disunnahkan bagi kaum muslimin yang lainnya tersebut untuk mempelajarinya.

    Berikut nukilan perkataan An-Nawawi rahimahullah :

    ( القسم الثاني ) فرض الكفاية ، وهو تحصيل ما لا بد للناس منه في إقامة دينهم من العلوم الشرعية ، كحفظ القرآن ، والأحاديث ، وعلومهما ، والأصول ، والفقه ، والنحو ، واللغة ، والتصريف ، ومعرفة رواة الحديث ، والإجماع ، والخلاف ، وأما ما ليس علما شرعيا ، ويحتاج إليه في قوام أمر الدنيا كالطب ، والحساب ففرض كفاية أيضا

    “Jenis Ilmu yang kedua adalah ilmu Fardu Kifayah, yaitu ilmu yang dibutuhkan manusia demi tegaknya agama mereka yang sifatnya harus ada, yaitu berupa ilmu-ilmu Syari’at, seperti : menghafal Alquran, Hadits dan ilmu Hadits, ilmu Ushul, Fikih, Nahwu, Bahasa Arab, Shorof, ilmu perowi Hadits, Ijma’ dan perselisihan Ulama.

    Adapun ilmu yang bukan ilmu Syari’at, namun dibutuhkan untuk tegaknya urusan dunia, seperti kedokteran dan matematika, maka ini termasuk ilmu Fardhu Kifayah juga6.

    Dengan demikian ilmu Fardhu Kifayahpun terbagi menjadi dua, yaitu yang terkait dengan ilmu-ilmu Syar’i dan yang terkait dengan ilmu-ilmu dunia.

    Wallahu a’lam. Selanjutnya, silahkan baca: Mengenal skala prioritas dalam belajar agama Islam (3)

    ***

    Referensi :
    1. Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab,An-Nawawi (Pdf,Waqfeya.com).
    2. Islamqa.info/ar/47273
    3. http://www.ibnothaimeen.com/all/khotab/article_98.shtml
    4. Al-Ihkam, Ibnu Hazm. (Pdf, Waqfeya.com)
    Catatan kaki:

    1. Kitabul Ilmi, Muhammad Sholeh Al-‘Utsaimin hal. 23

    3 Al-Ihkam 5/122, Ibnu Hazm. (Pdf, Waqfeya.com)

    4. Islamqa.info/ar/47273

    5 Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab,An-Nawawi,hal.91 (Pdf,Waqfeya.com)

    Sumber: https://muslim.or.id/24689-skala-prioritas-dalam-belajar-agama-islam-2-ilmu-fardhu-ain-dan-ilmu-fardhu-kifayah.html

Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (1)

Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (1)

  • Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:

    Dahulu, Disiplin Ilmu Syari’at Hanya Satu Titik1

    Syari’at adalah seluruh ajaran yang Allah tetapkan untuk hamba-hamba-Nya, baik berupa aqidah, ‘amaliyyah, ataupun akhlak.

    Dulu, disiplin Ilmu syari’at tidaklah banyak jumlahnya, namun setelah banyaknya orang-orang yang tidak berilmu, kemudian para ulama mencetuskan berbagai cabang disiplin ilmu syari’at untuk memudahkan mereka memahami syari’at Islam ini. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu:

    العلم نقطة كثرها الجاهلون

    “Ilmu syari’at dahulu hanyalah satu titik saja (sedikit), namun diperbanyak oleh orang-orang yang tidak berilmu.”

    Pada dasarnya, disiplin ilmu syari’at yang dipahami para sahabat radhiallahu ‘anhum sedikit pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu pemahaman tentang Al-Qur`an dan As-Sunnah itu saja. Namun di zaman Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu bertambah banyak cabang-cabang disiplin ilmu yang dicetuskan, dibandingkan zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Demikianlah, semakin jauh suatu kaum dari zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semakin banyak pula ketidaktahuan (jahl) terhadap ilmu syar’i dan orang-orang yang tidak berilmu (jaahiluun) terhadap ilmu syar’i. Ketika itu, mereka membutuhkan penjelasan ilmiyyah yang lebih detail dan banyak. Semakin hari, semakin banyak pula dicetuskan cabang-cabang disiplin ilmu syari’at oleh para ulama agar orang-orang yang tidak berilmu (jaahiluun) bisa memahami agama Islam ini dengan benar.

    Oleh karena itulah, ditulis ratusan ribu kitab para ulama rahimahumullah dari berbagai cabang disiplin ilmu syari’at, hal ini sesungguhnya tidaklah menunjukkan bahwa jumlah disiplin ilmu syari’at itu adalah sebanyak jumlah kitab-kitab para ulama tersebut. Asal ilmu Syari’at tetaplah Al-Qur`an dan As-Sunnah saja, namun karena tuntutan keadaanlah, ulama menuliskan kitab-kitab yang di zaman dulu tidak dibutuhkan oleh masyarakat salaf, karena salaf memahami dengan baik ilmu-ilmu yang dituliskan oleh ulama sekarang.

    Sekarang kita membutuhkan sesuatu yang tidak dibutuhkan di zaman dahulu, misalnya syarah (penjelasan) kitab Al-Wasithiyyah, kitab ini sekarang kita butuhkan. Kelak pada generasi anak-anak kita, bisa jadi mereka membutuhkan syarah dari syarah kitab Al-Wasithiyyah, dan pada generasi cucu-cucu kita, bisa jadi pula mereka membutuhkan syarah dari syarah dari syarah kitab Al-Wasithiyyah. Demikian pula dari ilmu-ilmu alat, jika kita sekarang membutuhkan ilmu-ilmu semisal ushul fikih, ushul tafsir, qawa’id fiqhiyyah, dan yang semacamnya, maka bukan hal mustahil satu abad yang akan datang, muncullah ilmu-ilmu cabang yang lebih spesifik sebagai perincian dari ilmu-ilmu alat tersebut.

    Pembagian Ilmu Syari’at Islam

    Ilmu Syari’at ditinjau dari sisi kewajiban mempelajarinya, Terbagi Dua, yaitu: Ilmu Fardhu ‘ain dan Ilmu Fardhu Kifayah

    1. Ilmu Fardu ‘Ain

    Berikut penuturan para ulama besar rahimahumullah tentang Ilmu fardu ‘ain:

    An-Nawawi rahimahullah, dalam kitabnya Al-Majmu’ syarhul Muhadzzab membagi ilmu syar’i menjadi tiga macam fardhu ‘ain, fardhu kifayah, dan sunnah. Beliau mengatakan,

    باب أقسام العلم الشرعي هي ثلاثة

    الأول فرض العين: وهو تعلم المكلَّف مالا يتأدى الواجب الذي تعين عليه فعله إلا به ككيفية الوضوء والصلاة ونحوهما وعليه حمل جماعات الحديث المروي في مسند أبي يعلى الموصلي عن أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم : طلب العلم فريضة على كل مسلم

    “Bab Macam-macam Ilmu Syar’i Ada Tiga. Pertama, fardhu ‘ain, yaitu seorang mukallaf (baligh dan berakal sehat) mempelajari ilmu yang ia tidak bisa memenuhi kewajibannya kecuali dengan mengetahuinya, seperti tata cara wudhu`, shalat, dan yang selain keduanya. Sekelompok ulama membawakan kepada makna ini (ilmu fardhu ‘ain) dalam menafsirkan sebuah Hadits yang diriwayatkan di musnad Abu Ya’la Al-Mushili dari Anas dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,

    طلب العلم فريضة على كل مسلم

    “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim,”2.

    Demikian pula Ulama Lajnah Daimah KSA menjelaskan tentang maksud ilmu fardhu ‘ain, yaitu:

    العلم الشرعي على قسمين : منه ما هو فرض على كل مسلم ومسلمة ، وهو معرفة ما يصحح به الإنسان عقيدته وعبادته ، وما لا يسعه جهله ، كمعرفة التوحيد ، وضده الشرك ، ومعرفة أصول الإيمان وأركان الإسلام ، ومعرفة أحكام الصلاة ، وكيفية الوضوء ، والطهارة من الجنابة ، ونحو ذلك ، وعلى هذا المعنى فسِّر الحديث المشهور: ( طلب العلم فريضة على كل مسلم )

    Ilmu syar’i terbagi menjadi dua, di antaranya adalah ilmu yang wajib diketahui oleh setiap muslim dan muslimah, yaitu ilmu yang menyebabkan sahnya aqidah dan ibadah seseorang dan tidak boleh seseorang tidak tahu tentang ilmu tersebut. Contohnya adalah mengetahui tauhid dan lawannya, yaitu syirik, pokok-pokok keimanan (rukun iman) dan rukun Islam, hukum-hukum shalat, tata cara wudhu`, bersuci dari junub, dan yang semisalnya. Oleh karena itu, hadits yang terkenal ini (menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim) ditafsirkan dengannya (ilmu fardhu ‘ain)”3.

    Imam Ahmad rahimahullah berkata,

    يجب أن يطلب من العلم ما يقوم به دينه، قيل له مثل أي شيء؟ قال: الذي لا يسعه جهله: صلاته و صيامه، و نحو ذلك

    “Menuntut ilmu yang menjadi landasan tegaknya agama adalah wajib”. Beliau ditanya, ‘Contohnya apa?’ Beliau menjawab, “Ilmu yang harus diketahuinya, seperti tentang sholat dan puasanya, serta yang semisal itu”. 4

    Imam Malik rahimahullah ketika ditanya tentang menuntut ilmu, beliau menjawab,

    كله خير و لكن انظر إلى ما تحتاجه في يومك و ليلتك فاطلبه

    Semuanya baik, akan tetapi lihatlah kepada ilmu yang engkau butuhkan sehari semalam, maka carilah ilmu tersebut!5

    Pernyataan para ulama besar di atas sebenarnya terdapat tiga pelajaran besar, yaitu:

    1. Inti definisi ilmu fardhu ‘ain :
      Ilmu yang jika tidak diketahui oleh seorang hamba, menyebabkannya tidak bisa menunaikan kewajibannya, sehingga ia terjatuh ke dalam dosa. Dengan kata lain, seseorang jika tidak mempelajari ilmu fardhu ‘ain, akan terjatuh kedalam dua kemungkinan:

      1. Tidak bisa melaksanakan perintah Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib dilaksanakan sehingga berdosa.

      2. Melakukan larangan Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib ditingalkan (yang haram dilakukan), sehingga berdosa pula.

    2. Isyarat kepada skala prioritas, bahwa ilmu yang kita butuhkan dalam keseharian berupa ilmu tentang iman dan tauhid (keyakinan yang benar), serta ibadah (amal yang sah), inilah yang harus kita dahulukan dibandingkan dengan selainnya dari ilmu ushul fikih, qawa’idut tafsir, dan selainnya dari ilmu-ilmu fardhu kifayah.

    3. Ulama dari dulu telah menjelaskan tentang adanya jenis ilmu yang hukum mempelajarinya fardhu ‘ain, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

      طلب العلم فريضة على كل مسلم

      Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim” (HR. Ibnu Majah. Hadits ini dihasankan oleh As-Suyuthi, Adz-Dzahabi dan disebutkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah).
      Dan juga berdasarkan kaidah:

      ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

      Suatu perkara yang sebuah kewajiban tidak bisa terlaksana kecuali dengannya,maka hukum perkara tersebut juga wajib”.

    Wallahu a’lam. Selanjutnya, silahkan baca artikel Skala Prioritas dalam Belajar Agama Islam (2).

    ***

    Referensi :
    Catatan kaki

    1 Transkrip Muhadharah Syaikh Shaleh Alusy Syaikh hafizhahullah, berjudul : “Al-Manhajiyyah fi qira`ati kutubi Ahlil ‘Ilmi”, dari http://saleh.af.org.sa/node/28)

    2  Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, An-Nawawi, hal. 49 (Pdf,Waqfeya.com)

    4 Hushulul Ma`mul bi syarh Tsalatsatil Ushul, Syaikh Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah

    Sumber: https://muslim.or.id/24642-skala-prioritas-dalam-belajar-agama-islam-1-ilmu-fardhu-ain.html

Beginilah Cara Mempelajari Kitab Para Ulama (4)

Beginilah Cara Mempelajari Kitab Para Ulama (4)

  • Pada artikel bagian ketiga, telah dijelaskan dua kaidah dari empat kaidah umum dalam mempelajari kitab ulama. Nah, pada artikel ini kami tuliskan dua kaidah selanjutnya, yaitu:Kaidah Ketiga: Menguasai bahasa ilmiyyah ulama rahimahumullah yang digunakan dalam kitab-kitab mereka dan melatih diri menggunakannya dalam mengungkapkan permasalahan ilmiyyah.

    Setiap disiplin ilmu memiliki bahasa, lafadz, kosakata, dan istilah ilmiyyah tersendiri. Para ulama rahimahumullah menggunakan bahasa ilmiyyah tersebut dalam menulis kitab-kitab mereka. Jadi, maksud “bahasa ilmiyyah” disini meliputi seluruh lafadz-lafadz ilmiyyah yang digunakan para ulama untuk menjelaskan suatu disiplin ilmu syar’i tertentu, yang mana disiplin ilmu tersebut tidak bisa dipahami dengan baik kecuali dengannya.

    Kitab-kitab Ulama dalam berbagai disiplin ilmu syar’i memiliki bahasa ilmiyyah masing-masing. Seperti disiplin ilmu tauhid, memiliki istilah-istilah dan lafadz-lafadz khusus yang tidak didapatkan di kitab-kitab dalam disiplin ilmu syar’i lainnya, demikian pula disiplin ilmu fikih, nahwu, dan yang lainnya, masing-masing memiliki istilah-istilah dan lafadz-lafadz khusus yang dipakai Ulama dalam menjelaskan ilmu-ilmu tersebut.

    Sebagai Contoh:

    Bahasa Ulama dalam disiplin ilmu tauhid, seperti istilah-istilah kamalut tauhid, kufur, nifaq, ‘Ubudiyyah, dan perbedaan muwalah dan tawalli serta antara nafyul ashlul iman dengan kamalul iman. Bahasa ulama dalam disiplin ilmu fikih dan ushul fikih, seperti istilah-istilah perbedaan antara karahah littanzih dengan littahriim, antara syuruth dengan arkaan, fasaad, shihhah, dan tahqiiqul manaath.

    Bahkan tidak jarang seorang imam tertentu memiliki bahasa ilmiyyah khas tersendiri, misalnya Imam Ahmad rahimahullah memiliki lafadz-lafadz khusus seperti laa yashluhu atau Astaqbihuhu, maksudnya adalah mengharamkan. Jika beliau mengucapkan laa yanbaghi, maka maksudnya adalah terkadang mengharamkan, namun terkadang memakruhkan saja. Jika beliau mengucapkan laa yu’jibuni atau laa uhibbuhu, maka maksudnya adalah memakruhkan. Jika beliau menjawab pertanyaan seorang penanya dengan kalimat yuf’alu kadza ihthiyaathan, maka maksudnya adalah mewajibkan.

    Akibat Tidak Menguasai Bahasa Ilmiyyah Tersebut

    Barangsiapa yang memahami kitab-kitab Ulama tidak dengan menggunakan bahasa mereka, namun misalnya, dengan menggunakan bahasa budaya modern, bahasa media masa, dan bahasa serapan asing, maka ia akan menemui kesalahpahaman yang banyak dalam menyimpulkan isi dari kitab-kitab tersebut. Bahkan perkara yang haram, bisa dipahami sebagai suatu yang mubah, atau yang haram jadi makruh saja. Atau perkara bid’ah menjadi sunnah, bahkan syirik bisa menjadi tauhid.

    Kaidah Keempat: Mencatat dan membukukan faidah-faidah yang sangat penting, baik dari kitab-kitab muthowwalah, mutawassithoh, maupun mukhtashoroh.

    Dalam aktifitas mempelajari kitab-kitab Ulama, jika hanya sebatas membaca saja, tanpa mencatat dan membukukan catatan tersebut dalam buku catatan tersendiri, tidaklah cukup. Hal itu tidak banyak manfa’atnya. Berapa banyak kita dapatkan para Ulama menulis kitab-kitab ringkasan kitab ini dan itu, talkhish ini, serta taqrib itu? Mengapa demikian? Apakah tujuan mereka menulis kitab ringkasan dari kitab Ulama sebelumnya hanya sebatas ingin tulisan yang ringkas saja, sehingga lebih mudah dipahami dan dihafal? Tidaklah demikian.

    Di dalam aktifitas meringkas terdapat faidah lain selain faidah di atas, yaitu ringkasan mencerminkan pemahaman peringkas. Jika Ulama saja merasa perlu menuangkan pemahaman mereka terhadap kitab-kitab Ulama sebelum mereka, dengan cara menulis ringkasannya, bagaimana lagi dengan tholibul ‘ilmi (para penuntut ilmu syar’i)? Tentu ia lebih butuh untuk melatih dan menguji pemahamannya terhadap kitab-kitab Ulama dengan cara mencatat, meringkas dan membukukannya.

    Maksudnya seorang tholibul ‘ilmi jika ingin sukses dalam mempelajari kitab-kitab Ulama, maka ia perlu mencatat faidah-faidah ilmiyyah yang didapatkan dari kitab-kitab tersebut, ia tulis faidah-faidah ilmiyyah itu dalam buku catatan tersendiri, baik faidah-faidah ilmiyyah itu diambil dari kitab-kitab mukhtashoroh, mutawassithoh, maupun muthowwalah.

    Bentuk catatan faidah

    Seorang tholibul ‘ilmi bisa mencatat faidah-faidah itu dalam bentuk :

    1. Terkadang, karena tuntutan keadaan, cukup ia tulis dalam bentuk kata-kata singkatan yang bisa dipahami terlebih dahulu, jika ada waktu senggang nantinya, maka ia tulisnya kembali dengan rinci.
    2. Terkadang, langsung ia tulis dengan rinci faidah-faidah tersebut.
    3. Terkadang pula ia meringkas penjelasan Ulama dalam suatu bab ilmiyyah tertentu, sehingga menjadi ringkasan kitab ini dan itu.
    4. Terkadang pula ia tulis faidah-faidah ilmiyyah tersebut dalam bentuk daftar isi di sebuah buku catatan tersendiri, dan ia kelompokkan daftar isi tersebut dalam sebuah nama bab tersendiri, sesuai kelompok faidah, misalnya daftar isi bab kelompok faidah tentang lugoh, bab kelompok faidah tentang perbedaan, bab kelompok faidah tentang pembagian, kelompok faidah tentang definisi, dan lainnya.
    Faidah Menerapkan Kaidah Umum Ini

    Faidah yang banyak akan dapat diraih dengan menerapkan kaidah umum ini, diantaranya:

    1. Tholibul ‘Ilmi memungkinkan sewaktu-waktu memuroja’ah (mengulang kembali mempelajari) ilmu-ilmu yang telah ia baca dari kitab-kitab Ulama.
    2. Jika ia menerapkan kaidah ini dengan baik, maka ilmu-ilmu sesudahnya –in sya Allah– akan lebih mudah ia pahami.
    3. Kemampuan mengungkapkan permasalahan ilmiyyah dengan bahasa ilmiyyah yang singkat padat dan tidak berbelit-belit lewat tulisan, semakin meningkat. Karena semakin hari catatan-catatan ilmiyyahnya semakin meningkat kualitasnya. Dari mulai ia mampu menuliskan faidah-faidah yang sederhana sampai akhirnya mampu menulis faidah-faidah yang sulit dan tinggi, sehingga kemampuan ilmiyyahnya meningkat!
    4. Ketika ia mengetahui bahwa sebagian pemahaman dirinya di masa silam adalah salah, maka ia pun dengan mudah bisa membenarkannya, karena ditemukan catatannya tentang hal itu.
    5. Mengenal dengan akrab bahasa ilmiyyah para ulama dalam berbagai disiplin ilmu Syar’i.

     

    Wa shallallahu wa sallama ‘ala Nabiyyina Muhammad, wal hamdulillahir Rabbil’alamin.

    ***

    Referensi:
    1. Diolah dari transkrip Muhadharah Syaikh Shaleh Alusy Syaikh hafizhahullah, berjudul :“Al-Manhajiyyah fi qira`ati kutubi Ahlil ‘Ilmi”, dari http://saleh.af.org.sa/node/28).
    2. Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, Syaikh Muhammad Shaleh Al-‘Utsaimin.
    3. Transkrip muhadhoroh syarah Tsalaatsatil Ushul, Syaikh Sholeh Alusy Syaikh.

    Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

    Artikel Muslim.Or.Id

    Sumber: https://muslim.or.id/24607-beginilah-cara-mempelajari-kitab-para-ulama-4.html

Fatwa Ulama: Kapan Jari Telunjuk Diturunkan Dalam Tasyahud Akhir?

Fatwa Ulama: Kapan Jari Telunjuk Diturunkan Dalam Tasyahud Akhir?

  • Fatwa Syaikh Shalih Al Munajjid

    Soal:

    Di tengah-tengah tasyahhud saat seseorang selesai mengucapkan shalawat Ibrahimiyyah apakah jari telunjuk selayaknya tetap diangkat hingga imam selesai salam atau ia boleh membuka genggamannya (menurunkan jari telunjuknya-pent) dan meletakkan (telapak tangan)nya di atas pahanya langsung begitu selesai dari shalawat Ibrahimiyyah? Jazakumullah Khaira.

    Jawab:

    Alhamdulillah.

    Pertama, dalam sunnah nabawiyyah tentang penjelasan tata cara shalat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat syari’at mengangkat jari telunjuk dalam shalat dan telah disebutkan perincian penjelasan tentang hal itu disertai dalil-dalilnya di web kami, yaitu jawaban no. 7570 dan 11527.

    Kedua, para ahli fiqh sudah menyebutkan bahwa barangsiapa yang mengisyaratkan dengan jari telunjuk (mengangkatnya-pent) di bagian manapun asal masih dalam tasyahhud, maka berarti ia telah menunaikan sunnah ini (mengangkat jari telunjuk-pent) dan telah mengikuti petunjuk nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memunaikan shalatnya. Adapun yang menjadi pembahasan di sini adalah tempat diangkatnya, sedangkan ini adalah permasalahan afdhaliyyah saja.

    Tempat mulai mengangkat telunjuk dan perselisihan Ulama tentangnya

    Syaikh Ahmad Al-Barlisi ‘amiiratusy -Syafi’i (wafat 957 H), berkata, Dengan bentuk mengisyaratkan jari telunjuk yang manapun dari yang sudah disebutkan di atas (dalam kitab beliau-pent) seseorang yang melakukannya sudah terhitung mengamalkan sunnah tersebut. Adapun yang menjadi perselisihan ulama adalah sebatas mana yang afdhal”. Ucapannya selesai, diambil dari Hasyiah ‘Amiiroh (1/188). Lihat juga Al-Majmu’ tulisan An-Nawawi (3/434).

    Perselisihan dalam masalah afdhaliyyah ini adalah perkara ijtihad ulama yang (masing-masing pendapat) masih bisa dikatakan memiliki alasan ilmiyyah karena tidak adanya dalil yang jelas dan pasti dalam hal ini.

    Ada sebuah riwayat dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwa nabi shallallahu alaihi wa sallam saat duduk di dalam shalatnya meletakkan telapak tangan kanannya di atas lututnya dan mengangkat jari sebelah jempolnya (telunjuk-pent). Beliau berdo’a dengannya, sedangkan telapak tangan kirinya diletakkan di atas lutut yang satunya. Beliau membuka telapak tangan kiri tersebut dan diletakkan di atas lututnya. Imam At-Tirmidzi meriwayatkannya (no. 294) dan berkata, “Hadits Ibnu Umar ini hadits hasan gharib. Kami tidak mengetahuinya dari hadits Ubaidillah bin Umar kecuali dari sisi ini. Sebagian ulama dari kalangan sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tabi’in mengamalkannya. Mereka memilih isyarat jari telunjuk ketika tasyahhud dan pendapat ini adalah pendapat ulama madzhab kami”. Ucapannya selesai. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam kitab Shahih At-Tirmidzi.

    Sabda beliau (dan mengangkat jari sebelah jempolnya [telunjuk-pent] yang digunakan berdo’a oleh beliau) menunjukan bahwa mengangkat telunjuk dimulai ketika berdo’a dalam tasyahhud. Adapun lafadz do’a dimulai dari dua kalimat syahadat karena di dalamnya terdapat pengakuan dan penetapan kemahaesaan Allah ‘azza wa jalla, sedangkan hal itu sebab suatu do’a lebih berpeluang dikabulkan. Selanjutnya mulailah mengucapkan inti do’anya (Allahumma shalli ‘ala Muhammad) hingga akhir tasyahhud dan sampai akhir salam. Adapun awal tasyahhud (Attahiyyatulillah sampai ucapan kita wa ‘ala ‘ibadillahish shalihin) bukanlah termasuk do’a, namun itu adalah bentuk memuji Allah dan do’a kesalamatan bagi hamba-Nya.

    Riwayat-riwayat yang ada dari para sahabat dan tabi’in dalam masalah ini menunjukkan bahwa mengisyaratkan jari telunjuk maksudnya adalah isyarat kepada tauhid dan ikhlas. Jadi (isyarat), jari telunjuk tersebut hakikatnya adalah ungkapan dalam bentuk perbuatan tentang keimanan kepada Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu baginya, maka pantaslah jika awal isyarat telunjuk adalah lafadz syahadat (Asyhadu an laa ilaaha illallahu). Oleh karena itu Ibnu Abbbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Isyarat tersebut adalah ungkapan keikhlasan”.

    Ibrahim An-Nakha’i rahimahullah berkata, “Jika seseorang mengisyaratkan dengan jari (telunjuknya) dalam shalat, maka hal itu baik dan itu ungkapan tauhid”, diriwayatkan oleh Ibnu Syaibah dalam Mushannaf (2/368).

    Apa yang disebutkan di atas adalah salah satu pendapat di kalangan ahli fiqih, yaitu permulaan isyarat telunjuk saat syahadat tauhid.

    Adapun masalah kapan selesainya isyarat telunjuk tersebut, para sahabat yang meriwayatkan mengangkat jari telunjuk tidaklah menyebutkan nabi shallallahu alaihi wa sallam sallam menurunkannya (di bagian tertentu sebelum selesainya salam-pent), maka (dapat disimpulkan) bahwa mengangkat jari telunjuk itu terus sampai selesai salam, terlebih lagi akhir tasyahhud semuanya adalah do’a .

    Abu Abdillah Al-Khurasyi Al-Maliki (wafat th.1101 H) raimahullah berkata, “Dari awal tasyahhud hingga akhirnya, yaitu asyhadu an laa ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu dan sesuai dengan yang mereka sebutkan sampai selesai salam walaupun panjang tasyahhud tersebut”. Perkataanya selesai, diambil dari Syarhu Mukhtashor Kholil (1/288).

    Dan ulama syafi’iyyah menyetujui mereka, yaitu isyarat telunjuk ketika syahadatain, akan tetapi mereka memberikan penjelasan tambahan secara rinci dan detail yang barangkali tidak ditemukan dalilnya. Mereka mengatakan, “Permulaan mengangkat jari telunjuk adalah ketika sampai pengucapan huruf hamzah dari ucapannya di syahadatain, yaitu (illlallah).

    Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Dari semua ucapan dan sisi pandang tersebut dapat disimpulkan bahwa, disunnahkan mengisyaratkan telunjuk tangan kanannya lalu mengangkatnya ketika sampai huruf hamzah dari ucapannya (Laa ilaaha illalllahu)”. Perkataannya selesai, diambil dari kitab Al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab (3/434).

    Imam Ar-Ramli Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Mengangkatnya saat ucapannya (illallah), yaitu mulai mengangkatnya ketika pengucapan hamzah; untuk mengikuti riwayat Imam Muslim dalam masalah tersebut. Hal itu nampak atau jelas menunjukkan bahwa jari telunjuk tetap diangkat sampai (sesaat sebelum) berdiri (ke raka’at ke tiga pada tasyahhud awal-pent) atau sampai salam (pada tasyahhud akhir-pent). Adapun yang dibahas sekelompok orang zaman sekarang tentang mengembalikannya, maka ini menyelisihi penukilan. Ucapannya selesai, diambil dari Nihayatul Muhtaj (1/522).

    Ada juga di antara ulama yang mengatakan bahwa isyarat telunjuk tersebut dimulai dari awal tasyahhud. Semua tasyahhud hakikatnya adalah do’a dan terdapat suatu riwayat dalam hadits bahwa beliau berdo’a dengannya. Adapun di awal tasyahhud (Attahiyyaatulillaah) ini adalah pujian mengawali do’a, maka hakikatnya pujian tersebut termasuk bagian do’a dan bukan keluar dari bagian do’a.

    Syaikhul Islam rahimahullah berkata, Disunnahkan isyarat telunjuk dalam tasyahhud dan do’a” (Ikhtiyaraat, /38).

    Dalam fatwa Lajnah Daimah (7/56), “Isyarat telunjuk sepanjang tasyahhud dan menggerakkannya saat do’a serta menggenggam jari jemari (selain telunjuk-pent) terus dilakukan sampai (selesai) salam”.

    Yang jelas, permasalahan ini adalah masalah ijtihadiyyah khilafiyyah dan berbagai pendapat dalam masalah ini terkait dengan salah satu cabang kecil dari masalah shalat. Tidak mengapa seseorang menyelisihi ijtihad ini dan mengikuti pendapat yang dia pandang kuat dalam masalah ini dengan berdasarkan ilmu.

    Terdapat juga fatwa Lajnah Daimah (5/368), “Mengangkat telunjuk dalam tasyahhud adalah sunnah dan hikmahnya adalah isyarat kepada kemahaesaan Allah. Jika ia mau silahkan menggerakkannya (telunjuk-pent), jika tidak, maka (tidaklah mengapa) tidak menggerakkannya. Permasalahan ini tidak mengharuskan perpecahan dan permusuhan di antara para penuntut ilmu. Seandainya ia tidak mengangkatnya pun atau mengangkatnya namun tidak menggerakkkannya tidaklah mengapa karena masalah ini adalah masalah mudah tidaklah mengharuskan pengingkaran dan (saling) menjauh, namun sunnahnya adalah mengangkatnya di kedua tasyahhud sekaligus sampai seseorang (selesai) salamnya sebagai isyarat kepada tauhid. Adapun menggerakkannya, maka ketika berdo’a sebagaimana yang ditunjukkan sunnah yang shohihah.” Selesai fatwa ini, diambil dari Fatawal Lajnah (5/368).

    Lihat jawaban dari pertanyaan nomor 7570.

    Wallahu a’lam.

    Sumber : http://Islamqa.info/ar/165999

    Penyusun: Ustadz Sa’id

    Artikel Muslim.Or.Id

    Sumber: https://muslim.or.id/23658-fatwa-ulama-kapan-jari-telunjuk-diturunkan-dalam-tasyahud-akhir.html

Apakah Orang yang Berbuka Puasa Tetap Dianjurkan Menjawab Adzan?

Apakah Orang yang Berbuka Puasa Tetap Dianjurkan Menjawab Adzan?

Bagi seseorang yang berpuasa, menyegerakan berbuka adalah sunnah ketika waktu berbuka tiba. Hampir setiap kali seseorang yang sedang menikmati hidangan buka mendengar azan. Apakah mereka tertuntut untuk menjawab azan tersebut. Berikut adalah fatwa Syaikh Muhammad Shaleh Al-Utsaimin rahimahullah tentang hal ini.

Pertanyaan

Apakah ada do’a yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat waktu berbuka? Kapan waktunya? Serta apakah seseorang yang berpuasa mengikuti (ucapan) Mu`adzdzin dalam adzan atau meneruskan aktifitas buka puasanya?

Jawaban

Kami menjawab: Waktu berbuka puasa adalah waktu dikabulkannya do’a karena waktu tersebut berada di akhir ibadah puasa. Di samping itu juga karena seseorang biasanya berada pada keadaan yang paling lemah ketika ia berbuka, maka setiapkali seseorang berada pada keadaan yang paling lemah dan paling lembut hatinya, ia lebih dekat dengan sikap kembali dan tunduk kepada Allah ‘Azza wa Jalla . Di antara do’a yang diajarkan adalah

اللهم لك صمت، وعلى رزقك أفطرت

Ya Allah untuk-Mu lah puasaku ini dan dengan rezeki-Mu lah, saya berbuka puasa.

ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

“Telah hilang rasa haus dan menjadi basahlah urat-urat, serta telah tetap pahalanya, in sya Allah.”

Kedua hadits ini, walau memiliki sisi lemah, namun sebagian ulama menyatakan keduanya berstatus hasan[1]. Bagaimanapun juga, jika engkau berdo’a dengan do’a tersebut atau dengan do’a selainnya ketika berbuka, maka hal itu termasuk waktu dikabulkannya do’a.

Adapun menjawab Mu`adzdzin dalam keadaan Anda sedang berbuka puasa, maka itu adalah sesuatu yang disyari’atkan karena sabda beliau ‘alahish shalatu was salam,

إذا سمعتم المؤذن فقولوا مثلما يقول

“Jika kalian mendengar mu`adzdzin (mengumandangkan adzan), maka katakan seperti apa yang ia katakan.”

Menjawab adzan mencakup seluruh keadaan kecuali yang tidak disyariatkan. Keadaan tersebut adalah jika seseorang sedang shalat lalu mendengar adzan mu’azin, maka ia tidak disyari’atkan menjawab mu`azin karena di dalam shalat ada kesibukan, sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Hanya saja Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahmatullah ‘alaihi berkata, “Bahwa seseorang tertuntut menjawab mu`azin walaupun sedang shalat berdasarkan keumuman hadits dan berdasarkan alasan bahwa menjawab mu`azin merupakan zikir yang disyari’atkan. Jika seseorang bersin, sedangkan ia sedang shalat, tidak mengapa mengucapkan alhamdulillah, demikian juga, kalau seandainya ia mendapatkan kabar gembira lahirnya anak atau suksesnya anak, sedangkan ia dalam keadaan menunaikan shalat,  lalu mengucapkan alhamdulillah, tidak mengapa mengatakan : Alhamdulillah. Jika Anda diserang godaan setan dan terbuka pintu waswas dalam hati Anda, lalu Anda memohon perlindungan kepada Allah (at-ta`awwudz billah), sedangkan Anda tengah menunaikan shalat maka tidak mengapa.

Oleh karena itu, dari sini kita ambil kaidah, yaitu setiap dzikir yang didapatkan sebabnya dalam shalat, maka (tidak mengapa) diucapkan”, karena dengan meneliti kejadian-kejadian ini, memungkinkan bagi kita untuk mengambil sebuah kaidah.

Akan tetapi masalah menjawab mu`azin –yang Syaikhul Islam berpendapat dengan pendapat di atasdi hatiku ada suatu ganjalan, mengapa? Karena  menjawab mu`azin itu lama waktunya, (hal ini) mengharuskan seseorang untuk sibuk di dalam shalatnya dengan kesibukan yang banyak, sedangkan shalat memiliki dzikir khusus yang tidak selayaknya seseorang tersibukkan darinya (dengan sesuatu yang lainnya).

Maka kami katakan:

Jika Anda sedang berbuka puasa lalu mendengar adzan, maka silahkan menjawab sang Mu`azin. Bahkan terkadang bisa kita katakan bahwa hal ini lebih besar lagi tuntutannya bagi Anda karena sekarang ini Anda sedang menikmati buka yang merupakan salah satu nikmat Allah, sedangkan kewajiban terhadap nikmat itu adalah bersyukur. Termasuk bentuk syukur adalah menjawab mu`azin walau Anda sedang makan, dan tidak mengapa dalam masalah ini, jika telah selesai dari menjawab mu`azin, maka bershalawatlah untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ucapkanlah

اللهم رب هذه الدعوة التامة، والصلاة القائمة، آت محمداً الوسيلة والفضيلة، وابعثه مقاماً محموداً الذي وعدته إنك لا تخلف الميعاد

“Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini (dakwah Tauhid) dan shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah (kedudukan di Surga), dan keutamaan. Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan padanya.” Sesungguhnya Engkau tidak pernah dan tidak akan menyelisihi janji” [2]

***

Majmu’ Fatawa wa Rasaa`il Asy- Syaikh Muhammad Shaleh Al-Utsaimin, jilid ke-19, kitab: Maa yukrahu wa yustabbu wa hukmul Qadhaa`.

Dinukil dari : ar.Islamway.net/fatwa/13198/

Catatan kaki

[1] Pembahasan lebih lengkap mengenai hal ini silakan simak artikel 12 Hadits Lemah dan Palsu Seputar Ramadhan

[2] Ulama Ahlul Hadits rahimahumullah berselisih pendapat tentang tambahan kalimat لا تخلف الميعاد, pendapat yang terkuat bahwa kalimat tambahan ini syaadz, sehingga tidak disyari’atkan untuk diucapkan. Wallahu a’lam.

___

Penyusun: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/25994-apakah-orang-yang-berbuka-puasa-tetap-dianjurkan-menjawab-adzan.html

Hakekat Puasa (4)

Hakekat Puasa (4)

Sesungguhnya bagi setiap ibadah terdapat hukum dan adab yang perlu diperhatikan oleh seorang hamba yang hendak menunaikannya. Terlebih lagi jika ibadah tersebut adalah ibadah yang sangat agung dan memiliki kekhususan tersendiri, seperti ibadah puasa yang sedang kita pelajari ini.

Al-‘Allamah Ahmad bin Abdir Rahman bin Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah, yang dikenal dengan nama Ibnu Qudamah, dalam kitabnya Mukhtashar Minhajil Qashidin mengatakan,

اعلم: أن في الصوم خصيصة ليست فى غيره، وهى إضافته إلى الله عز وجل حيث يقول سبحانه: “الصوم لى وأنا أجزى به” 1 ، وكفى بهذه الإضافة شرفاً، كما شرَّف البيت بإضافته إليه فى قوله: {وَطَهِّرْ بَيْتِيَ} (الحج: 26)

“Ketahuilah, bahwa puasa memiliki kekhususan yang tidak terdapat dalam ibadah yang lainnya, yaitu disandarkannya ibadah puasa ini kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yang mana Allah Subhanahu berfirman “Puasa adalah untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Cukuplah penyandaran ini sebagai sebuah kemuliaan, sebagaimana Allah telah memuliakan Al-Baitul Haram dengan menyandarkannya kepada-Nya dalam firman-Nya {وَطَهِّرْ بَيْتِيَ} Dan sucikanlah rumah-Ku (Al-Hajj: 26)”

وإنما فضل الصوم لمعنيين:

– أحدهما: أنه سرّ وعمل باطن، لا يراه الخلق ولا يدخله رياء.

– الثاني: أنه قهر لعدو الله، لأن وسيلة العدو الشهوات، وإنما تقوى الشهوات بالأكل والشرب، وما دامت أرض الشهوات مخصبة، فالشياطين يترددون إلى ذلك المرعى، وبترك الشهوات تضيق عليهم المسالك.

Sesungguhnya keutamaan puasa dikarenakan dua faktor:

  1. Puasa adalah ibadah yang dilakukan secara rahasia dan amal batin, (pada umumnya) makhluk tidak mengetahuinya dan ibadah tersebut tidak terkontaminasi riya`.
  2. Puasa itu mampu menaklukkan musuh Allah karena pintu masuk musuh Allah (menyimpangkan manusia) adalah syahwat, sedangkan syahwat menguat dengan makan dan minum. Selama lahan syahwat itu subur (syahwat dituruti), maka setan-setan pun hilir -mudik ke lahan santapannya tersebut. Dengan meninggalkan syahwat lah akan sempit jalan-jalan bagi mereka (setan-setan) (Mukhtashar Minhajil Qashidin, hal. 43 (PDF).

Tentunya suatu ibadah yang memiliki keistimewaan seperti itu sangat perlu untuk kita lakukan adabnya sebaik-baiknya. Apalagi jika telah kita ketahui bersama dalam artikel sebelumnya (bacalah artikel: Hakikat Puasa (3)), bahwa ibadah puasa memiliki beberpa tingkatan,  yang jelas tidaklah bisa diraih dengan sempurna tingkatan demi tingkatan itu, kecuali dengan melakukan adab-adabnya.

Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan sebagian dari adab-adab tersebut,

فمن آداب صوم الخصوص: غض البصر، وحفظ اللسان عما يؤذى من كلام محرم أو مكروه، أو ما لا يفيد، وحراسة باقي الجوارح. وفى الحديث من رواية البخارى، أن النبى صلى الله عليه وسلم قال: ” من لم يدع قول الزور والعمل به، فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه“

“Di antara adab puasa khusus adalah menundukkan pandangan, menjaga lisan dari ucapan haram yang menyakiti (orang lain) atau ucapan makruh (tidak dicintai oleh Allah) atau sesuatu yang tidak berfaidah, dan menjaga anggota-anggota tubuh lainnya (dari melakukan perbuatan haram atau makruh, pent.). Dalam Hadits dari riwayat Al-Bukhari, bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan yang haram, maka Allah tidak menginginkan aktifitas meninggalkan makan dan minum yang dilakukannya (puasanya)’.

ومن آدابه: أن لا يمتلئ من الطعام في الليل، بل يأكل بمقدار، فإنه ما ملأ ابن آدم وعاءً شراً من بطن. ومتى شبع أول الليل لم ينتفع بنفسه فى باقيه، وكذلك إذا شبع وقت السحر لم ينتفع بنفسه إلى قريب من الظهر، لأن كثرة الأكل تورث الكسل والفتور، ثم يفوت المقصود من الصيام بكثرة الأكل، لأن المراد منه أن يذوق طعم الجوع، ويكون تاركاً للمشتهى.

Di antara adab-adab puasa khusus adalah (perut) tidak terpenuhi dengan makanan pada malam hari, bahkan makan secukupnya, karena sesungguhnya, tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya.  Kapan saja seseorang itu kenyang di awal malam, maka ia tidak mampu menggunakan tubuhnya (untuk melakukan kebaikan) di sisa waktu malam tersebut dan demikian pula jika ia kenyang saat waktu sahur, maka ia  tidak mampu menggunakan tubuhnya (untuk melakukan kebaikan) sampai waktu mendekati zhuhur. Karena kebanyakan makan membuahkan kemalasan dan kelemahan semangat, lalu terluput maksud puasa dengan banyak makan, karena yang diinginkan (dalam puasa) adalah merasakan lapar hingga (dengan sebabnya) ia menjadi orang suka meninggalkan sesuatu yang disukai oleh hawa nafsunya (secara melampui batas) (Mukhtashar Minhajil Qashidin, hal. 44 (PDF)).

Fadhilatusy Syaikh DR. Sami Ash-Shuqoir hafizhahullah   –salah satu dari tiga masyayikh yang ditunjuk oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin sebagai pengganti beliau mengasuh markas ilmiyyahnya- pernah menjelaskan tentang adab-adab puasa, secara ringkas beliau menyebutkan ada dua adab yang perlu diperhatikan oleh orang yang berpuasa, yaitu:

1. Adab-adab yang wajib dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa

Melaksanakan kewajiban berupa ucapan ataupun perbuatan, yang umum maupun yang khusus terkait dengan ibadah puasa, seperti: Bertauhid (dan ini kewajiban yang terbesar), memenuhi rukun puasa yang wajib dilakukan, kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar dan shalat berjama’ah bagi laki-laki yang sudah baligh, menjauhi ucapan dan perbuatan yang haram, baik yang umum maupun yang khusus terkait dengan ibadah puasa, seperti pembatal puasa Ramadhan, bersaksi palsu, ucapan batil, melangkah menuju tempat-tempat kemaksiatan.

2. Adab-adab yang sunnah yang tertuntut dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa

Ibadah puasa juga memiliki adab-adab puasa yang sunnah dilakukan. Walaupun tidak sampai wajib hukumnya, namun sangat penting dilakukan untuk kesempurnaan ibadah puasanya dan membantu meraih hakikat puasa dan maksudnya, seperti: makan sahur, menyegerakan berbuka, shalat Tarawih, dzikir, shadaqah, dan yang lainnya. Ketahuilah, bahwa memperbanyak ketaatan pada Allah saat puasa bulan Ramadhan sangat ditekankan, terlebih lagi membaca Al-Qur’an, karena bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, bulan kebaikan dan bulan barakah.

(Diolah dari: http://vb.tafsir.net/tafsir27362/#.VWkdx0bURTR)

Semoga Hadits berikut menjadi pendorong bagi kita untuk berlomba-lomba beribadah dan beramal shaleh pada bulan Ramadhan. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

«كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالخَيْرِ، وكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْه السَّلَامَ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ القُرْآنَ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْه السَّلَامَ كَانَ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ»

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan dalam melakukan kebaikan. Dan beliau paling dermawan ketika bulan Ramadhan saat Jibril ‘alaihissalam menemuinya. Jibril ‘alaihis salam menjumpai beliau setiap malam di bulan Ramadhan sampai Ramadhan berlalu. Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam menyetorkan hafalan AlQur’an kepadanya.   Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih dermawan melakukan kebaikan daripada angin yang bertiup” (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

***

Bersambung pada artikel selanjutnya: hakikat Puasa (5).

 

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

Anda sedang membaca: ” Hakekat Puasa “, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini:

Sumber: https://muslim.or.id/25793-hakekat-puasa-4-adab-puasa-vip.html

Kapan Jari Telunjuk Diturunkan Dalam Tasyahud Akhir? Fatwa Ulama

Kapan Jari Telunjuk Diturunkan Dalam Tasyahud Akhir? Fatwa Ulama

Fatwa Syaikh Shalih Al Munajjid

Soal:

Di tengah-tengah tasyahhud saat seseorang selesai mengucapkan shalawat Ibrahimiyyah apakah jari telunjuk selayaknya tetap diangkat hingga imam selesai salam atau ia boleh membuka genggamannya (menurunkan jari telunjuknya-pent) dan meletakkan (telapak tangan)nya di atas pahanya langsung begitu selesai dari shalawat Ibrahimiyyah? Jazakumullah Khaira.

Jawab:

Alhamdulillah.

Pertama, dalam sunnah nabawiyyah tentang penjelasan tata cara shalat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat syari’at mengangkat jari telunjuk dalam shalat dan telah disebutkan perincian penjelasan tentang hal itu disertai dalil-dalilnya di web kami, yaitu jawaban no. 7570 dan 11527.

Kedua, para ahli fiqh sudah menyebutkan bahwa barangsiapa yang mengisyaratkan dengan jari telunjuk (mengangkatnya-pent) di bagian manapun asal masih dalam tasyahhud, maka berarti ia telah menunaikan sunnah ini (mengangkat jari telunjuk-pent) dan telah mengikuti petunjuk nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memunaikan shalatnya. Adapun yang menjadi pembahasan di sini adalah tempat diangkatnya, sedangkan ini adalah permasalahan afdhaliyyah saja.

Tempat mulai mengangkat telunjuk dan perselisihan Ulama tentangnya

Syaikh Ahmad Al-Barlisi ‘amiiratusy -Syafi’i (wafat 957 H), berkata, Dengan bentuk mengisyaratkan jari telunjuk yang manapun dari yang sudah disebutkan di atas (dalam kitab beliau-pent) seseorang yang melakukannya sudah terhitung mengamalkan sunnah tersebut. Adapun yang menjadi perselisihan ulama adalah sebatas mana yang afdhal”. Ucapannya selesai, diambil dari Hasyiah ‘Amiiroh (1/188). Lihat juga Al-Majmu’ tulisan An-Nawawi (3/434).

Perselisihan dalam masalah afdhaliyyah ini adalah perkara ijtihad ulama yang (masing-masing pendapat) masih bisa dikatakan memiliki alasan ilmiyyah karena tidak adanya dalil yang jelas dan pasti dalam hal ini.

Ada sebuah riwayat dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwa nabi shallallahu alaihi wa sallam saat duduk di dalam shalatnya meletakkan telapak tangan kanannya di atas lututnya dan mengangkat jari sebelah jempolnya (telunjuk-pent). Beliau berdo’a dengannya, sedangkan telapak tangan kirinya diletakkan di atas lutut yang satunya. Beliau membuka telapak tangan kiri tersebut dan diletakkan di atas lututnya. Imam At-Tirmidzi meriwayatkannya (no. 294) dan berkata, “Hadits Ibnu Umar ini hadits hasan gharib. Kami tidak mengetahuinya dari hadits Ubaidillah bin Umar kecuali dari sisi ini. Sebagian ulama dari kalangan sahabat nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tabi’in mengamalkannya. Mereka memilih isyarat jari telunjuk ketika tasyahhud dan pendapat ini adalah pendapat ulama madzhab kami”. Ucapannya selesai. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam kitab Shahih At-Tirmidzi.

Sabda beliau (dan mengangkat jari sebelah jempolnya [telunjuk-pent] yang digunakan berdo’a oleh beliau) menunjukan bahwa mengangkat telunjuk dimulai ketika berdo’a dalam tasyahhud. Adapun lafadz do’a dimulai dari dua kalimat syahadat karena di dalamnya terdapat pengakuan dan penetapan kemahaesaan Allah ‘azza wa jalla, sedangkan hal itu sebab suatu do’a lebih berpeluang dikabulkan. Selanjutnya mulailah mengucapkan inti do’anya (Allahumma shalli ‘ala Muhammad) hingga akhir tasyahhud dan sampai akhir salam. Adapun awal tasyahhud (Attahiyyatulillah sampai ucapan kita wa ‘ala ‘ibadillahish shalihin) bukanlah termasuk do’a, namun itu adalah bentuk memuji Allah dan do’a kesalamatan bagi hamba-Nya.

Riwayat-riwayat yang ada dari para sahabat dan tabi’in dalam masalah ini menunjukkan bahwa mengisyaratkan jari telunjuk maksudnya adalah isyarat kepada tauhid dan ikhlas. Jadi (isyarat), jari telunjuk tersebut hakikatnya adalah ungkapan dalam bentuk perbuatan tentang keimanan kepada Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu baginya, maka pantaslah jika awal isyarat telunjuk adalah lafadz syahadat (Asyhadu an laa ilaaha illallahu). Oleh karena itu Ibnu Abbbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Isyarat tersebut adalah ungkapan keikhlasan”.

Ibrahim An-Nakha’i rahimahullah berkata, “Jika seseorang mengisyaratkan dengan jari (telunjuknya) dalam shalat, maka hal itu baik dan itu ungkapan tauhid”, diriwayatkan oleh Ibnu Syaibah dalam Mushannaf (2/368).

Apa yang disebutkan di atas adalah salah satu pendapat di kalangan ahli fiqih, yaitu permulaan isyarat telunjuk saat syahadat tauhid.

Adapun masalah kapan selesainya isyarat telunjuk tersebut, para sahabat yang meriwayatkan mengangkat jari telunjuk tidaklah menyebutkan nabi shallallahu alaihi wa sallam sallam menurunkannya (di bagian tertentu sebelum selesainya salam-pent), maka (dapat disimpulkan) bahwa mengangkat jari telunjuk itu terus sampai selesai salam, terlebih lagi akhir tasyahhud semuanya adalah do’a .

Abu Abdillah Al-Khurasyi Al-Maliki (wafat th.1101 H) raimahullah berkata, “Dari awal tasyahhud hingga akhirnya, yaitu asyhadu an laa ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu dan sesuai dengan yang mereka sebutkan sampai selesai salam walaupun panjang tasyahhud tersebut”. Perkataanya selesai, diambil dari Syarhu Mukhtashor Kholil (1/288).

Dan ulama syafi’iyyah menyetujui mereka, yaitu isyarat telunjuk ketika syahadatain, akan tetapi mereka memberikan penjelasan tambahan secara rinci dan detail yang barangkali tidak ditemukan dalilnya. Mereka mengatakan, “Permulaan mengangkat jari telunjuk adalah ketika sampai pengucapan huruf hamzah dari ucapannya di syahadatain, yaitu (illlallah).

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, “Dari semua ucapan dan sisi pandang tersebut dapat disimpulkan bahwa, disunnahkan mengisyaratkan telunjuk tangan kanannya lalu mengangkatnya ketika sampai huruf hamzah dari ucapannya (Laa ilaaha illalllahu)”. Perkataannya selesai, diambil dari kitab Al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab (3/434).

Imam Ar-Ramli Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Mengangkatnya saat ucapannya (illallah), yaitu mulai mengangkatnya ketika pengucapan hamzah; untuk mengikuti riwayat Imam Muslim dalam masalah tersebut. Hal itu nampak atau jelas menunjukkan bahwa jari telunjuk tetap diangkat sampai (sesaat sebelum) berdiri (ke raka’at ke tiga pada tasyahhud awal-pent) atau sampai salam (pada tasyahhud akhir-pent). Adapun yang dibahas sekelompok orang zaman sekarang tentang mengembalikannya, maka ini menyelisihi penukilan. Ucapannya selesai, diambil dari Nihayatul Muhtaj (1/522).

Ada juga di antara ulama yang mengatakan bahwa isyarat telunjuk tersebut dimulai dari awal tasyahhud. Semua tasyahhud hakikatnya adalah do’a dan terdapat suatu riwayat dalam hadits bahwa beliau berdo’a dengannya. Adapun di awal tasyahhud (Attahiyyaatulillaah) ini adalah pujian mengawali do’a, maka hakikatnya pujian tersebut termasuk bagian do’a dan bukan keluar dari bagian do’a.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, Disunnahkan isyarat telunjuk dalam tasyahhud dan do’a” (Ikhtiyaraat, /38).

Dalam fatwa Lajnah Daimah (7/56), “Isyarat telunjuk sepanjang tasyahhud dan menggerakkannya saat do’a serta menggenggam jari jemari (selain telunjuk-pent) terus dilakukan sampai (selesai) salam”.

Yang jelas, permasalahan ini adalah masalah ijtihadiyyah khilafiyyah dan berbagai pendapat dalam masalah ini terkait dengan salah satu cabang kecil dari masalah shalat. Tidak mengapa seseorang menyelisihi ijtihad ini dan mengikuti pendapat yang dia pandang kuat dalam masalah ini dengan berdasarkan ilmu.

Terdapat juga fatwa Lajnah Daimah (5/368), “Mengangkat telunjuk dalam tasyahhud adalah sunnah dan hikmahnya adalah isyarat kepada kemahaesaan Allah. Jika ia mau silahkan menggerakkannya (telunjuk-pent), jika tidak, maka (tidaklah mengapa) tidak menggerakkannya. Permasalahan ini tidak mengharuskan perpecahan dan permusuhan di antara para penuntut ilmu. Seandainya ia tidak mengangkatnya pun atau mengangkatnya namun tidak menggerakkkannya tidaklah mengapa karena masalah ini adalah masalah mudah tidaklah mengharuskan pengingkaran dan (saling) menjauh, namun sunnahnya adalah mengangkatnya di kedua tasyahhud sekaligus sampai seseorang (selesai) salamnya sebagai isyarat kepada tauhid. Adapun menggerakkannya, maka ketika berdo’a sebagaimana yang ditunjukkan sunnah yang shohihah.” Selesai fatwa ini, diambil dari Fatawal Lajnah (5/368).

Lihat jawaban dari pertanyaan nomor 7570.

Wallahu a’lam.

Sumber : http://Islamqa.info/ar/165999

Penyusun: Ustadz Sa’id

Artikel Muslim.Or.Id

Sumber: https://muslim.or.id/23658-fatwa-ulama-kapan-jari-telunjuk-diturunkan-dalam-tasyahud-akhir.html

Apakah Anda Telah Mengesakan Allah?  Wahai Paranormal?

Apakah Anda Telah Mengesakan Allah? Wahai Paranormal?

Alhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Banyak orang yang disebut-sebut sebagai paranormal, dukun, peramal, dan orang pintar. Di antara mereka mengaku tahu perkara yang akan datang (perkara gaib)!

Padahal hal ini bertentangan dengan aqidah seorang muslim, yaitu tauhid, mengesakan Allah dalam perbuatan, uluhiyyah (hak untuk diibadahi) serta nama dan sifat-Nya.

Berbicara tentang pengakuan seseorang bahwa dirinya mengetahui yang ghaib, seperti meramal dan mengaku mengetahui peristiwa yang akan datang, kapan hari kiamat tiba, nasib seseorang di masa datang, semua itu hakikatnya adalah suatu bentuk kesyirikan (menyekutukan Allah) dalam masalah nama dan sifat Allah ta’ala.

Mengapa demikian?

Karena keyakinan seorang muslim terhadap Rabb nya adalah mengesakan-Nya dalam hal-hal yang menjadi kekhususan-Nya  dan hal itu tidak dimiliki oleh makhluk. Dan kekhususan Allah ada tiga:

  1. Rububiyyah (perbuatan-Nya);
  2. Uluhiyyah (hak untuk diibadahi);
  3. Serta nama & sifat-Nya.

Artinya hanya Allah lah yang memiliki 3 kekhususan tersebut. Itulah tauhid (mengesakan Allah). Sebaliknya syirik (menyekutukan Allah) adalah ketika seseorang meyakini selain Allah (makhluk) memiliki salah satu atau lebih dari kekhususan Allah tersebut.

Camkanlah, hanya Allah lah yang mengetahui perkara yang akan datang (ghaib).

Allah ta’ala berfirman :

{وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ }

yang artinya, “Dan hanya di sisi-Nya lah kunci-kunci ilmu gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia” (QS Al An’aam: 59).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, ”Kunci-kunci ilmu gaib ada lima, hanya Allah yang mengetahuinya, tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari kecuali Allah, tidak ada yang tahu apa yang dikandung oleh rahim kecuali Allah, tidak ada yang tahu kapan turun hujan kecuali Allah, tidak ada seorang pun yang tahu di bumi mana dia akan meninggal, dan tidak ada yang tahu kapan terjadi hari kiamat kecuali Allah.” (HR Bukhari) .

Mengaku mengetahui perkara yang akan datang adalah salah satu bentuk kesyirikan dalam masalah nama dan sifat Allah.

Karena hanya Allah lah yang berhak disifati dengan mengetahui perkara yang ghaib, semisal apa yang terjadi besok, kapan kiamat, apakah seseorang masuk Surga atau tidak, nasib seseorang kelak hidup sengsara atau bahagia.

Lalu apa yang dimaksud dengan mengesakan Allah dalam nama dan sifat-Nya (yang dikenal dengan Tauhidul Asma` wash Shifat?

Definisi tauhidul asma` wash shifat,

توحيد الأسماء والصفات هو: إفراد الله بأسمائه الحسنى وصفاته العلى الواردة في القرآن والسنة، والإيمان بمعانيها وأحكامها

“Tauhid Nama dan Sifat adalah mengesakan Allah dalam nama-nama-Nya yang terindah dan sifat-sifat-Nya yang paling mulia yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah dan beriman terhadap makna-makna dan hukum-hukumnya”.

Penjelasan :

Definisi ini mengandung:

  1. Tauhid, bersih dari syirik, artinya meyakini bahwa hanya Allah lah yang memiliki nama yang husna dan sifat yang ‘ulya.Sedangkan selain Allah tidaklah berhak dikatakan memiliki nama dan sifat tersebut. Hal ini diambil dari petikan definisi إفراد الله (Mengesakan Allah).
  2. Ciri khas nama Allah adalah “Husna”,terindah, yaitu tidak ada nama yang lebih indah dari nama-Nya karena mengandung sifat termulia.Hal ini diambil dari petikan definisi بأسمائه الحسنى (dalam nama-Nya yang terindah)
  3. Ciri khas sifat Allah adalah “’Ula”, termulia, yaitu paling sempurna, tidak ada sifat yang lebih sempurna dari sifat-Nya karena seluruh sifat-Nya maha sempurna, tidak ada aib sedikitpun dari sisi manapun. Hal ini diambil dari petikan definisi, صفاته العلى  ( Sifat-Nya yang termulia)
  4. Sumber penetapan nama dan sifat Allah adalah tauqifiyyah, yaitu harus berdasarkan dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah, maka tidak boleh kita menamai Allah dan mensifati-Nya dengan nama dan sifat yang tidak terdapat dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah. Hal ini diambil dari petikan definisi الواردة في القرآن والسنة (yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunnah).
  5. Meyakini makna, konsekuensi hukum, dan pengaruh/tuntutan yang dikandung nama Allah dan sifat-Nya. Hal ini diambil dari petikan definisi الإيمان بمعانيها وأحكامها (Beriman terhadap makna-makna  dan hukum-hukumnya)

Contoh :

Di antara nama Allah adalah العليم (Al-‘Alim [YangMaha Mengetahui]), maka berdasarkan definisi tauhid Nama dan Sifat barulah kita dikatakan mentauhidkan Allah dan mengesakan-Nya dalam nama dan sifat-Nya dengan baik dan benar jika meyakini:

  1. Penetapan Allah memiliki nama السميع العليم (Al-‘Alim [Yang Maha Mengetahui]) dengan pengetahuan yang sempurna, tidak ada aib sedikitpun padanya (terpenuhi kriteria husna) dan bahwa selain Allah tidak memiliki nama husna tersebut.
  2. Penetapan makna, yaitu sifat Allah العلم (Al-‘Ilm [Mengetahui]), setiap nama Allah pasti mengandung sifat-Nya.
  3. Penetapan konsekuensi hukum, yaitu mengetahui segala sesuatu, baik yang sudah, sedang maupun akan terjadi, baik di langit maupun di bumi, sembunyi atau terang-terangan, terjadi bersamaan atau sendirian. Semua perkara itu diketahui oleh Allah dengan pengetahuan yang sempurna tanpa aib dan kekurangan sedikitpun.

Penetapan pengaruh dan tuntutannya atas seorang hamba, wajibnya khasyah (takut kepada Allah yang didasari ilmu), muraqabah (yakin diawasi oleh Allah) dan haya` (malu) kepada Allah Ta’ala dalam setiap ucapan maupun perbuatan seorang hamba yang dhohir ataupun yang batin.

Setiap nama Allah dan sifat-Nya  pasti mengandung tuntutan peribadatan atas hamba-Nya. Ketika seorang Muslim memiliki keyakinan seperti ini terhadap dalil dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah tentang nama dan sifat Allah, maka menyebabkannya menjadi seorang yang mentauhidkan Allah (mengesakan-Nya) dalam masalah nama dan sifat-Nya.

Wallahu A’lam bish shawab.

[Diolah dari kitab Mu’taqod Ahlis Sunnah fi Tauhidul Asma` wash Shifat, Syaikh Prof. Dr. Muhammad Kholifah At-Tamimi]

Penulis: Ust. Sa’id Abu ‘Ukkasyah

Artikel Muslim.Or.Id

Sumber: https://muslim.or.id/23781-wahai-paranormal-apakah-anda-telah-mengesakan-allah.html

Umat Islam Ini Mulia Dan Jaya? Dengan Apa ?

Umat Islam Ini Mulia Dan Jaya? Dengan Apa ?

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Pernahkah Anda mendengar ungkapan-ungkapan berikut ini?

Wah, hari-hari gini masih bicara masalah Tauhid orang kan udah gak percaya lagi sama yang namanya dukun, klenik, tukang sihir, itu sih kepercayaan orang-orang tempoe doeloe.”

Jangan ketinggalan zaman, negara kuat itu dengan teknologi, lihat itu negara-negara maju! Janganlah banyak membicarakan tentang keyakinan, kepercayaan itu urusan pribadi.”

Kalau perekonomian kuat, pasti negara kuat, negara kita itu ketinggalan jauh, jadi pengekor, karena memang negara ini negara miskin Intinya itu di duit.”

Wahai umat Islam! Bangkitlah! Jangan mau jadi umat bawahan! Mari rebut tampuk kekuasaan! Ajari para pemuda bagaimana berpolitik agar mereka memiliki kesadaran politik yang tinggi!”

Tanggapan

Jika maksud ucapan yang pertama adalah bahwa seluruh umat Islam telah bertauhid dengan sempurna, pelanggaran tauhid sangatlah minim, oleh karena itu tinggalkan berbicara tentang tauhid, maka ini adalah pandangan yang menyelisihi kenyataan umat sekarang, bahkan menyelisihi manhaj (metodologi) para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam membina umat!

  1. Jika maksud ucapan yang kedua adalah bahwa teknologi itu asas kemajuan umat Islam, maka ini tidak benar, pandangan ini menyelisihi manhaj (metodologi) para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam meraih kejayaan umat. Walaupun memang tidak diragukan lagi teknologi itu penting, namun bukan perkara yang asasi (pokok kejayaan umat Islam).
  2. Jika maksud ucapan yang ketiga adalah ekonomi adalah yang pertama dan utama dalam meraih kejayaan umat, maka inipun keliru dalam memandang hakikat kejayaan umat.
  3. Jika maksud ucapan yang keempat adalah khilafah islamiyyah adalah tujuan dan perkara yang terpenting, maka hal ini sudah dijelaskan kesalahannya dalam artikel Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan, benarkah?

Hakikat kejayaan dengan ilmu Syar’i

Jika Anda memperhatikan ajaran Islam ini dengan baik, maka Anda akan dapatkan bahwa hakikat kejayaan umat Islam ini diraih dengan ilmu syar’i (yang diamalkan tentunya).

Oleh karena itu, di antara prinsip ahlus sunnah wal jama’ah yang terpenting adalah “Meraih kemuliaan dengan ilmu syar’i”. Prinsip inilah yang harus diperhatikan oleh para aktivis dakwah Islam, tokoh-tokoh masyarakat dan para pemimpin negara, bahkan oleh seluruh kaum muslimin.

Betapa banyak kaum muslimin terjebak ke dalam permainan musuh-musuh Islam yang menyerang kaum muslimin dari berbagai arah. Setiap kali musuh-musuh Islam berbuat makar dalam bidang tertentu, maka perhatian sebagian aktivis dakwah tertuju kepada melawan serangan tersebut dengan gerakan tandingan yang lebih kuat lagi atau minimalnya yang sebanding, tanpa memperhatikan rambu-rambu syari’at.

Ketika mereka menyusun makar dalam bidang ekonomi, dengan mensosialisasikan sistem ekonomi yang bertentangan dengan syari’at, maka sebagian da’i menandinginya dengan move-move ekonomi Syari’ah. Ketika mereka menyerang kaum muslimin dengan serangan teknologi, maka sebagaian kaum muslimin disibukkan menandinginya dengan teknologi yang semisalnya atau lebih tinggi. Ketika mereka nampak mengusai jabatan-jabatan strategis di pemerintahan, maka tampillah partai-partai Islam mengerahkan segala daya upaya untuk merebut jabatan-jabatan ‘strategis’ tersebut!

Memang benar, semua usaha melawan serangan-serangan makar musuh-musuh Islam dalam berbagai bidang asal dilakukan sesuai dengan rambu-rambu Islam, bersikap tengah-tengah, tidak berlebih-lebihan, tidak pula mengurangi, maka itu adalah suatu usaha yang wajib kita syukuri.

Permasalahannya

Ketika semua langkah-langkah dakwah tersebut di atas kurang diperhatikan, manhaj dakwah yang benar tidak diketahui, skala prioritas dakwah tak dipedulikan, serta  kaidah pertimbangan maslahat dan mudharat dengan bimbingan ulama salafush shalih tidak digunakan -hakikatnya semua itu bersumber dari sangat kurangnya ilmu tentang mengenal Allah dan agama-Nya-  maka ia akan terjebak ke dalam permainan musuh-musuh Islam. Seolah dia berperang menghadapi musuh tanpa strategi yang tepat, bahkan justru termakan strategi musuh. Hal ini seperti mengobati penyakit tanpa mengetahui mana penyakit yang paling ganas dan mana penyakit yang ringan, serta tidak tahu bagaimana penganganan yang tepat.

Syaikh Ramadhani hafizhahullah dalam kitab Sittu Durar min Ushul Ahlil Atsar berkata,

“Prinsip (Ahlus Sunnah) keempat: Meraih kemuliaan dengan ilmu (agama Islam) Bab ini termasuk salah satu prinsip yang terpenting dari enam prinsip Ahlul Atsar karena tujuannya adalah menjelaskan pokok amal yang selayaknya mendasari seluruh langkah karena walaupun sebuah jama’ah (dakwah) mendapatkan aksi makar musuh yang menakutkan, yang mana kekuatan kekufuran dan kesesatan berusaha keras untuk melancarkan aksi tersebut, kemudian jama’ah dakwah tersebut memandang bahwa kejayaan umat akan kembali kepada mereka dengan sekedar menghadapi aksi musuh dengan aksi yang lebih kuat darinya, sehingga mereka mengerahkan seluruh sarana yang dimilikinya untuk menandingi musuh-musuh Islam, namun, di sisi lain ternyata, mereka teledor dalam memperhatikan ilmu syar’i dengan keteledoran yang mencolok. Padahal hakikat yang sesungguhnya bahwa walaupun mereka (jama’ah dakwah) telah menyusun gerakan dengan rapi, telah membaguskan strategi dan mengintensifkan aksi serta telah berusaha menjaga (umat) dari makar musuh, maka tetap saja tidak akan ditulis bagi mereka kemuliaan dan ketinggian derajat, sampai mendasari amal mereka di atas ilmu syar’i dan mengenal (dengan baik) kedudukan ilmu syar’i dan ahlinya (ulama), Allah Ta’ala berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama Allah) beberapa derajat” (Al-Mujaadilah: 11).

Nasihat Seorang Ulama Rabbani

Seorang mufti besar dunia, Syaikh Bin Baz rahimahullah, ketika berbicara tentang sebab kelemahan dan kemunduran kaum muslimin menjelaskan tentang pentingnya mendiagnosa akar masalah dengan tepat dan memberikan solusi yang sesuai dengannya, beliau berkata:

فإن وصف الداء ثم الدواء من أعظم أسباب الشفاء والعافية

“Sesungguhnya penyebutan penyakit dan obatnya (dengan tepat), hal itu merupakan sebab kesembuhan dan kesehatan yang terbesar”

Beliau juga mengatakan,

وترجع أسباب الضعف والتأخر وتسليط الأعداء إلى سبب نشأت عنه أسباب كثيرة وعامل واحد نشأت عنه عوامل كثيرة، وهذا السبب الواحد والعامل الواحد هو: الجهل؛ الجهل بالله وبدينه  وبالعواقب التي استولت على الأكثرية، فصار العلم قليلاً والجهل غالبا

“Dan sebab-sebab kelemahan dan kemunduran serta berkuasanya musuh (atas kaum muslimin) sebenarnya kembali kepada satu sebab (saja), yang darinya lahirlah sebab-sebab yang banyak, berawal dari satu faktor pengaruh, lalu melahirkan faktor-faktor pengaruh lainnya yang banyak. Adapun sebab dan faktor pengaruh yang satu itu adalah kebodohan, yaitu tidak mengenal Allah dan agama-Nya dengan baik! Dan akibat buruknya menimpa mayoritas (manusia), maka (ketika itu) ilmu (agama Islam) menjadi sedikit dan kebodohan mendominasi”

وعن هذا الجهل نشأت أسباب وعوامل منها حب الدنيا وكراهية الموت، ومنها إضاعة الصلوات واتباع الشهوات، ومنها عدم الإعداد للعدو

“Kebodohan (terhadap Allah dan agama-Nya) inilah, terlahir berbagai sebab dan faktor pengaruh yang buruk berupa cinta dunia (yang berlebihan), membenci kematian, menelantarkan shalat dan mengikuti syahwat, tidak mempersiapkan diri menghadapi musuh”

Sampai perkataan beliau,

ونشأ عن ذلك أيضا التفرق والاختلاف وعدم جمع الكلمة وعدم الاتحاد وعدم التعاون. فعن هذه الأسباب الخطيرة وثمراتها وموجباتها حصل ما حصل من الضعف أمام العدو والتأخر في كل شيء إلا ما شاء الله

“Dan juga demikian, terlahirlah dari satu sebab itu (kebodohan terhadap Allah dan agama-Nya, pent.) perpecahan dan perselisihan, tidak merapatkan barisan, tak bersatu dan tak pula saling tolong-menolong. Dari sebab-sebab yang bahaya inilah, berikut buah pahit dan konsekuensinya, maka terjadilah apa yang terjadi berupa kelemahan dan kemunduran di hadapan musuh Islam dalam seluruh bidang kecuali bidang yang Allah kehendaki (tidak mengalami kelemahan dan kemunduran)”

Selanjutnya Syaikh Bin Baz rahimahullah menyebutkan dalil-dalil tentang kesimpulannya bahwa akar masalah kelemahan dan kemunduran umat Islam ini adalah kebodohan terhadap Allah dan  agama-Nya, beliau berkata:

ويدل على أن أعظم الأسباب هو الجهل بالله وبدينه وبالحقائق التي يجب التمسك والأخذ بها – هو قول النبي صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح: ((من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين)) رواه الشيخان البخاري ومسلم في الصحيحين مع آيات في المعنى وأحاديث كلها تدل على خبث الجهل وخبث عواقبه ونهايته

“Dan (dalil) yang menunjukkan bahwa sebab terbesar kelemahan dan kemunduran umat Islam adalah tidak mengenal Allah dan agama-Nya serta hakekat yang wajib dipegang dan diambil, adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih”  

(من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين)

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Dia akan memahamkan agama ini kepadanya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim), dan juga beberapa Ayat dan hadits yang menunjukkan kepada makna ini, semua dalil tersebut menunjukkan buruknya kebodohan dan keburukan akibat serta kesudahannya.

Jadi, dari beberapa penjelasan Syaikh Bin Baz rahimahullah di atas, dapat kita pahami sebab yang terpenting dan asas perbaikan masyarakat adalah mengenal Allah dan agama-Nya, bukan asal melawan makar musuh dengan tindakan dan perlawanan yang sepadan! karena apalah gunanya hal itu semua dilakukan jika diiringi menelantarkan sesuatu yang terbesar dalam Islam? Yaitu, menelantarkan ma’rifatullah (mengenal Allah), sehingga tidak mengenal hak-hak-Nya dan tidak mentauhidkan-Nya dengan baik.

Oleh karena itu Syaikh Bin Baz rahimahullah juga mengatakan,

فإن الله سبحانه وتعالى يقول: {وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ}إلخ، ولم يقل وأعدوا لهم مثل قوتهم؛ لأن هذا قد لا يستطاع.

Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ)

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi (Al-Anfaal:60) dan seterusnya. (Dalam Ayat ini) Allah tidak berfirman, ‘Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang sepadan dengan kekuatan mereka’ karena seperti itu terkadang sesuatu yang tidak mampu dilakukan.

Asalkan kaum muslimin benar dalam membangun keimanannya dan dalam memperbaiki diri mereka, dimulai dengan memperhatikan perkara yang terpenting kemudian sesudahnya dan sesudahnya, maka walaupun kekuatan fisik mereka tidak sepadan dengan kekuatan fisik musuh-musuh Islam, tetaplah Allah akan menolong mereka, karena kekuatan yang terpokok yaitu kekuatan iman (tauhid) mereka kokoh, ikhlas hatinya dan langkah mereka dalam memperbaiki diri benar (baca: dakwah mereka sesuai dengan As-Sunnah).

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian” (Muhammad:7). Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan Ayat di atas,

هذا أمر منه تعالى للمؤمنين، أن ينصروا الله بالقيام بدينه، والدعوة إليه، وجهاد أعدائه، والقصد بذلك وجه الله، فإنهم إذا فعلوا ذلك، نصرهم الله وثبت أقدامهم

“Ini adalah perintah dai Allah Ta’ala kepada kaum mukminin agar menolong agama Allah dengan melaksanakan agama-Nya sebaik-baiknya, mengajak manusia kepada-Nya (berdakwah), berjihad melawan musuh-musuh-Nya dan mendasari semua itu dengan niat ikhlas mengharap bisa melihat wajah-Nya (saat berjumpa dengan-Nya, pent.). Jika mereka melakukan hal itu, niscaya Allah menolong mereka dan meneguhkan kedudukan mereka.”

Demikian pula, dari penjelasan Syaikh Bin Baz rahimahullah di atas, dapat disimpulkan bahwa bukanlah yang terpenting dalam menyelesaikan problematika umat adalah asal mengobati penyakit umat setiap kali ditemukan penyakit tersebut tanpa memilih mana yang perlu diobati terlebih dahulu dan mana yang butuh untuk mendapatkan perhatian terbesar sebelum yang lainnya.

Yang benar adalah perkara yang terpenting dan mendasar dalam dakwah kita adalah apakah tindakan yang kita lakukan sesuai dengan apa yang dilakukan oleh para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam -khususnya orang yang paling mulia di antara mereka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Atau dengan kata lain, apakah manhaj (metodologi) dakwah kita sama dengan manhaj dakwah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam ?

Jika memang sama, maka tentunya akan menemukan akar masalah terbesar yang sama dalam menyelesaikan problematika umat di zaman ini, yaitu  kebodohan, tidak mengenal Allah dan agama-Nya dengan baik, hal itu berarti bahwa hakikat kejayaan dan kemuliaan umat Islam ini ada pada ilmu agama Islam, sebuah ilmu yang menjadi penuntun setiap langkah umat.

Allah akan menjadikan jaya dan mulia sebuah umat dan mengangkat derajat mereka jika mereka berilmu sehingga benar amal mereka, Allah berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama Allah) beberapa derajat” (Al-Mujaadilah: 11) .

Imam Malik rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala,

نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ

“Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki” (Yusuf:76), beliau berkata

بالعلم

(Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki) dengan sebab ilmu (agama Allah)”

Guru beliau pun, ‘Allamah Zaid bin Aslam rahimahullah menafsirkannya,

إنه العلم، يرفع الله به من يشاء في الدنيا

“Sesungguhnya (penyebab ditinggikannya derajat seseorang) adalah ilmu (agama Allah), Allah menninggikan derajat hamba yang Allah kehendaki di dunia”

Jadi, dikarenakan inti permasalahannya ada pada tidak mengenal Allah dan agama-Nya dengan baik, maka pantas jika kunci dakwah seluruh para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah tauhid. Karena Tauhid merupakan bentuk mengenal Allah dan agama-Nya yang terbesar, ia adalah sebuah ajaran yang teragung dan paling mendasar dalam Islam.

Oleh karena itu Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan bagaimana kedudukan tauhid dalam dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, “Tauhid kunci dakwah para Rasul”.

Nah, bagaimanakah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam meyelesaikan berbagai problem umatnya masing-masing? Ikuti kelanjutannya di artikel berikutnya. (Beginilah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam meyelesaikan berbagai problem umatnya masing-masing).

***

Diolah dari http://www.binbaz.org.sa/node/8274 dan Sittu Durar, Syaikh Ramadhani.

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/25658-dengan-apa-umat-islam-ini-mulia-dan-jaya.html