Hukum Sebab (1)

Hukum Sebab (1)

  • Sebab adalah hal yang menjadikan timbulnya sesuatu. Dalam kehidupan sehari-hari, sebagai hamba Allah Ta’ala, tidak bisa terlepas dari mengambil sebab dalam upaya meraih cita-cita. Cita-cita yang paling agung adalah berjumpa dengan-Nya, melihat wajah-Nya.

    Secara umum, bentuk mengambil sebab itu ada dua

    1. Mengambil sebab (usaha) untuk mendapatkan manfaat.

    2. Mengambil sebab (usaha) untuk menghindar atau terlepas dari bahaya.

    Bentuk aktifitas kita tidak pernah terlepas dari dua bentuk usaha tersebut. Misalnya saja bertauhid atau beribadah hanya pada Allah semata, mengapa kita bertauhid? Tentu agar Allah mencintai kita, sehingga memasukkan kita ke dalam Surga-Nya. Nah, dicintai oleh Allah dan masuk surga itu adalah manfaat.

    Mengapa kita kerja? Untuk mencari nafkah, ini juga manfaat. Mengapa kita tidur dan istirahat? Agar tidak sakit, sehingga bisa beribadah dan beraktifitas dengan baik. Bukankah agar “tidak sakit” adalah upaya untuk menghindari bahaya? Aktifitas kita dari bangun tidur sampai tidur lagi, semuanya tidak bisa terlepas dari dua bentuk pengambilan sebab itu.

    Seputar hukum mengambil sebab

    Dari prolog di atas, kita merasa sangat butuh mengetahui tentang seluk-beluk mengambil sebab dan hukum-hukum Allah tentangnya, mengapa demikian?

    Simak alasan berikut ini!

    1. Mengambil sebab adalah perkara yang selalu kita lakukan dalam kehidupan keseharian kita, sebagaimana keterangan di atas.

    2. Seseorang yang tidak mengenal dan tidak menghiraukan aturan Allah Ta’ala dalam mengambil sebab, bisa terjatuh ke dalam maksiat, bid’ah bahkan syirik ataupun kekufuran!

    3. Alasan yang ketiga: seseorang yang tidak mengenal tentang hukum sebab bisa terperosok ke dalam salah satu dari dua jurang ini:

      1. Menjadi tipe orang yang sombong dan membanggakan diri (melampui batasan syari’at) atau

      2. Menjadi tipe orang yang malas atau berputus asa dari rahmat Allah (mengurangi batasan syari’at).

    Hukum sebab

    Nah, berikut ini, penyusun nukilkan isi hukum-hukum sebab dari sebuah kitab seorang ulama besar, Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah, beliau berkata dalam kitabnya, Al-Qaulul Jadiid:

    “Seseorang wajib mengetahui bahwa dalam (pembahasan) sebab terdapat tiga perkara (yang mendasar), yaitu:

    أحدها: أن لا يجعل منها سببا إلا ما ثبت أنه سبب شرعا أو قدرا.ثانيها: أن لا يعتمد العبد عليها، بل يعتمد على مسببها ومقدرها،مع قيامه بالمشروع منها، وحرصه على النافع منها. ثالثها: أن يعلم أن الأسباب مهما عظمت وقويت فإنها مرتبطة بقضاء الله وقدره لا خروج لها عنه،

    Pertama: Tidak menjadikan sesuatu sebagai sebab, kecuali jika sesuatu tersebut terbukti sebagai sebab, baik secara syar’i1 maupun Qadari/Kauni2Kedua: Seorang hamba tidak bersandar (hatinya) kepada sebab, namun bersandar kepada Allah, Sang Penyebab berpengaruhnya suatu sebab dan Sang Pentakdirnya, diiringi dengan usaha yang disyari’atkan (untuk dilakukan) dan semangat melakukan yang (paling) bermanfa’at. Ketiga: (Wajib) diketahui bahwa suatu sebab, meskipun besar dan kuat (pengaruhnya), maka sesungguhnya tetap terikat dengan takdir Allah, tidak bisa terlepas darinya”.

    Beliau rahimahullah juga menjelaskan, yang intisarinya adalah bahwa Allah Ta’ala mengatur makhluk-Nya sesuai dengan kehendak-Nya,

    • Jika Allah menghendaki, maka Allah akan takdirkan suatu sebab berpengaruh sesuai dengan tuntutan hikmah-Nya, agar seorang hamba mengetahui dengan baik kesempurnaan hikmah-Nya, karena Allah telah mentakdirkan terjadinya akibat, ketika seorang hamba melakukan sebabnya.

    • Namun, jika Allah menghendaki sesuatu yang lain, maka Allah takdirkan suatu sebab tidak berpengaruh dan tidak berakibat, agar hati seorang hamba tidak bergantung kepada sebab dan agar ia mengetahui kesempurnaan kekuasaan Allah atas hamba-Nya dan kesempurnaan kehendak-Nya dalam mengatur alam semesta.

    Beliau rahimahullah berkata:

    فهذا هو الواجب على العبد في نظره وعمله بجميع الأسباب.

    “Inilah sikap wajib seorang hamba dalam memandang dan melakukan berbagai macam sebab (dalam aktivitasnya)”.

    (bersambung)

    ___

    Catatan kaki

    1. Harus terdapat dalil dari Al Qur’an atau As-Sunnah yang shahih, yang menunjukkan bahwa sesuatu itu merupakan sebab.

    2. Terbukti secara ilmiah atau berdasarkan pengalaman yang jelas bahwa sesuatu itu merupakan sebab.

    ***

    Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

    Artikel Muslim.or.id

    Anda sedang membaca: ” Hukum Sebab “, baca lebih lanjut dari artikel berseri ini:

    Sumber: https://muslim.or.id/26607-hukum-sebab-1.html

Beginilah Metode Para Rasul Dalam Menyelesaikan Masalah Umat (2)

Beginilah Metode Para Rasul Dalam Menyelesaikan Masalah Umat (2)

  • Seluruh Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, dakwah mereka adalah tauhid, sebagaimana firman Allah :

    وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

    Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (An-Nahl: 36).

    Adapun jika ada klaim bahwa tauhid itu sudah ada di hati orang-orang, klaim ini bukanlah alasan untuk meninggalkan dakwah tauhid. Apalagi ucapan tersebut menyelisihi kenyataan banyak manusia di zaman ini.

    Mengapa demikian? Ini alasannya:

    1. Imam Ahlut Tauhid sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al-Khaliil Ibrahim ‘alaihish shalatu was salam saja takut dirinya terjerumus dalam kesyirikan, sebagaimana yang disebutkan dalam surat Ibrahim: 35-36  (Baca: artikel bagian pertama).
    2. Profil Imam Ahlut Tauhid yang paling mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak pernah meninggalkan dakwah Tauhid di dalam seluruh tahapan dakwahnya.

    Syaikh Rabii’ Al-Madkhali rahimahullah dalam kitabnya, Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah, mengatakan,

    أمّا السنّة ففيها الشيء الكثير الدّالّ على افتتاح رسول الله صلى الله عليه وسلم دعوته بالتّوحيد واختتامها بذلك واستمراره فيما بين ذلك طوال حياته

    “Adapun dalam As-Sunnah, maka terdapat dalil yang banyak, yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka dakwahnya dengan Tauhid, menutup dakwahnyapun dengan Tauhid, dan selang masa diantara keduanya terus-menerus beliau mendakwahkan Tauhid, sepanjang hidupnya”

    Amiin Jum’iyyatil Ulama’il Muslimin di Aljazair, Syaikh Mubarak Al-Maili rahimahullah menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membiarkan perbuatan menyekutukan Allah dengan patung-patung, padahal beliau ketika itu masih sendirian. Beliaupun tidak pernah meninggalkan dakwah tauhid, baik saat sedang hijrah, saat beliau telah berkuasa di Madinah, setelah Fathul Makkah maupun saat-saat beliau jihad fi sabilillah! Begitu pula saat peristiwa bai’at (janji setia yang syar’i)beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengambil baiat dari manusia di atas tauhid.

    Lalu  Syaikh Mubarak Al-Maili rahimahullah mengatakan,

    وهذه سيرتُه المدوَّنة، وأحاديثُهُ الـمُصَحَّحَةُ، فتتبَّعْها تَجِدْ تصديقَ ما ادَّعيناهُ، وتفصيلَ ما أجملنا

    “Dan inilah perjalanan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah tersusun, dan juga demikian Hadits-Hadits tentangnya yang sudah diteliti keshahihannya (pun ada), silahkan cari! Anda akan mendapatkan benarnya apa yang kami nyatakan dan akan mendapatkan perincian dari apa yang kami ungkapkan secara global” (Sittu Durar min Ushul Ahlil Atsar, hal. 20).

    Bagaimanakah dakwah Tauhid yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa-masa kekokohan Tauhid dan kemuliaan Islam?

    Suatu saat, di masa-masa kekokohan tauhid dan kemuliaan Islam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapatkan kabar bahwa ada patung yang disembah, di sebuah rumah yang dinamai dengan Dzul Khalashah di Yaman. Mendengar hal itu, beliapun gelisah dan sangat sedih hingga beliau mengutus pasukan untuk menumpasnya (Kisah ini terdapat dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

    Wahai saudaraku! dari kisah tersebut, perhatikanlah hal-hal berikut ini,

    1. Kesyirikan tersebut terjadi pada masa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, padahal beliau adalah utusan Allah terbaik, mendidik manusia dengan pendidikan terbaik. Bagaimana lagi dengan zaman kita? Tentunya lebih memungkinkan lagi terjadi!
    2. Kesyirikan itu terjadi di masa-masa kekokohan Tauhid dan kemuliaan Islam, bagaimana lagi di zaman kita yang kaum muslimin banyak mengalami kemunduran dan kelemahan?
    3. Kesyirikan itu terjadi jauh dari pusat pemerintahan Islam yang dipimpin oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana jika kesyirikan itu terjadi di tempat yang masih satu kota dengan tempat tinggal kita atau bahkan dekat dengan rumah kita? Nas`alullahas salamah.

    Untuk pembahasan lebih rinci tentang bagaimana dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih lanjut, silahkan membaca artikel : Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid? Walhamdulillaah Rabbil’alamiin.

    ***

    Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

    Artikel Muslim.or.id

    Sumber: https://muslim.or.id/25705-beginilah-metode-para-rasul-dalam-menyelesaikan-masalah-umat-2.html

Beginilah Metode Para Rasul Dalam Menyelesaikan Masalah Umat (1)

Beginilah Metode Para Rasul Dalam Menyelesaikan Masalah Umat (1)

  • Dakwah Tauhid adalah kunci dakwah  para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam

    Ibnul Qoyyim rahimahullah telah menjelaskan ciri khas dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam,beliau mengatakan

    التوحيد مفتاح دعوة الرسل

    “Tauhid kunci dakwah para Rasul.”

    Ya, memang demikianlah kenyataannya, seluruh Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, dakwah mereka adalah Tauhid, sebagaimana firman Allah

    وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

    “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’” (An-Nahl:36).

    Perhatikanlah ayat-ayat Al-Qur’an berikut ini:

    Allah Ta’ala berfirman,

    لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحاً إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

    “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan yang berhak disembah bagimu selain-Nya” (Al-A’raaf: 59).

    وَإ ِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُوداً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

    “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan yang berhak disembah bagimu selain dari-Nya” (Al-A’raaf: 65).

    وَ إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحاً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

    “Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan yang berhak disembah bagimu selain-Nya” (Al-A’raaf: 73).

    وَ إِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْباً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

    “Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan yang berhak disembah bagimu selain-Nya” (Al-A’raaf: 85).

    Berkata Syaikh Ramadhani hafizhahullah dalam kitab Sittu Durar min Ushul Ahlil Atsar,

    و هكذا , مهما اختلفت الأمم , و تباينت مشاكلها ؛ فإن الدعوة إلى التوحيد هي الأصل ؛ سواء كانت مشكلتهم اقتصادية , كما في أهل مدين ؛ أو كانت خُلُقية كما في قوم لوط – عليه السلام -.و لست بحاجة أن أقول: أو كانت سياسية ؛ لأن جميع هؤلاء لم يكونوا يُحْكَمون بما أنزل الله

    “Dan demikianlah, walaupun berbeda-beda umat  mereka dan beranekaragam problematika umat mereka, tetaplah dakwah Tauhid adalah dakwah yang pokok, sama saja apakah problem yang dihadapi umat mereka masalah perekonomian, sebagaimana problem penduduk Madyan, atau problem akhlak, sebagaimana problem kaum Nabi Luth ‘alaihis salam (tetaplah dakwah Tauhid adalah dakwah yang pokok dan terpenting, pent.)”

    Dengan demikian, tidaklah boleh pudar cahaya dakwah Tauhid yang diberkahi ini, kapanpun juga, karena klaim sebagian orang bahwa Tauhid itu sudah ada di hati orang-orang. Hal ini bukanlah alasan untuk meninggalkan dakwah Tauhid! Mengapa demikian? Ini alasannya:

    Profil Imam Ahlut Tauhid sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al-Khaliil Ibrahim ‘alaihish shalatu was salam saja takut dirinya terjerumus dalam kesyirikan, Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an, bahwa beliau berdo’a:

    وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

    Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah patung-patung”

    رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

    Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Ibraahiim: 35-36).

    Berkata Ibrahim At-Taimi rahimahullah :

    من يأمن البلاء بعد خليل الله إبراهيم

    “Siapakah yang merasa aman setelah Khalilullah Nabi Ibrahim?” Maksudnya, jika Nabi Ibrahim ‘alahish shalatu was salam saja takut terjerumus kedalam kesyirikan, bagaimana lagi dengan orang-orang yang tingkat keimanannya jauh di bawah beliau ‘alahish shalatu was salam ? Padahal beliau adalah Imam Ahlut Tauhid sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Khalilullah (Nabi yang sangat dicintai oleh Allah).

    ***

    Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

    Artikel Muslim.or.id

    Sumber: https://muslim.or.id/25696-beginilah-metode-para-rasul-dalam-menyelesaikan-masalah-umat-1.html

Pilar Dakwah Para Nabi ‘Alaihimussalam Dalam Menyelesaikan Problematika Umat (3)

Pilar Dakwah Para Nabi ‘Alaihimussalam Dalam Menyelesaikan Problematika Umat (3)

  • Bismillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du: Anda mengharapkan dakwah yang Anda lakukan dapat memberikan solusi problematika umat saat ini?

    Jika Anda menginginkan penyelesaian problem umat, maka jawabannya adalah sesuaikan dakwah Anda dengan manhaj para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam –paling utamanya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan bangunlah dakwah Anda di atas pilar-pilar dakwah mereka.

    Akan tetapi, jika Anda menelantarkan pilar-pilar dakwah mereka, maka tidaklah dakwah Anda dikatakan sebagai dakwah yang benar dan tidak akan membuahkan buah yang diharapkan dengan sempurna, walaupun Anda kerahkan berbagai upaya keras dan Anda habiskan waktu yang lama untuk berdakwah, serta walaupun Anda berhasil mengumpulkan masa pendukung yang banyak!

    Hakikatnya kesuksesan dakwah yang hakiki tidaklah ditentukan oleh banyaknya pengikut semata, namun ditentukan dari sisi keikhlasan Anda dan kesesuaian dakwah Anda dengan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Berikut ini kelanjutan penjelasan pilar-pilar dakwah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam artikel ketiga.

    4. Memulai dengan yang paling penting kemudian yang paling penting sesudahnya

    Yaitu pertama kali memulai kepada perbaikan aqidah/keyakinan dengan memerintahkan manusia agar mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata (Tauhid) dan melarang dari kesyirikan kemudian memerintahkan untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, mengerjakan kewajiban-kewajiban, dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan.

    Dan dakwah Tauhid ini merupakan jalannya semua Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, sebagaimana firman Allah :

    وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

    “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (An-Nahl: 36).

    Dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya berdakwah ke Yaman, terdapat pelajaran besar tentang skala prioritas dalam menyampaikan materi dakwah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ، فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوْكَ لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

    “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab. Maka dari itu, jadikanlah yang pertama kali engkau sampaikan kepada mereka adalah syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah (mentauhidkan Allah), apabila mereka telah mentaatimu dalam hal ini maka ajari mereka bahwa Allah telah mewajibkan shalat lima waktu kepada mereka. Apabila mereka telah mentaatimu dalam hal ini maka ajari mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat kepada mereka yang diambil dari kalangan orang kaya di antara mereka serta diberikan kepada orang-orang fakir dari kalangan mereka”(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

    Dalam hadits yang mulia ini, terdapat beberapa pelajaran sebagai berikut:

    1. Termasuk ilmu yang harus diketahui oleh seorang da’i adalah tentang skala prioritas dalam berdakwah, yaitu mendahulukan perkara yang terpenting kemudian yang terpenting berikutnya.
    2. Tauhid adalah perkara terpenting yang harus menjadi perhatian  terbesar dalam berdakwah. Tauhid adalah perintah Allah yang menjadi prioritas nomor satu, sedangkan kebalikan Tauhid, yaitu syirik adalah larangan Allah yang terbesar.

    Renungan

    Seorang da’i yang benar-benar mengetahui skala prioritas dakwah yang Allah ridhai dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada kita, maka ia akan mendahulukan apa yang didahulukan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan keyakinan bahwa tidak ada pilihan yang lebih baik dari pilihan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    5. Bersabar terhadap kesulitan-kesulitan dan gangguan-gangguan yang dijumpai dalam berdakwah, mengajak manusia kepada Allah.

    Sebaik-baik teladan dalam kesabaran adalah para utusan Allah ‘alaihimush shalatu was salam, mereka hadapi gangguan dan celaan di jalan dakwah dengan penuh kesabaran, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

    وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

    “Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa Rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka” (Al-An’aam:10).

    وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَىٰ مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّىٰ أَتَاهُمْ نَصْرُنَا

    “Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-Rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka” (Al-An’aam:34).

    Renungan:

    Seorang da’i yang tidak bersabar ketika menyampaikan Tauhid dan Sunnah di tengah-tengah masyarakat karena dianggap itu adalah materi dakwah yang tidak pro rakyat, bahkan dakwah Tauhid dan Sunnah yang memperingatkan syirik dan bid’ah dituduh sebagai gerakan memecah belah umat, maka -dengan ketidaksabarannya tersebut- ia akan beralih kepada materi-materi dakwah mereka yang populer dan dianggap pro rakyat, hasil dari tawar menawar politik dan upaya mempertahankan aset masa pendukung kelompok, lembaga atau partainya!

    (Ikuti kelanjutannya di artikel : Pilar-Pilar Dakwah  Para Nabi ‘alaihimus salam dalam Menyelesaikan Problematika Umat (4)). Wallahu a’alam.

    ***

    Diolah dari muqoddimah Syaikh DR. Shaleh bin Fauzan Al-Fauzan terhadap kitab Manhajul Anbiyaa` fid Da’wah ilallah, dengan beberapa tambahan.

    Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

    Artikel Muslim.or.id

    Sumber: https://muslim.or.id/25647-pilar-dakwah-para-nabi-alaihimussalam-dalam-menyelesaikan-problematika-umat-3.html

Pilar Dakwah Para Nabi ‘Alaihimussalam Dalam Menyelesaikan Problematika Umat (2)

Pilar Dakwah Para Nabi ‘Alaihimussalam Dalam Menyelesaikan Problematika Umat (2)

  • Bismillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, Ingatlah wahai Sobat, ketika sebuah dakwah yang ditegakkan dalam rangka menyelesaikan problematika umat itu sesuai dengan manhaj para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam –paling utamanya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan berdiri di atas pilar-pilar dakwah mereka, maka dakwah tersebut akan diterima oleh Allah dan diberkahi, sehingga menghasilkan buah yang sesuai dengan apa yang Allah ridhai. Inilah kelanjutan penjelasan pilar-pilar dakwah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam yang sebagiannya telah ditulis pada artikel sebelumnya.

    2. Beramal dengan Apa yang Didakwahkan

    Seorang da’i bisa menjadi tauladan yang baik di tengah masyarakatnya, perbuatannya pun sesuai dengan ucapannya dan tidak ada celah bagi orang-orang yang batil untuk mencelanya. Allah berfirman tentang Nabi-Nya Syu’aib ‘alaihis salam bahwasanya dia berkata kepada kaumnya,

    وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَىٰ مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ ۚ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

    “Dan aku tidak ingin menyelisihi kalian (dengan mengerjakan) apa yang aku larang (sendiri). Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah lah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali” (Huud: 88).

    Perhatikanlah saudaraku! Bagaimana Nabi Syu’aib ‘alaihis salam dalam berdakwah, beliau menyampaikan kepada kaumnya bahwa tidaklah beliau melarang kaumnya dari melakukan sesuatu melainkan beliau menjadi orang yang pertama kali meninggalkan larangan tersebut sehingga beliau menjadi teladan di tengah-tengah kaumnya dalam mengamalkan syari’at Allah Ta’ala.

    Renungan:

    Ketika seorang da’i atau lembaga dakwah melupakan pilar amal ini dan terjebak dengan sikap basa-basinya politik praktis orang-orang kafir ataupun tergoda dengan iming-iming jabatan politis yang menggiurkan dan keindahan duniawi yang menyertainya, maka sangat dikhawatirkan terjerumus dalam fitnah kemunafikan politis, fitnah harta, tahta dan wanita. Camkanlah!

    3. Ikhlash, yaitu Dakwah yang Dia Jalankan Semata-mata untuk Mencari Wajah Allah

    Dakwah bukanlah sarana untuk riya` (pamer amal shalih berupa gerakan), sum’ah (pamer amal shalih berupa suara, seperti baca Al-Qur’an), ingin ketinggian status sosial, mengincar kedudukan/jabatan ataupun rakus terhadap dunia. Kalau dakwahnya tercampuri dengan sesuatu dari tujuan-tujuan tersebut, maka dakwahnya bukan untuk Allah tetapi untuk dirinya atau untuk ketamakan yang dia inginkan. Dalil tentang hal ini adalah bahwa Allah memberitahukan tentang keikhlasan para Nabi-Nya dalam berdakwah, mereka berkata kepada ummatnya:

    قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا

    Katakanlah: Aku tidak meminta upah kepada kalian” (Al-An’aam: 90).

    يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ

    “Wahai kaumku, aku tidak meminta harta  kepada kalian (sebagai upahku). Ganjaran (yang aku harapkan) hanyalah dari Allah” (Huud:29).

    Renungan:

    1. Jika seorang da’i itu ikhlas dan bertauhid serta mengajak manusia untuk ikhlas dan bertauhid, menunaikan hak-hak Allah serta melaksanakan kewajibannya sebagai hamba-Nya, dengan mengenal nama dan sifat-Nya dan beribadah kepada-Nya semata, maka akan tumbuh sebuah masyarakat yang Allah janjikan untuknya kemuliaan dan kejayaan, karena mereka beriman, bertauhid, jauh dari kesyirikan dan beramal shalih, sebagaimana yang disebutkan dalam surat An-Nuur: 55, Allah Ta’ala berfirman:

      وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

      “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”.

    2. Da’i yang ikhlas senantiasa memperhatikan apa yang Allah ridhai dan cintai, maka ia tidak mau mengikuti hawa nafsunya atau mengikuti keinginan kelompok, lembaga atau partainya jika bertentangan dengan keridhaan Allah dalam menyelesaikan problematika umat ini. Maka hasilnya, da’i yang ikhlas dalam berdakwah akan mendahulukan apa yang didahulukan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka menggapai ridha-Nya semata.
    3. Adapun da’i yang tidak ikhlas, maka dia menjadikan kemauan masyarakat atau nafsu kelompok, lembaga atau partainya sebagai kiblatnya, walaupun harus terluput darinya ridha Rabbnya. Apalagi yang diperjuangkan dalam dakwahnya adalah sesuatu yang hawa nafsu manusia berselera dengannya, berupa harta, tahta maupun kenikmatan duniawi yang lainnya.

    (Ikuti kelanjutannya di artikel: Pilar-Pilar Dakwah  Para Nabi ‘alaihimus salam dalam Menyelesaikan Problematika Umat (3)). Wallahu a’alam.

    ***

    Diolah dari muqoddimah Syaikh DR. Shaleh bin Fauzan Al-Fauzan terhadap kitab Manhajul Anbiyaa` fid Da’wah ilallah, dengan beberapa tambahan.

    Penulis: Ust. Said Abu Ukasyah

    Artikel Muslim.or.id

    Sumber: https://muslim.or.id/25644-pilar-dakwah-para-nabi-alaihimussalam-dalam-menyelesaikan-problematika-umat-2.html

Pilar Dakwah Para Nabi ‘Alaihimussalam Dalam Menyelesaikan Problematika Umat (1)

Pilar Dakwah Para Nabi ‘Alaihimussalam Dalam Menyelesaikan Problematika Umat (1)

  • Bismillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:

    Berdakwah mengajak manusia kepada Allah adalah jalan yang ditempuh oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikutnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

    قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاوَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآأَنَا مِنَ الْمُشْرِكِين

    “Katakanlah, “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (Yusuf:108).

    Bahkan berdakwah mengajak manusia kepada Allah adalah tugas para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam dan pengikut mereka semuanya guna mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya, dari kekufuran kepada keimanan, dari kesyirikan kepada Tauhid dan dari Neraka kepada Surga. Sedangkan manhaj para Nabi ‘alaihimus salam dalam berdakwah maksudnya adalah metode yang jelas ditempuh oleh para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam berdakwah kepada Allah.

    Mereka menyelesaikan berbagai problematika umat mereka dengan manhaj dakwah tersebut. Berbagai permasalahan umat yang mereka hadapi, baik itu perekonomian, kerusakan moral sampai masalah politik mereka hadapi dengan menggunakan manhaj yang sama, yaitu manhaj dakwah yang berasal dari Rabb mereka Allah ‘azza wa jalla.

    Ingatlah wahai sobat, ketika sebuah dakwah yang ditegakkan dalam rangka menyelesaikan problematika umat itu sesuai dengan manhaj para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam –paling utamanya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-  dan berdiri di atas pilar dakwah mereka, maka dakwah tersebut akan diterima oleh Allah dan diberkahi, sehingga menghasilkan buah yang sesuai dengan apa yang Allah ridhai.

    Pilar-Pilar Dakwah Para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam

    Dakwah  para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam berdiri di atas pilar-pilar yang kokoh, jika salah satu pilar tersebut tidak ada, maka tidaklah sebuah dakwah dikatakan sebagai dakwah yang benar dan tidak akan membuahkan buah yang diharapkan dengan sempurna, walaupun dikerahkan berbagai upaya keras dan dihabiskan waktu yang lama untuk dakwah tersebut, sebagaimana hal ini terjadi dalam kenyataan pada banyak gerakan dakwah masa kini yang dakwah mereka tidak terbangun di atas pilar-pilar dakwah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam tersebut.

    Berikut inilah pilar-pilar dakwah Para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam,

    1. Berilmu terhadap apa yang didakwahkan

    Adapun orang yang tak berilmu, tidaklah layak menjadi da’i.  Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya,

    قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُوا إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاوَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَآأَنَا مِنَ الْمُشْرِكِين

    “Katakanlah, “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Mahasuci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (Yusuf:108).

    Dan yang dimaksud basirah dalam ayat ini adalah ilmu. Jadi seorang da’i haruslah berilmu tentang materi dakwahnya, keadaan mad’u, dan tata cara berdakwah. Karena sesungguhnya para da’i biasanya menghadapi ulama sesat yang akan melancarkan serangan syubhat kepadanya dan mendebatnya dengan kebathilan untuk membantah Al-Haq. Allah berfirman:

    ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

    “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (An-Nahl:125).

    Dalam ayat ini, Allah perintahkan seorang da’i yang berdakwah dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta membantah dengan baik orang yang merasa dirinya benar padahal salah atau orang yang mengajak kepada kebatilan ataupun melancarkan syubhat. Tidaklah hal-hal itu semua bisa dilakukan dalam berdakwah kecuali dengan ilmu. Dalil tentang hal ini juga terdapat dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu:

    إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَيْهِ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ

    “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab. Maka dari itu, jadikanlah yang pertama kali engkau sampaikan kepada mereka adalah syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah (menauhidkan Allah)” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

    Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika akan mengutus Mu’adz untuk berdakwah ke negeri Yaman, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu keadaan penduduk yang akan didakwahi dan materi yang harus disampaikannya dalam mendakwahi mereka. Ini berarti hakikatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita bahwa seorang da’i haruslah berilmu tentang materi yang harus disampaikan dan keadaan orang yang akan didakwahi.

    Renungan:

    1. Kenyataan yang ada, banyak kerusakan ataupun kesalahan yang timbul di medan dakwah. Penyebabnya adalah sangat kurangnya ilmu yang dimiliki oleh sebagian orang yang mendudukkan dirinya sebagai da’i. Baik kesalahan ilmu itu dalam masalah menentukan materi dakwah apa yang pertama dan diutamakan untuk disampaikan, sebagai solusi problematika umat, maupun kesalahan ilmu dalam masalah mendiagnosa penyakit umat yang terbesar yang harus diobati terlebih dahulu. Demikian juga kesalahan ilmu dalam memahami perkara apa yang menyebabkan jayanya sebuah umat.
    2. Ilmu yang dimaksud di atas adalah ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya, lalu diterima oleh Tabi’in kemudian Tabi’ut Tabi’in sampai ulama kita di zaman ini yang mengikuti  para Sahabat radhiyallahu ‘anhum dengan baik. Jadi bukanlah sembarang ilmu yang ditafsirkan secara bebas oleh setiap pemimpin kelompok gerakan dakwah.

    (Ikuti kelanjutannya di artikel : Pilar-Pilar Dakwah  Para Nabi ‘alaihimus salam dalam Menyelesaikan Problematika Umat (2)). Wallahu a’alam.

    ***

    (Diolah dari muqoddimah Syaikh DR. Shaleh bin Fauzan Al-Fauzan terhadap kitab Manhajul Anbiyaa` fid Da’wah ilallah, dengan beberapa tambahan).

    Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
    Sumber: https://muslim.or.id/25620-pilar-dakwah-para-nabi-alaihimussalam-dalam-menyelesaikan-problematika-umat-1.html

Benarkah Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan? (3)

Benarkah Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan? (3)

  • Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du :

    Sanggahan para Ulama rahimahullah

    Dalam artikel bagian yang ke-2, telah penulis sebutkan diantara syubhat dan penyimpangan besar yang menyelisihi manhaj dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, yaitu berlebih-lebihan (ghuluw) dalam menyikapi penegakan Khilafah Islamiyyah 1.

    Beberapa penyimpangan dan kesalahan yang sudah penulis sebutkan dalam masalah ini dalam artikel tersebut, diantaranya adalah salah memahami hal-hal berikut ini: tujuan agama Islam, ibadah, risalah para Nabi Allah ‘alaihimush shalatu was salam dan akar masalah kerusakan suatu negeri. Disamping itu, berlebih-lebihan dalam mensikapi politik dan yang lainnya.

    Dikarenakan banyaknya pemahaman yang salah dalam mensikapi penegakan Khilafah Islamiyyah, maka sudah menjadi kewajiban para Ulama dan da’i rahimahullah untuk meluruskan penyimpangan-penyimpangan tersebut, dalam rangka menunaikan tugas yang agung dari Allah Ta’ala, seperti tercermin dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

    وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ

    “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu): “Hendaklah kalian menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya” (Ali ‘Imraan:187).

    Berikut ini beberapa bantahan para Ulama rahimahullah dalam rangka meluruskan penyimpangan-penyimpangan tersebut :

    1. Khilafah Islamiyyah memang wajib namun bukan yang paling wajib dan bukan yang paling penting

    Ulama bersepakat (ijma‘) atas kewajiban pengangkatan satu orang pemimpin pemerintahan bagi kaum muslimin, ijma’ ini dinukilkan oleh Al-Mawardi dalam Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, hal. 15, Abul Ma’ali Al-Juwaini dalam Ghiyatsul Umam,hal.15, Al-Qodhi ‘Iyadh dalam Ikmalul Mu’allim 6/220 dan An-Nawawi dalam Syarhu Shahih Muslim 12/205, dan ulama-ulama yang lainnya. (http://www.dorar.net/article/1760)

    Berkata Al-Mawardi rahimahullah :

    وَعَقْدُهَا لِمَنْ يَقُومُ بِهَا فِي الْأُمَّةِ وَاجِبٌ بِالْإِجْمَاعِ

    Mengadakan akad Imamah (Khilafah), bagi yang bertugas melaksanakannya di tengah-tengah umat ini, hukumnya wajib berdasarkan ijma’ ulama” (Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, hal. 3).

    An-Nawawi rahimahullah berkata :

    وأجمعوا على أنه يجب على المسلمين نصب خليفة

    Dan ulama bersepakat bahwa wajib bagi kaum muslimin untuk mengangkat seorang Khalifah” (Syarhu Shahih Muslim).

    Dan mayoritas ulama dari berbagai madzhab memandang bolehnya setiap negara kaum muslimin dipimpin oleh kepala negara muslim masing-masing, jika belum mampu untuk mengangkat satu pemimpin untuk kaum muslimin seluruh dunia.

    Hal ini dikarenakan, setelah tersebarnya Islam ke berbagai penjuru dunia, jadilah masing-masing wilayah negara memiliki kepala negara masing-masing pula, yang kekuasaannya terbatas pada wilayah negara yang dipimpinnya saja. Maka wajib bagi masing-masing warga negara ta’at kepada kepala negaranya masing-masing, sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Al-‘Allamah Asy-Syaukani dalam Sailul Jarar 4/512. Hal ini dibolehkan karena keadaan terpaksa dan belum mampu, sehingga sesuai dengan kaedah Ushul bahwa,

    (العجز مسقطٌ للأمر والنهي وإنْ كان واجبًا في الأصل) [مجموع الفتاوى] (20/61)

    “Ketidakmampuan menggugurkan perintah dan larangan, walaupun hukum asalnya wajib” (Majmu’ul Fatawa, Syaikhul Islam 20/61, yang diringkas dari http://www.dorar.net/article/1760).

    Setelah kita mengetahui hukum mengangkat khalifah itu wajib, sekarang yang menjadi pertanyaan : “Seberapa besarkah kewajiban tersebut? Apakah wajib bagi setiap muslim untuk melaksanakannya, sehingga hukumnya menjadi fardhu ‘ain atau sebatas fardhu kifayah?

    Al-Mawardi rahimahullah menjelaskan hal itu:

    فَصْلٌ: “فِي بَيَانِ حُكْمِ الخِلَافَةِ”
    فَإِذَا ثَبَتَ وُجُوبُ الْإِمَامَةِ فَفَرْضُهَا عَلَى الْكِفَايَةِ كَالْجِهَادِ وَطَلَبِ الْعِلْمِ، فَإِذَا قَامَ بِهَا مَنْ هُوَ مِنْ أَهْلِهَا سَقَطَ فَرْضُهَا عَلَى الْكِفَايَةِ، وَإِنْ لَمْ يَقُمْ بِهَا أَحَدٌ خَرَجَ مِنَ النَّاسِ فَرِيقَانِ:
    أَحَدُهُمَا: أَهْلُ الِاخْتِيَارِ حَتَّى يَخْتَارُوا إمَامًا لِلْأُمَّةِ.
    وَالثَّانِي: أَهْلُ الْإِمَامَةِ حَتَّى يَنْتَصِبَ أَحَدُهُمْ لِلْإِمَامَةِ،

    وَلَيْسَ عَلَى مَنْ عَدَا هَذَيْنِ الْفَرِيقَيْنِ مِنَ الْأُمَّةِ فِي تَأْخِيرِ الْإِمَامَةِ حَرَجٌ وَلَا مَأْثَمٌ،

    Pasal: “Tentang penjelasan hukum Khilafah”.

    Jika (sudah diketahui bahwa) benar-benar terbukti wajibnya menegakkan Imamah (Khilafah Islamiyyah), maka (ketahuilah) kewajiban itu jenisnya adalah fardhu kifayah, seperti jihad dan menuntut ilmu 2, maka jika telah dilaksanakan kewajiban tersebut oleh orang yang berkompeten, maka gugurlah kewajiban tersebut (bagi kaum muslimin yang lainnya) karena telah dilaksanakan olehnya. Dan jika tidak ada seorangpun yang menunaikannya, maka tampillah dua golongan manusia (yang berkewajiban melaksanakannya),

    Golongan Pertama: Ahlul Ikhtiyar (Dewan Perwakilan Rakyat yang bertugas memilih), sampai mereka memilihImam (Khalifah) untuk umat.

    Golongan Kedua :Ahlul Imamah (Orang-orang yang terpenuhi syarat menjadi Imam (Khalifah)), sampai salah satu diantara mereka menjadi Imam (Khalifah) kaum muslimin,

    dan bagi kaum muslimin selain dua golongan manusia tersebut, tidak salah dan tidak pula berdosa ketika terjadi penundaan pengangkatan Imam (Khalifah).

    Dengan penjelasan di atas, jelaslah bahwa penegakkan Khilafah Islamiyyah itu bukanlah fardu ‘ain bagi setiap muslim dan muslimah, namun hukumnya fardhu kifayah, wajib dilaksanakan oleh dua golongan, yaitu: Ahlul Ikhtiyar (Ahlul Halli wal ‘Aqdi) dan Ahlul Imamah.

    Jika hukum penegakkan Khilafah Islamiyyah tidak sampai fardhu ‘ain, bagaimana mungkin ia dikatakan sebagai kewajiban yang terpenting dan paling mulia, yang melebihi kewajiban shalat bahkan melebihi Tauhid?

    Lalu apakah kewajiban yang paling wajib dan terpenting serta paling mulia dalam Islam yang sesungguhnya?

    Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah telah menjelaskan dalam risalah Tsalatsatul Ushul,

    أعظم ما أمر الله به التوحيد

    “Perintah Allah yang terbesar adalah tauhid”

    Mengapa dikatakan Tauhid merupakan perintah Allah yang terbesar? Hal itu dikarenakan,

    • Tauhid itu hak Allah ‘azza wa jalla,

    • Tauhid itu dasar dan asas agama Islam, maka tidaklah suatu ibadah bisa tegak dan diterima kecuali jika didasari dan diiringi dengan Tauhid,

    • Tauhid juga merupakan tujuan diutusnya para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam semuanya, Allah Ta’ala berfirman,
      وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
      Dan sungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (An-Nahl:36).

    • Tidak ada satupun Utusan Allah kecuali mendakwahkan Tauhid,

    • Tauhid adalah tujuan diciptakannya jin dan manusia. Allah Ta’ala berfirman,
      وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
      “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku semata” (Adz- Dzariyaat: 56).

    • Lawan dari Tauhid -yaitu syirik- adalah larangan Allah yang terbesar, jika sampai seseorang melakukan kesyirikan akbar, maka akan menggugurkan seluruh amalnya yang pernah dilakukannya dan Allah tidak akan mengampuni pelakunya sampai ia bertaubat, jika ia mati dalam keadaan tidak bertaubat maka akan masuk Neraka kekal selama-lamanya. Allah Ta’ala berfirman,
      وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
      Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu benar-benar termasuk orang-orang yang merugi” (Az- Zumar:65).

    Kesimpulan:

    Pernyataan bahwa penegakan Khilafah Islamiyyah sebagai “Pokok dari seluruh masalah dalam kehidupan manusia dan prinsip dasar yang paling mendasar!” dan “permasalahan kaum muslimin yang teragung!” adalah pernyataan yang salah dan tidak ada dalilnya.

    Bahkan pernyataan di atas adalah pernyataan yang dusta menurut kesepakatan kaum muslimin dan sebuah bentuk kekufuran.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

    إنَّ القائلإنَّ مسألة الإمامة أهم المطالب في أحكام الدين وأشرف مسائل المسلمين، كاذب بإجماع المسلمين

    “Sesungguhnya orang yang mengatakan: “Masalah Imamah (Khilafah Islamiyyah) adalah tujuan yang tertinggi dalam hukum agama Islam dan permasalahan kaum muslimin yang teragung!”, (maka hakekatnya) ia berdusta menurut kesepakatan kaum muslimin (baca: para ulama)”.

    Bahkan beliau menyatakan bahwa perkataan itu sebagai bentuk kekufuran,

    بل هو كفر فإنَّ الإيمان بالله ورسوله أهم من مسألة الإمامة وهذا معلوم بالاضطرار من دين الإسلام. فالكافر لا يصير مؤمناً حتى يشهد أن لا إله إلا الله وأنَّ محمداً رسول الله

    “Bahkan perkataan tersebut adalah bentuk kekufuran, karena beriman kepada Allah dan Rasul-Nya jelas lebih penting dari pada masalah Imamah (Khalifah Islamiyyah) dan ini merupakan perkara mendasar dalam agama Islam yang sifatnya dhoruri 3. (Sebagaimana diketahui) orang kafir tidaklah sah menjadi seorang beriman sampai bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah” (Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah, Syaikh DRRabii’ Al-Madkhali).

    2. Khilafah Islamiyyah adalah sarana (wasilah) dan bukan tujuan serta bukan pula masalah pokok!

    Demikianlah pemahaman para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Seorang ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah, pakar ilmu Hadits, Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan :

    فالدولة المسلمة – بلا شك – وسيلة لإقامة حكم الله في الأرض ، وليست غاية بحد ذاتها

    “Maka Negara Islam -tanpa diragukan lagi- kedudukannya sebagai sarana untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi, dan bukan sebagai tujuan itu sendiri” (http://www.alalbany.net/4377).

    Syaikh DR. Shaleh Al-Fauzan hafizhahullah, salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ahli Fikih sekaligus seorang mufti senior pernah mengatakan,

    إن تحكيم الشريعة وإقامة الحدود وقيام الدولة الإسلامية واجتناب المحرمات وفعل الواجبات كل هذه الأمور من حقوق التوحيد ومكملاته وهي تابعة له فكيف يعتنى بالتابع ويهمل الأصل؟

    “Sesungguhnya penegakkan hukum Syari’at, penegakan hukum pidana, serta penegakan Daulah Islamiyyah, menjauhi keharaman dan mengerjakan kewajiban, hakekatnya semua perkara itu merupakan hak-hak tauhid dan kesempurnaannya, dan semua perkara itu mengikuti tauhid! Bagaimana mungkin perkara yang statusnya sebagai pengikut begitu diperhatikan, sedangkan perkara yang pokok justru ditelantarkan?” (Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah, Syaikh DR. Rabii’ Al-Madkhali).

    Coba bandingkan ucapan dua ulama besar tersebut dengan ucapan berikut ini,

    (إنّ غاية الدين الحقيقيّة إقامة نظام الإمامة الصالحة الراشدة)

    Sesungguhnya tujuan agama Islam yang sebenarnya adalah mendirikan sistem Imamah yang baik dan lurus (baca: mendirikan Imamah/Khilafah Islamiyyah /Pemerintahan Islam)!

    Sungguh sangat batillah pernyataan di atas, karena konsekwensi dari ucapan di atas adalah bahwasanya tauhid, shalat, puasa, zakat dan semua ajaran agama Islam yang lainnya, hakekatnya merupakan sarana semata, untuk satu tujuan agama Islam, yaitu : penegakan Imamah (Khilafah Islamiyyah)!

    Sebuah ucapan yang tidak ada satupun dalil yang mendasarinya.

    3. Masalah Khilafah Islamiyyah tidaklah disebutkan secara mendominasi di dalam Alquran dan As-Sunnah

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

    فمن المعلوم أنَّ أشرف مسائل المسلمين، وأهم المطالب في الدين ينبغي أن يكون ذكرها في كتاب الله تعالى أعظم من غيرها، وبيان الرسول لها أولى من بيان غيرها، والقرآن مملوء بذكر توحيد الله تعالى، وذكر أسمائه، وصفاته، وآياته، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، والقصص، والأمر والنهي، والحدود والفرائض، بخلاف الإمامة، فكيف يكون القرآن مملوءً بغير الأهم الأشرف؟

    “Merupakan perkara yang telah diketahui bahwa suatu perkara kaum muslimin yang sifatnya teragung sekaligus ia merupakan tujuan yang terpenting dalam agama Islam, selayaknyalah hal itu disebutkan dalam Kitabullah Ta’ala lebih besar daripada penyebutan perkara selainnya, dan penjelasan Rasulullah terhadapnya, selayaknyalah lebih utama daripada penjelasan beliau tentang perkara selainnya. Sedangkan (kenyataannya) Aquran penuh dengan penyebutan Tauhidullah Ta’ala, nama dan sifat-Nya, Ayat-Ayat, Malaikat dan Kitab-Kitab dan para Rasul-Nya serta hari Akhir serta kisah-kisah,perintah, larangan, hukuman Had dan kewajiban-kewajiban.

    Namun, untuk masalah Imamah (Khilafah Islamiyyah) tidaklah demikian 4! Maka bagaimana mungkin Alquran dikatakan dipenuhi dengan perkara yang tidak paling penting dan tidak pula paling mulia?” (Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah, Syaikh DR. Rabii’ Al-Madkhali).

    4. Suatu perkara yang sangat mendasar sekali dalam Islam bahwa dari dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mempersyaratkan pengetahuan tentang Imamah sebagai syarat kesahan keimanan orang yang masuk Islam.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

    وأيضا فنحن نعلم بالاضطرار من دين محمد بن عبد الله – صلى الله عليه و سلم – أنَّ الناس كانوا إذا أسلموا لم يجعل إيمانّم موقوفا على معرفة الإمامة

    “Dan kami juga mengetahui -dengan pengetahuan yang sifatnya dharuri 5 dalam agama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam– bahwa sejak dahulu manusia jika masuk Islam tidak pernah dipersyaratkan harus mengetahui masalah Imamah (Khilafah Islamiyyah) , untuk menyatakan kesahan iman mereka!” (Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah, Syaikh DR. Rabii’ Al-Madkhali).

    5. Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyebutkan Imamah sebagai salah satu dari rukun Iman

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

    قوله: ( وهي أحد أركان الإيمان المستحق بسببه الخلود في الجنان ). فيقال: من جعل هذا من أركان الإيمان إلا أهل الجهل والبهتان؟!

    “Ucapannya6 : “Dan Imamah adalah salah satu dari rukun Iman, yang dengan sebabnya, (seorang hamba) bisa kekal di Surga”. Maka bantahannya adalah bahwa tidaklah seseorang menjadikan ini sebagai bagian dari rukun Iman kecuali ia adalah orang bodoh dan pendusta!” (Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah, Syaikh DR. Rabii’ Al-Madkhali).

    Mengapa demikian wahai saudaraku?

    Karena di dalam dalil-dalil, baik itu Alquran maupun As-Sunnah, tidak pernah ada satupun dalil yang menunjukkan adanya masalah Imamah sebagai salah satu dari rukun Iman!

    Contohnya, firman Allah Ta’ala :

    لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ

    Bukanlah menghadapkan wajah kalian ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, Kitab-Kitab, Nabi-Nabi…” (Al-Baqarah:177).

    Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berdialog dengan Jibril ‘alaihis salam,

    فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.

    “Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman?“ Beliau bersabda, “Kamu beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya,Rasul-Rasul-Nya dan hari Akhir, dan kamu beriman kepada Qadar yang baik maupun yang buruk” (HR. Muslim).

    Dari kedua dalil di atas dan dalil-dalil yang lainnya tentang rukun Iman, maka tidak ada satupun dalil yang menunjukkan masalah Imamah sebagai salah satu dari rukun Iman!

    6. Para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam meyelesaikan berbagai problem umatnya masing-masing, tidak pernah seorangpun diantara mereka yang menjadikan masalah Imamah sebagai solusi terpenting dan pertama sebelum yang lainnya!

    Bahkan dakwah mereka ‘alaihimush shalatu was salam adalah dakwah Tauhid, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat Alquran, seperti dalam Al-A’raaf: 59, 65, 73 dan 85.

    Seluruh para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam walaupun mereka menghadapi umat yang berbeda-beda dan problematika yang berbeda-beda, namun tetaplah dakwah Tauhid sebagai asas dakwah mereka.

    Namun yang perlu diketahui, bukan berarti seorang da’i ketika ingin mencontoh dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam lalu ia tidak mendakwahkan ajaran agama Islam yang lainnya selain Tauhid! Yang benar bukan demikian, karena yang dimaksud di sini adalah menjadikan dakwah Tauhid sebagai dakwah yang pokok, terpenting dan yang pertama.

    7. Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Utusan Allah yang terbaik, beliau pun dalam meyelesaikan berbagai problem umatnya, tidak pernah menjadikan masalah Imamah sebagai solusi terpenting dan pertama!

    Untuk pembahasan tentang bagaimana dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menyelesaikan problematika umat? Silahkan membaca artikel : “Dakwah Khilafah Ataukah Dakwah Tauhid?“.

    Walhamdulillaah Rabbil’alamiin.

    ***

    Catatan kaki

    Lihat penjelasan tentang makna Khilafah Islamiyyah pada artikel ke-2 tersebut.

    2 Jenis ilmu-ilmu yang fardhu kifayah.

    3 Ilmu yang wajib bagi setiap muslim mengetahuinya dan mudah diketahui setiap muslim.

    4 Tidak disebutkan mendominasi dan tidak paling ditekankan dalam Alquran dan As-Sunnah.

    5 Ilmu yang wajib bagi setiap muslim mengetahuinya dan mudah diketahui setiap muslim.

    6 Ucapan penulis syi’ah rafidhah.

    Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

    Artikel Muslim.Or.Id

    Sumber: https://muslim.or.id/25559-benarkah-khilafah-islamiyyah-adalah-tujuan-3.html

Benarkah Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan? (2)

Benarkah Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan? (2)

  • Bukti-bukti adanya  beberapa jama’ah dakwah yang menyelisihi manhaj dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam

    Sejak dahulu, ulama kita telah memperingatkan adanya jama’ah dakwah yang memiliki manhaj (metode) dakwah yang menyelisihi manhaj dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam.

    Pernyataan di atas bukanlah omong kosong, tanpa bukti-bukti nyata. Sepak terjang sebagian orang-orang yang aktif dalam dunia dakwah yang menyimpang, kisah sebagian pemuda yang keluar masuk beberapa jama’ah dakwah tersebut ataupun beberapa keterangan para pemerhati jama’ah-jama’ah dakwah itu serta majelis ta’lim, buku-buku dan ucapan-ucapan para pemimpin jama’ah-jama’ah dakwah yang menyelisihi manhaj dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam tersebut cukuplah menjadi bukti benarnya sinyalemen para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah di atas. (tentang fenomena pahit tersebut, silahkan baca: Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan, benarkah? (1)).

    Dan diantara syubhat dan penyimpangan besar yang menyelisihi manhaj dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam adalah berlebih-lebihan (ghuluw) dalam  menyikapi penegakan Khilafah Islamiyyah. Lalu apakah Khilafah Islamiyyah itu?

    Definisi Khilafah

    Secara bahasa, kata khilafah adalah kata dasar dari

    خلَفَ  يَخْلُفُ خَلَفٌ ، خِلْفَة و خِلاَفَة وخُلوفًا

    Dalam bahasa Arab jika disebutkan kalimat

    خلفه خليفة (Ia telah digantikan oleh seorang pengganti)

    maknanya adalah ada orang yang telah menjadi penggantinya dan datang/hidup sesudahnya.

    Pelakunya dinamakan خَليفة (khaliifah), bentuk jamaknya adalah خلائفُ و خُلَفاءُ (khalaaif dan khulafaa`)

    Sinonim dari kata Khaliifah adalah sulthoon, ro`iis, imaam, amiir dan haakim.

    Secara istilah, ulama rahimahullah telah mendefinisikan kata khaliifah secara istilah dengan berbagai macam definisi, walau berbeda-beda lafadznya namun sama inti maknanya. Berkata Al-Maawardi rahimahullah :

    الْإِمَامَةُ : مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا

    Imamah adalah (Kepemimpinan) yang diperuntukkan untuk menggantikan tugas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjaga agama Islam dan mengatur dunia. (Al-Ahkaam As-Sulthooniyyah, hal. 3 (PDF)).

    Istilah khaliifah ini sebenarnya sudah diperkenalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya,

    فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مَنْكُمْ بَعْدي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا ، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

    “Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku, dan sunnah Al-Khulafa` Ar-Rasyidin yang terbimbing, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham (maksudnya: peganglah dengan seteguhnya)”. (Shahih, HR. Abu Dawud, dan yang lainnya).

    Dari penjelasan di atas maka dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa Khilafah Islamiyyah intinya adalah sistem pemerintahan Islam yang mengumpulkan umat Islam ini di bawah satu pemimpin muslim, guna menerapkan hukum berdasarkan Syari’at Allah di atas manhaj Nubuwwah.

    Setelah kita membaca keterangan di atas, di dalam artikel bagian ke-2 ini penulis -dengan memohon taufik kepada Allah- hendak menfokuskan memperingatkan kesalahan-kesalahan dalam mensikapi dan meyakini penegakan Khilafah Islamiyyah, karena banyak diantara kaum muslimin yang terjatuh dalam masalah ini serta karena begitu besarnya bahaya yang ditimbulkannya.

    Penulis ambilkan beberapa nukilan tentang kesalahan-kesalahan tersebut di bawah ini dari kitab Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah, Syaikh Rabii’ Al-Madkhali hafizhahullah.

    1. Salah memahami tujuan Agama Islam

    Diantara bentuk penyimpangan tersebut adalah pernyataan,

    (إنّ غاية الدين الحقيقيّة إقامة نظام الإمامة الصالحة الراشدة)

    “Sesungguhnya tujuan agama Islam yang sebenarnya adalah mendirikan sistem kepemimpinan pemerintahan yang baik dan lurus (baca: mendirikan Imamah/Khilafah Islamiyyah /Pemerintahan Islam).

    Konsekwensi dari ucapan di atas adalah tauhid, shalat, puasa, zakat dan ajaran agama Islam yang lainnya, hakekatnya merupakan sarana semata untuk satu tujuan agama ini, yaitu : Imamah (kepemimpinan pemerintahan Islam/ Khilafah Islamiyyah), dan ini adalah pernyataan yang batil!

    2. Salah memahami ibadah

    Menyimpang dari manhaj dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam membuahkan buah yang pahit, seperti terjerumus dalam kesalahan yang fatal dalam memahami peribadatan dalam agama Islam ini, hal itu nampak dari pernyataan salah satu tokoh jama’ah dakwah berikut ini:

    Kalian menyangka bahwa “berdiri menghadap kiblat, meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, ruku’ bersandar (tangan) pada lutut, sujud di atas tanah dan membaca beberapa kalimat (dzikir) tertentu”- semua perbuatan dan gerakan-gerakan ini (kalian sangka)- merupakan ibadah tujuan (maksudnya: bukan ibadah perantara)?

    Demikian pula puasa dari awal Ramadhan sampai awal Syawwal, rasa lapar dan haus dari pagi sampai sore (kalian sangka) itu adalah ibadah tujuan? ,membaca beberapa ayat Alquran itu ibadah tujuan?, dan tawaf disekitar Ka’bah adalah ibadah tujuan?…

    Jadi, menurutnya, ibadah-ibadah yang agung tersebut kedudukannya sebatas sebagai sarana saja (baca: ibadah perantara) untuk sampai kepada ibadah tujuan dan ibadah yang pokok! Ini adalah sebuah keyakinan yang sangat merusak!

    Dalam kelanjutan pernyataan di atas, ia mengatakan :

    ( وبالجملة: فإنّكم قد سميتم ظواهر بعض الأعمال عبادة عندما يقوم شخص بأداء هذه الأفعال بأشكالها وصورها تظنّون أنّه قد عبد الله … والحق أنّ العبادة التي خلقكم الله من أجلها والتي أمركم بأدائها هي شيء آخر)

    Dan kesimpulannya adalah : Sebenarnya kalian telah sebut lahiriyyah sebagian amal-amal tersebut di atas sebagai sebuah ibadah, jadi ketika seseorang melaksanakan amal-amal itu dengan berbagai corak ragamnya, kalian sangka bahwa ia telah beribadah kepada Allah (dengan amal-amal tersebut)??…dan yang benar adalah bahwa ibadah yang dengan sebabnya Allah menciptakan kalian dan Allah perintahkan kalian untuk menunaikannya adalah perkara  selain itu semua (ibadah tujuan)!!

    Maksudnya: tujuan disyari’atkan ibadah-ibadah tersebut sekaligus tujuan diciptakan manusia adalah ibadah merealisasikan Imamah/Khilafah Islamiyyah! Tentunya,ini adalah kesalahan yang sangat fatal!

    Dalam ucapan yang lain, ia mengatakan:

    ( هذا هو الغرض الذي من أجله فرضت الصلاة والصوم والزكاة والحج في الإسلام )

    Ini (yaitu: seputar masalah Imamah/Khilafah Islamiyyah,pent) adalah sebuah tujuan yang dengan sebabnyalah diwajibkan shalat, puasa, zakat dan haji di dalam Islam.

    Maksudnya: disyari’atkannya ibadah-ibadah yang telah disebutkan di atas, yang sebenarnya termasuk bagian dari rukun Islam itu  semua kembali kepada satu tujuan, yaitu untuk merealisasikan penegakan Imamah/ Khilafah Islamiyyah!

    Dan hal ini adalah sebuah pemahaman yang salah, yang tidak ada dalilnya dalam Al Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafush Shaleh.

    3. Salah memahami tujuan  risalah para Nabi Allah ‘alaihimush shalatu was salam

    Fenomena yang pahit ternyata tidak cukup sekedar menyimpang dari manhaj dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, bahkan kenyataan yang ada justru malah memahami sesuatu yang bukan sebagai manhaj dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam disangka sebagai manhaj mereka ‘alaihimush shalatu was salam. Berikut pernyataan yang menyimpang tersebut,

    (ولأجل ذلك ما زالت الغاية المنشودة من رسالة أنبياء الله عليهم السلام في هذه الدنيا أن يقيموا فيها الحكومة الإسلاميَّة)

    Karena itulah, senantiasa tujuan yang tertuntut dari risalah yang dibawa para Nabi Allah ‘alaihimus salam di dunia ini adalah menegakkan pemerintahan Islam.

    4. Perhatian yang berlebihan terhadap politik

    Akibat dari tidak mendahulukan apa yang didahulukan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdakwah, maka sebagian jama’ah dakwah terjebak dengan perhatian yang berlebihan dalam masalah politik, karena menurut mereka, salah satu pintu terbesar untuk sampai kepada tampuk kepemimpinan Khilafah Islamiyyah adalah politik!

    Ini menyebabkan mereka banyak menelantarkan sisi yang terbesar dan peringkat pertama dalam dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, yaitu aqidah/keyakinan yang benar, yaitu tauhid!

    5. Salah memahami akar kerusakan suatu negeri

    Adalah sebuah anilisis yang tidak tepat, ketika dinyatakan,

    ( إنَّ قيادة الفجار هي منشأ جميع الكوارث والنكبات التي مني بها الجنس البشري )

    Sesungguhnya kepemimpinan orang-orang yang tidak shaleh (suka maksiat) adalah sumber malapetaka dan bencana yang menimpa manusia.

    Apakah jika tampuk kekuasaan sudah berhasil dikuasai, lalu diangkatlah pemimpin negara itu dari orang yang shalih, pasti hal itu jaminan keamanan negara tersebut dari malapetaka walau bagaimanapun keadaan masyarakatnya??

    6. Menyerupai ucapan syi’ah rafidhah

    Sesungguhnya berlebih-lebihan dalam mensikapi penegakkan Khilafah Islamiyyah adalah sebuah sikap yang pernah ditunjukkan oleh syi’ah rafidhah pada zaman Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah. Beliau pernah menukilkan perkataan seorang penulis syi’ah rafidhah sebagai berikut:

    (قال المصنف الرافضي: أمَّا بعد فهذه رسالة شريفة ومقالة لطيفة اشتملت على أهم المطالب في أحكام الدين وأشرف مسائل المسلمين وهي مسألة الإمامة، التي يحصل بسبب إدراكها نيل درجة الكرامة، وهي أحد أركان الإيمان المستحق بسببه الخلود في الجنان، والتخلص من غضب الرحمن )

    Berkata penulis syi’ah rafidhah : “Adapun sesudah itu, buku ini adalah tulisan yang mulia dan makalah ringan, mencakup cita-cita terpenting dalam masalah hukum Agama dan masalah kaum muslimin yang termulia, yaitu permasalahan Imamah (Khilafah). Yang dengan meraihnya, maka akan meraih kemuliaan. Dan Imamah adalah salah satu dari rukun Iman, yang dengan sebabnya, (seorang hamba) bisa kekal di Surga dan terhindar dari murka Allah”.

    7. Kesalahan dalam menilai bahwa penegakan Khilafah Islamiyyah lah hakekatnya akar masalah dan pokok yang paling mendasar serta permasalahan kaum muslimin yang teragung

    Inilah bukti kesalahan tersebut, seorang da’i sebuah jama’ah dakwah menyatakan bahwa penegakan Khilafah Islamiyyah disebut sebagai:

    ( مسألة المسائل في الحياة الإنسانيَّة وأصل أصولها )

    Pokok dari seluruh masalah dalam kehidupan manusia dan prinsip dasar yang paling mendasar!

    (وأشرف مسائل المسلمين)

    Dan (hal itu) adalah permasalahan kaum muslimin yang teragung 

    8.  Kesalahan menilai bahwa : “Penegakan Khilafah Islamiyyah merupakan salah satu dari rukun iman!”

    Sungguh suatu pernyataan yang tidak berdasar, jika dikatakan:

    ( وهي أحد أركان الإيمان )

    (Penegakan Khilafah Islamiyyah) adalah salah satu dari rukun Iman!!

    Sebuah ucapan yang tidak pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum!

    Itulah beberapa penyimpangan jama’ah dakwah dari manhaj para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, walaupun sebenarnya masih banyak bentuk-bentuk penyimpangan dakwah yang lainnya, namun beberapa contoh di atas semoga sudah cukup menggugah kesadaran kaum muslimin terhadap bahayanya menyelisihi manhaj para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam dalam menyelesaikan problematika umat Islam ini.

    Bayangkan jika seandainya setiap organisasi dakwah merumuskan manhaj sendiri-sendiri yang  menyelisihi manhaj para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam, maka perpecahan dan perselisihan umat menjadi suatu hal yang tidak bisa dihindari! Camkanlah!

    Sanggahan para ulama rahimahullah

    Sebelum kita menyimak sanggahan para ulama rahimahullah dengan rinci terhadap beberapa kesalahan dan penyimpangan prinsip dakwah yang telah disebutkan di atas, berikut ini penjelasan secara global tentang bantahan ilmiyyah tersebut.

    Para ulama kita rahimahullah telah menjelaskan bahwa :

    1. Menegakkan Khilafah Islamiyyah memang wajib hukumnya, namun ingat, didalam Islam segala sesuatu haruslah diletakkan pada tempatnya, termasuk masalah ini. Jadi sebenarnya Khilafah Islamiyyah wajib hukumnya, namun ia bukanlah kewajiban yang paling wajib dan yang paling penting dalam Islam.
    2. Ulama rahimahullah juga menjelaskan bahwa Khilafah Islamiyyah adalah wasilah (perantara) dan bukan tujuan!
    3. Bahkan sesungguhnya pernyataan bahwa masalah Imamah/ Khilafah Islamiyyah adalah tuntutan tertinggi dan ajaran teragung lagi terpenting dalam Islam itu adalah sebuah kedustaan menurut kesepakatan kaum muslimin dan bahkan merupakan suatu bentuk kekufuran.
    4. Tidak adanya penyebutan tentang Khilafah Islamiyyah dalam bentuk yang mendominasi dan yang lebih besar penegasannya di dalam Al Quran dan As-Sunnah, ini hakekatnya merupakan bukti bahwa  Imamah/ Khilafah Islamiyyah bukanlah perkara yang terpenting dalam Syari’at Allah
    5. Suatu perkara yang sangat mendasar sekali dalam Islam bahwa dari dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mempersyaratkan pengetahuan tentang Imamah sebagai syarat kesahan keimanan orang yang masuk Islam.
    6. Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyebutkan Imamah sebagai salah satu dari rukun iman.
    7. Para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam dalam meyelesaikan berbagai problem umatnya masing-masing, tidak pernah seorangpun diantara mereka yang menjadikan masalah Imamah sebagai solusi terpenting dan pertama sebelum yang lainnya!
    8. Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Utusan Allah yang terbaik, beliau pun dalam meyelesaikan berbagai problem umatnya, tidak pernah menjadikan masalah Imamah sebagai solusi terpenting dan pertama!

    Adapun penjelasan lebih lanjut tentang point-point bantahan tersebut, dapat Anda baca di artikel selanjutnya : Benarkah Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan? (3).  In sya Allah.

    ***

    Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

    Artikel Muslim.Or.Id

    Sumber: https://muslim.or.id/25542-benarkah-khilafah-islamiyyah-adalah-tujuan-2.html

Benarkah Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan? (1)

Benarkah Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan? (1)

  • Menyoal Solusi Problematika Umat

    Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du :

    Fenomena pahit

    Ingatlah wahai saudaraku, dakwah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam berdiri di atas pilar-pilar yang kokoh, jika salah satu pilar tersebut tidak ada , maka tidaklah sebuah dakwah dikatakan sebagai dakwah yang benar dan tidak akan membuahkan buah yang diharapkan dengan sempurna, walaupun dikerahkan berbagai daya upaya dan dihabiskan waktu yang lama untuk dakwah tersebut, sebagaimana hal ini terjadi dalam kenyataan, banyaknya gerakan dakwah masa kini, yang dakwah mereka tidak terbangun di atas pilar-pilar dakwah para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam tersebut.

    Sejak dahulu, ulama telah memperingatkan adanya jama’ah dakwah yang memiliki manhaj (metode) dakwah yang menyelisihi manhaj dakwah para Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berkata salah seorang ulama dan mufti senior, Syaikh Shaleh Al-Fauzan hafizhahullah :

    Dan sesungguhnya gerakan dakwah apapun, yang tidak tegak di atas beberapa asas dakwah ini (yaitu: beberapa pilar dakwah yang telah disebutkan sebelumnya oleh beliau, silahkan baca: Pilar-Pilar Dakwah Para Nabi ‘alaihimus salam dalam Menyelesaikan Problematika Umat 1-4, pent)dan manhaj (metodologi) gerakan dakwah tersebut tidak berdiri di atas manhaj para Rasul, maka tidak akan membuahkan hasil, malah pudar dan hanya akan menghasilkan kepayahan tanpa faedah yang berarti.

    Bukti paling baik yang menunjukkan benarnya pernyataan di atas adalah adanya beberapa jama’ah dakwah zaman ini yang mencanangkan manhaj dakwah yang berbeda dengan manhaj para Rasul, beberapa jama’ah dakwah tersebut -kecuali sedikit diantara mereka- telah menutup perhatian sisi (yang paling mendasar, yaitu) aqidah (Tauhid), hingga akibatnya mereka berdakwah dengan berkutat pada perbaikan sisi-sisi lainnya (sementara sisi aqidah/Tauhid tidak mendapatkan perhatian besar,pent).

    (Misalnya) Kelompok dakwah yang gerakan dakwahnya memperbaiki hukum dan politik, serta menuntut penegakan hukum-hukum Syar’i dan penerapan Syari’at yang terkait dengan masalah mu’amalah antar manusia, ini memang persoalan yang penting (untuk diperjuangkan), namun bukanlah sisi yang terpenting” (Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah, Syaikh Rabii’ Al-Madkhalipada bagian muqodimah, hal.9).

    Beberapa bentuk aktivitas dakwah dalam menyelesaikan problematika umat

    Syaikh Rabii’ Al-Madkhali hafizhahullah menyebutkan dalam kitab di atas beberapa corak dakwah yang terpenting untuk dibahas, guna menangani problematika umat ini.

    Beberapa bentuk aktivitas dakwah tersebut adalah sebagai berikut:

    Pertama, jama’ah (baca: kelompok) yang mengambil manhaj para Rasul dalam aqidah (Tauhid), ibadah dan dakwah, berpegang teguh dengan Kitab Rabb mereka serta Sunnah Nabi mereka. Mereka pun meniti jalan Salafus Shaleh dalam aqidah, dakwah dan ibadah mereka.

    Inilah jalur yang wajib kaum muslimin lalui, dalam rangka melaksanakan firman Allah Ta’ala :

    وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

    “Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai”. (Ali ‘Imraan: 103).

    Allah meridhoi mereka (kelompok ini), karena -dengan taufik Allah- mereka mengerahkan segala daya upaya agar sesuai dengan manhaj yang benar, baik dalam hal ilmu (keyakinan), amal maupun dakwah, merekapun bersabar di atas jalan yang benar, sehingga menuai hasil yang diharapkan, berupa kemuliaan, kejayaan dan kebahagiaan umat ini.

    Kedua, jama’ah yang memberikan perhatian besar terhadap sebagian amal shaleh, namun terpengaruh oleh aliran tarekat sufiyyah yang menggoncangkan aqidah (Tauhid) sekian banyak pengikutnya dan terdapat beberapa pelanggaran dalam masalah aqidah (Tauhid) dan ibadah mereka.

    Ketiga, jama’ah yang memberikan perhatian besar terhadap masalah politik, ekonomi dan sosial kemasyarakatan agar sesuai dengan ajaran Islam. Perhatian besar mereka ini nampak dalam tulisan-tulisan, mimbar-mimbar dan universitas-universitas mereka. Mereka pun juga berupaya besar menegakkan Daulah Islamiyyah dan berhukum dengan hukum Allah.

    Dalam bidang perekonomian Islam pun mereka juga memberikan perhatian yang besar. Mereka mengerahkan usaha keras untuk mewujudkan semua ini. Sebenarnya perhatian mereka yang besar ini merupakan suatu yang patut disyukuri dan sebagian usaha mereka merupakan perkara yang bermanfa’at bagi umat ini, khususnya pada saat-saat ini. Namun yang harus dikritisi gerakan dakwah ini adalah bersamaan dengan semua itu, Keteledoran mereka dalam masalah aqidah (Tauhid) sangat nampak jelas. Kalaulah seandainya mereka juga mengerahkan kekuatan yang maksimal untuk memberikan perhatian yang besar terhadap perbaikan aqidah sesuai dengan manhaj para Nabi dalam memberantas kesyirikan, kebid’ahan, khurafat dan keyakinan-keyakinan yang batil, tentulah mereka telah ikut andil besar bagi kejayaan Islam dan muslimin.

    Dan tentulah mereka dikatakan telah memasuki “rumah melalui pintunya”, maksudnya mereka berdakwah dan memperbaiki umat dengan manhaj (metodologi) yang benar sesuai dengan manhaj para Nabi ‘alaihimush shalatu was salam. (Diringkas dari : Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah, Syaikh Rabii’ Al-Madkhali,hal.135-137).

    Renungan sejenak sebelum rincian penjelasan

    Beberapa seri artikel ini, hakekatnya sebagai usaha para ulama kita rahimahumullah dalam menunjukkan solusi bagi problematika umat ini, sekaligus merupakan bentuk nasehat dari ulama kita khususnya bagi para da’i –jazahumullahu khaira- yang telah menghabiskan umurnya guna menyelesaikan problematika umat ini.

    Dan sesungguhnya para ulama sekarang menyampaikan nasehat ini, karena bertolak dari tugas dan tanggung jawab yang besar mereka di hadapan Allah untuk menjelaskan agama Islam ini kepada manusia, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

    وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ

    “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu): “Hendaklah kalian menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya” (Ali ‘Imraan: 187).

    Disamping juga, sebagai bentuk menteladani para ulama dan da’i umat ini yang tulus ikhlas menasehati umat Islam, dari semenjak kurun para sahabat radhiyallahu ‘anhum hingga para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah zaman sekarang rahimahumullah yang mendahului mereka dalam menyayangi dan menasehati umat ini.

    Oleh karena itu, selayaknyalah bagi para aktivis dakwah yang bersentuhan langsung dengan masalah ini, berlapang dada dan berhusnuzh zhan (berprasangka baik) kepada saudaranya yang menasehati mereka, serta membuka selebar-lebarnya pintu hatinya untuk menerima kritikan ilmiyyah, demi meraih keridhoan Rabbul ‘alamin, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita bagaimana berlapang dada menerima kebenaran. (Diringkas dari Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah, Syaikh Rabii’ Al-Madkhali, hal.137-138).

    Sobat,bukankah di dalam surat An-Naml, Nabi Sulaiman ‘alaihis salam juga menerima alasan ilmiyyah seekor burung Al-Hud-hud?

    Ini adalah artikel bagian pertama, yang berisikan pengantar untuk memasuki penjelasan berikutnya (pada artikel ke-2) tentang “Bukti-bukti benarnya pernyataan tentang adanya jama’ah dakwah yang memiliki manhaj (metode) dakwah yang menyelisihi manhaj dakwah para Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam ”.

    Dan sekilas akan dijelaskan pula apa makna Khilafah Islamiyyah ituSilahkan baca selengkapnya di : Benarkah Khilafah Islamiyyah Adalah Tujuan? (2).

    ***

    Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

    Artikel Muslim.Or.Id

    Sumber: https://muslim.or.id/25535-benarkah-khilafah-islamiyyah-adalah-tujuan-1.html

Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (2)

Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (2)

  • Bismillah walhamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

    Mempelajari nama dan sifat Allah Ta’ala memiliki pengaruh besar dalam kehidupan seorang hamba. Secara lahir dan batin, ucapan dan perbuatannya akan terbimbing dengan memahami dan melaksanakan tuntutan peribadatan yang terkandung dalam nama dan sifat Allah tersebut. Di antara nama-nama-Nya yang maha indah dan sangat perlu untuk kita ketahui dalam menghadapi berbagai pernak-pernik problem aktifitas mencari rezeki  adalah nama Allah الرَزَّاقُ (Ar-Razzaq, artinya: Yang Banyak Memberi rezeki).

    Makna  الرَزَّاقُ (Ar-Razzaaq) dan perbedaan antaraاَلرَّزْقُ (Ar-Razqu) dengan اَلرِّزْقُ (Ar-Rizqu)

    Termasuk nama-nama Allah yang husna (terindah) adalah الرَزَّاقُ (Ar-Razzaaq, artinya Yang Banyak Memberi rezeqi) dan الرَازِقُ  (Ar-Raaziq, artinya Yang Maha Memberi rezeki). Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam bait Nuniyyah nya mengatakan,

    وكذلك الرزَّاقُ من أسمائه   #    والرَّزْقُ من أفعالهِ نوعانِ

    Demikian pula Ar-Razzaaq adalah salah satu dari nama-nama-Nya # Adapun Ar-Razqu adalah salah satu dari perbuatan-perbuatan-Nya, ini terbagi menjadi dua macam.”

    Syaikh Dr. Muhammad Khalil Al-Harras hafizhahullah menjelaskan bait Imam Ibnul Qoyyim di atas,  “Salah satu nama Allah Subhanahu adalah اَلرَّزَّاقُ (Ar-Razzaq, artinya Yang Banyak Memberi rezeki) merupakan bentuk mubalaghah (penyangatan) dari kata اَلرَّازِقُ (Ar-Raaziq, artinya Pemberi rezeki).

    Perubahan bentuk kata tersebut menunjukkan sesuatu yang banyak, diambil dari kata اَلرَّزْقُ dengan fathah huruf “ra`” (Ar-Razqu yang bermakna pemberian rezeki), yang merupakan bentuk mashdar (kata dasar). Adapun اَلرِّزْقُ dengan kasrah huruf “ra`” (Ar-Rizqu) adalah sebutan bagi sesuatu yang Allah berikan kepada para hamba-Nya berupa rezeki. Makna  اَلرَّزَّاقُ (Ar-Razzaaq) adalah Yang Banyak Memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya, yang bantuan dan keutamaan-Nya  tidak terputus diberikan kepada mereka, walau sekejap mata.

    Adapun kata اَلرَّزْقُ (Ar-Razqu, artinya pemberian rezeki) sama dengan kata Al-Khalqu (penciptaan), yaitu sebagai salah satu sifat fi’liyyah (sifat perbuatan) yang merupakan salah satu sifat-sifat-Nya sebagai Rabb (baca; sifat Rububiyyah)” (Syarh Nuuniyyah,Syaikh DR. Muhammad Khalil Al-Harras (Pdf),jilid 2/110).

    Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa,

    • Nama Allah اَلرَّزَّاقُ (Ar-Razzaq, artinya Yang Banyak Memberi rezeqi). اَلرَّزَّاقُ merupakan bentuk mubalaghah (penyangatan) dari kata اَلرَّازِقُ . Ini menunjukkan makna yang banyak. Hal ini menunjukkan banyaknya rezeki yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya dan juga menunjukkan banyaknya hamba-Nya yang mendapatkan rezeki tersebut.
    • Nama Allah اَلرَّازِقُ (baca: Ar-Raaziq, artinya: Yang Maha Memberi rezeki). Sifat Allah yang terkandung dalam dua nama tersebut adalahاَلرَّزْقُ (Ar-Razqu yang bermakna pemberian rezeki).

    Perbedaan nama Allah اَلرَّزَّاقُ (baca : Ar-Razzaq,artinya: Yang Banyak Memberi rezeqi) dengan اَلرَّازِقُ (baca: Ar-Raaziq, artinya: Yang Maha Memberi rezeki)

    Nama اَلرَّازِقُ (Ar-Raaziq, artinya Yang Maha Memberi rezeki) menunjukkan kepada Dzat yang memberi rezeki seluruh makhluk dan Dia pula yang menjamin penyempurnaan rezeki seluruh makhluk-Nya, tidaklah mati satu makhluk pun kecuali telah Dia sempurnakan rezekinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِىَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِى الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ

    “Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, karena tidaklah suatu jiwa akan mati hingga terpenuhi rezekinya, walau lambat rezeki tersebut sampai kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan pilihlah cara yang baik dalam mencari rezeki, ambillah rezeki yang halal dan tinggalkanlah rezeki yang haram” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

    Jadi, اَلرَّازِقُ (Ar-Raaziq) mengandung sifat اَلرَّزْقُ (Ar-Razq) yang bermakna pemberian rezeki. Dan Allah disebut اَلرَّازِقُ (Ar-Raaziq) artinya Allah memberi rezeki kepada seluruh makhluk tanpa kecuali. Adapun اَلرَّزَّاقُ  (Ar-Razzaq) menunjukkan makna banyak memberi rezeki, sehingga اَلرَّزَّاقُ  (Ar-Razzaq) artinya Yang Banyak Memberi rezeki. Dia memberi rezeki yang satu kemudian rezeki yang lain dalam jumlah yang sangat banyak.

    (Diolah dari http://www.kalemtayeb.com/index.php/kalem/safahat/item/22527)

    Hanya Allah lah satu-satunya yang mampu memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya

    Syaikh Dr. Muhammad Khalil Al-Harras berkata, “Sifat Ar-Razqu (pemberian rezeki) tidak boleh disematkan kepada selain Allah, sehingga selain Allah, tidak boleh disebut Ar-Raaziq (Sang Pemberi rezeki) sebagaimana tidak boleh disebut Al-Khaaliq (Sang Pencipta)(Syarh Nuuniyyah, Syaikh DR. Muhammad Khalil Al-Harras (Pdf),jilid 2/110).

    Dalil bahwa hanya Allah lah satu-satunya yang mampu memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya adalah firman Allah Ta’ala,

    اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۖ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَٰلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

    “Allah-lah yang menciptakan kalian, kemudian memberi kalian rezeki, kemudian mematikan kalian, kemudian menghidupkan kalian (kembali). Adakah di antara yang kalian sekutukan dengan Allah itu, yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan” (Ar-Rum: 40).

    Dalam firman Allah di atas, Allah meniadakan adanya Sang Pemberi rezeki selain-Nya, ini menunjukkan hanya Allah lah satu-satunya yang mampu memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya.

    Syaikh Dr. Muhammad Khalil Al-Harras berkata, “Seluruh rezeki hanya ada di tangan Allah. Oleh karena itu, Dia-lah Sang Pencipta rezeki dan Sang Pencipta makhluk yang mendapatkan rezeki.  Dia-lah Dzat yang menyampaikan rezeki kepada mereka dan Dia-lah Sang Pencipta sebab-sebab (makhluk) bisa menikmati rezeki. Dengan demikian, wajib menyandarkan rezeki itu hanya kepada-Nya dan wajib pula bersyukur kepada-Nya atas karunia rezeki tersebut(Syarh Nuuniyyah, Syaikh DR. Muhammad Khalil Al-Harras (Pdf),jilid 2/110).

    Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa rezeki Allah sangatlah banyak jumlahnya dan tidak ada satupun dari makhluk kecuali pasti mendapatkan rezeki dari-Nya

    Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa karena اَلرَّزَّاقُ (Yang Banyak Memberi rezeki) merupakan bentuk mubalaghah (penyangatan) dari kata اَلرَّازِقُ  (Pemberi rezeki), maka ini menunjukkan banyaknya rezeki dan banyaknya makhluk yang mendapatkan rezeki tersebut.

    Bahkan setiap makhluk yang berjalan di muka bumi diberi rezeki, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

    وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

    Dan tidak ada satupun makhluk yang berjalan di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (Huud: 6).

    Allah menjelaskan di dalam Ayat ini bahwa Allah memberi rezeki kepada seluruh makhluk yang berjalan di muka bumi ini. Siapakah di antara kita yang mampu menghitung jumlah seluruh makhluk yang berjalan di muka bumi ini? Jumlah seluruh makhluk yang berjalan di muka bumi ini sangatlah banyak, maka ini menunjukkan jumlah rezeki Allah yang diberikan kepada mereka juga sangatlah banyak.

    Jangankan kita menghitung rezeki Allah yang didapatkan oleh seluruh makhluk yang berjalan di muka bumi ini, menghitung rezeki yang didapatkan oleh salah satu saja dari mereka, kita pun tidak sanggup menghitungnya. Allah berfirman,

    وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

    “Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (An-Nahl:18).

    Oleh karena itu pantas, di antara nama Allah adalah اَلرَّزَّاقُ Yang Banyak Memberi rezeqi). Allah memberi rezeki kepada seluruh makhluk, baik manusia, jin maupun binatang, begitu pula orang yang bertakwa maupun yang suka bermaksiat, orang yang beriman maupun yang kafir, semuanya pasti mendapatkan rezeki dari Allah. Seandainya dikatakan bahwa ada di antara makhuk yang tidak mendapatkan rezeki dari Allah, tentulah hal ini mengharuskan adanya pemberi rezeki di alam semesta ini selain Allah, dan ini suatu hal yang batil.

    Orang-orang musyrikpun mengakui bahwa rezeki itu dari Allah, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

    قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

    Katakanlah (Hai Nabi Muhammad kepada orang-orang musyrik): “Siapakah yang memberi rizki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka menjawab:”Allah”. Maka katakanlah:”Mengapa kalian tidak bertaqwa (kepada-Nya)?” (Yunus:31).

    Allah ‘Azza wa Jalla berfirman tentang binatang yang tidak dapat memperoleh atau membawa rezekinya sendiri,

    وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

    “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (memperoleh) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kalian dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Al-‘Ankabuut: 60).

    Allah menyebutkan bahwa Allah-lah yang memberi rezeki manusia yang berada di daratan maupun di lautan,

    وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

    “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (Al-Israa`: 70).

    Tujuan Allah memberi rezeki kepada hamba-Nya

    Setelah kita mengetahui bahwa tidak ada satupun makhluk yang tidak mendapatkan rezeki dari Allah, maka yang harus kita yakini adalah tidaklah Allah memberi rezeki kepada hamba-Nya kecuali ada tujuannya.  Setelah diberi rezeki, tidaklah makhluk dibiarkan begitu saja menikmatinya tanpa kewajiban apapun, sehingga orang yang serakah lagi zalim dalam mencari rezeki dan dalam memanfaatkannya, disamakan dengan orang yang bertakwa dalam mencari rezeki  dan dalam memanfaatkannya. Tidaklah demikian!

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

    إنما خَلَقَ الله الخَلْقَ، ليَعبُدوه، وإنما خَلَقَ الرزقَ لهم ليَسْتَعِيُنوا به على عبادته

    “Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk hanyalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan Allah menciptakan rezeki untuk mereka semata-mata agar mereka gunakan rezeki tersebut untuk beribadah kepada-Nya” (Majmu’ul  Fatawa Imam Ibnu Taimiyyah, kitabul Iman, dari http://madrasato-mohammed.com/book232.htm).

    Jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah memberi rezeki kepada hamba-hamba-Nya untuk bersenang-senang yang melalaikan ibadah kepada-Nya dan tidak pula untuk bermaksiat kepada-Nya. Allah berikan rezeki itu kepada hamba-hamba-Nya agar mereka bisa beribadah kepada-Nya. Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka tentang bagaimana cara mereka mendapatkan rezeki itu lalu mereka gunakan untuk apa.

    Oleh karena itulah pantas jika Allah Ta’ala banyak menyebutkan rezeki-Nya di dalam Al-Qur`an  dalam konteks memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beribadah dan melakukan berbagai macam keta’atan kepada-Nya. Allah Ta’ala mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya agar mensyukuri rezeki-Nya yang mereka dapatkan dengan mentauhidkan Allah dan menjauhi syirik,

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

    “Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa,”

    الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

    “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian; karena itu janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui” (Al-Baqarah: 21-22).

    Firman Allah Ta’ala:

    اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۖ هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَفْعَلُ مِنْ ذَٰلِكُمْ مِنْ شَيْءٍ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

    “Allah-lah yang menciptakan kalian, kemudian memberi kalian rezeki, kemudian mematikan kalian, kemudian menghidupkan kalian (kembali). Adakah di antara yang kalian sekutukan dengan Allah itu, yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (Ar-Rum: 40) .

    Allah Ta’ala mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya agar menggunakan rezeki-Nya untuk berinfak di jalan Allah,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim” (Al-Baqarah:254).

    Allah Ta’ala mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya agar mensyukuri rezeki-Nya yang mereka dapatkan,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

    “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah” (Al-Baqarah:172).

    Allah Ta’ala mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya agar tidak bermaksiat dengan membunuh anak-anak mereka, karena Allah-lah yang memberi rezeki kepada mereka dan anak-anak mereka,

    وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا

    “Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kalian. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar” (Al-Israa` : 31). Dari Ayat-Ayat di atas, nampak jelas bahwa Allah Ta’ala banyak menyebutkan rezeki-Nya di dalam Al-Qur`an  dalam konteks memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beribadah dan melakukan berbagai macam keta’atan kepada-Nya. Wallahu a’lam.

    Insyaallah akan berlanjut ke artikel bagian akhir, berjudul Ar Razzaaq, Yang Banyak Memberi Rezeki (3)

    ***

    Referensi:
    1. Fiqhul Asmaa`il Husnaa, Syaikh Abdur Razzaaq.
    2. Syarhu Asmaa`illlaahil Husnaa, Syaikh Sa’id Al-Qohthoni.
    3. Syarh Nuuniyyah,Syaikh DR. Muhammad Khalil Al-Harras (Pdf)
    4. Khuthbah Syaikh Abdur Razzaq di : http://www.alukah.net/sharia/0/22417/
    5.  Majmu’ul  Fatawa Imam Ibnu Taimiyyah, kitabul Iman, dari: http://madrasato-mohammed.com/book232.htm
    6. Kitab Arzaaqul ‘Ibaad di: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?p=1911924
    7. http://www.dorar.net/enc/aqadia/894
    8. http://www.kalemtayeb.com/index.php/kalem/safahat/item/22527

    Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

    Artikel Muslim.Or.Id

    Sumber: https://muslim.or.id/24957-ar-razzaaq-yang-banyak-memberi-rezeki-2.html