Home Artikel Kajian Kemana Masa Mudaku Melangkah? (10)

Kemana Masa Mudaku Melangkah? (10)

25
0
SHARE

Berikut ini salah satu contoh tentang bagaimana Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikan masalah tauhid umatnya dan bagaimana mengingkari bentuk kesyirikan yang banyak terjadi di masyarakat pada zaman ini, yaitu kesyirikan memakai jimat, baik yang digunakan untuk menolak bala` ataupun untuk mendapatkan manfa’at. Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang yang terbuat dari kuningan, kemudian beliau bertanya:

مَا هَذِهِ؟ قَالَ: مِنَ الوَاهِنَةِ، فَقَالَ: انْزَعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا

Apaan ini? Laki-laki itu menjawab, ‘Untuk menangkal penyakit lemah badan’, lalu Nabi bersabda, ‘Lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.’” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim, dishahihkan beliau dan disetujui Adz-Dzahabi).

Pertanyaan “Apaan ini?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seseorang yang memakai gelang jimat adalah jenis pertanyaan pengingkaran (Istifham Ingkari). Sedangkan pemakai jimat tersebut, memahami bahwa pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya adalah jenis pertanyaan perincian (Istifham Iftishol),yaitu“Apa ini? Atau Gelang untuk apa ini?” begitu menurut sebagian Ulama.

Sehingga laki-laki itu menjawab “Untuk menangkal penyakit lemah badan.

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

انْزَعْهَا فَإِنَّهَا لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا

Lepaskan gelang itu, karena sesungguhnya ia tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.

Wahai pemuda yang masih memakai jimat. Bagi pemuda yang masih memasang susuk. Bagi mereka penggemar batu akik yang diyakini bertuah. Wahai pemuda yang masih memakai aji-aji dan rajah pada tubuhnya atau ditempatkan di selain tubuhnya.

Tidakkah Anda memperhatikan hakikat jimat, rajah, susuk, aji-aji yang Anda pakai?

لاَ تَزِيْدُكَ إِلاَّ وَهْنًا، فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِيَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَدًا

Jimat tersebut tidak akan menambah kecuali kelemahan pada dirimu, dan jika kamu mati sedangkan gelang ini masih ada pada tubuhmu, maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.

Demikianlah sabda Nabi yang paling kita cintai diantara seluruh makhluk shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang tidak pernah menyampaikan ajaran Islam ini dari hawa nafsunya.

Itulah hakikat kesyirikan dengan segala macamnya, tidak akan pernah bermanfaat bagi pelakunya, malah justru membahayakan, walaupun diyakini oleh pelakunya bahwa itu sangat bermanfaat.

Adapun sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam “maka kamu tidak akan beruntung selama-lamanya” maksudnya pelakunya terancam tidak beruntung sama-sekali, dengan kekal selamanya di Neraka, atau minimalnya tidak beruntung dengan keberuntungan yang sempurna, sehingga pelakunya terancam masuk Neraka, namun tidak kekal. Dan semua itu tergantung kepada jenis kesyirikan pelaku jimat tersebut1.

Solusi satu-satunya

Solusi satu-satunya bagi Anda wahai pemuda Islam yang ingin menjadi pemuda yang dicintai oleh Rabb Anda, pemuda Islam yang hebat dan mulia adalah: Kembali kepada agama kalian dengan baik. Jika Anda tidak mau menjadi para pemuda yang hina, karena memiliki aqidah yang kotor, akhlak yang buruk, pemahaman yang salah dan amal yang mentimpang, maka bangkitlah, kembalilah kepada agama kalian dengan baik.

Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda :

إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر ورضيتم بالزرع وتركتم الجهاد سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم

Apabila kalian berjual beli dengan ’inah (jual beli sistem riba), memegang ekor-ekor sapi, rela berlebihan dengan urusan pertanian, dan meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian. Dia tidak akan menghilangkannya dari kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian” (HR. Abu Dawud)2.

Pemuda Islam! Jika Anda bertanya “Bagaimana kembali kepada agama Islam yang baik?” Jawaban kami adalah “Berpegangteguhlah Anda dengan agama yang Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum berada di atasnya. Itulah satu-satunya solusi yang benar, ketika Anda sedang menghadapi berbagai macam fitnah, baik berupa fitnah syahwat maupun syubhat, serta menghadapi berbagai macam krisis, baik itu krisis aqidah, ibadah, akhlak, mental maupun mu’malah ekonomi maupun politik. Abu Waqid Al-Laitsi radliyallaahu ’anhu menuturkan solusi dari fitnah

أَنَّهَا سَتَكُونُ فِتْنَةٌ ” فَلَمْ يَسْمَعْهُ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، فَقَالَ مُعَاذُ بن جَبَلٍ أَلا تَسْمَعُونَ مَا يَقُولُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالُوا مَا قَالَ ؟ قَالَ : ” إِنَّهَا سَتَكُونُ فِتْنَةٌ ” ، فَقَالُوا فَكَيْفَ لَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ وَكَيْفَ نَصْنَعُ ؟ قَالَ : ” تَرْجِعُونَ إِلَى أَمْرِكُمُ الأَوَّلِ

”Sesungguhnya akan terjadi fitnah Namun, ketika itu banyak shahabat yang tidak mendengarnya. Maka Mu’adz bin Jabal berkata, ‘Tidakkah kalian mendengar apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam?’ Mereka berkata, ‘Apa yang beliau sabdakan?’ Mu’adz menjawab ‘Sesungguhnya akan terjadi fitnah.’ Para shahabat bertanya, ‘Lalu, apa yang harus kami perbuat, wahai Rasulullah?’ Maka beliau shallallaahu ’alaihi wasallam menjawab, ‘Kembalilah kepada urusan kalian yang pertama!’” (HR. Thabarani dan yang lainnya)3.

Yang dimaksud dengan “Kembali kepada urusan yang pertama kali” ialah kembali kepada agama Islam yang murni, sebagaimana dulu diajarkan oleh Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam kepada para sahabat beliau. Beragama Islam menurut pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan pengamalan mereka itulah solusi keluar dari fitnah dan kehinaan, serta solusi menjadi pemuda Islam yang hebat dan umat yang jaya dan mulia. Contohlah bagaimana para pemuda di kalangan sahabat radhiyallahu ‘anhum meraih prestasi emas dan berhasil menjadi para pemuda Islam yang terhebat di sepanjang sejarah seluruh umat para Nabi dan Rasul ‘alaihimush shalatu was salam. Beragamalah seperti agama mereka, karena sesungguhnya agama mereka telah “disertifikasi” oleh Allah dan rasul-Nya  shallallaahu ’alaihi wasallam.

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/26971-kemana-masa-mudaku-melangkah-10.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here