Modal Dasar Berdoa pada Allah (1)

Modal Dasar Berdoa pada Allah (1)

Pentingnya Berdoa kepada Allah Ta’ala Semata

Doa adalah ibadah yang sangat agung. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berdoa kepada-Nya dan mengancam orang-orang yang sombong yang tak mau berdoa kepada-Nya dalam firman-Nya,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhan kalian berfirman, ‘Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian.’ Sesungguhnya, orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku, akan masuk neraka dalam keadaan hina dina” (QS. Ghafir: 60).

Dalam sebuah hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدعاء هو العبادة

“Do’a adalah sesuatu yang sangat mendasar dalam ibadah.

Hadits yang shahih ini menunjukkan bahwa do’a itu adalah ibadah.

Baca juga:

Kapan Pengaruh Doa Tidak Terasa?

Sesungguhnya doa merupakan salah satu sebab terkuat untuk mendapatkan perkara-perkara yang dicintai oleh Allah Ta’ala dan menghindari perkara yang dimurkai oleh-Nya. Namun, terkadang pengaruh doa tidak dapat dirasakan, atau lemah faidahnya, bahkan bisa jadi tidak ada sama sekali. Doa yang tidak membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan bisa disebabkan beberapa perkara berikut ini, di antaranya:

– Kekurangan yang ada pada isi doa itu sendiri, seperti isi doa yang tidak dicintai oleh Allah Ta’ala karena mengandung kezaliman.

– Kelemahan hati dan tidak menghadapnya hati kepada Allah ketika berdoa.

– Didapatkannya penghalang dikabulkannya doa berupa memakan makanan yang haram, karat dosa dalam hati, dan kelalaian yang mendominasi hati.

Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dalam Musnadnya dari hadits Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

القلوبُ أوعية وبعضُها أوعى من بعض، فإذا سألتُم الله عز وجلَّ- يا أيها الناسُ-فاسألوه وأنتم موقنون بالإجابة؛ فإنَّ الله لا يستجيبُ لعبدٍ دعاه عن ظهر قلبٍ غافلٍ

“Hati manusia itu ibarat bejana, sebagian hati manusia lebih  banyak, lebih kuat dan lebih cepat (dalam menerima sesuatu) dari sebagian hati yang lainnya. Maka -wahai manusia, jika kalian memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla, maka mohonlah kepada Allah dan kalian meyakini akan dikabulkan doa tersebut, karena sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa seorang hamba dengan hati yang lalai.

Makna hadits ini shahih, karena seorang muslim saat berdoa haruslah hadir hatinya, tidak lalai, dan yakin bahwa doanya akan dikabulkan. Oleh karena itu, Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Jawabul Al-Kafi nya memasukkan kelalaian hati dan ketidakhadirannya sebagai salah satu penghalang dikabulkannya doa dengan berdalil hadits yang disebutkan di atas.

[Bersambung]

Daftar link artikel ini:

  1. Modal Dasar Berdoa pada Allah (1)
  2. Modal Dasar Berdoa pada Allah (2)

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/31102-modal-dasar-berdoa-pada-allah-1.html

Keistimewaan Bahasa Arab (6)

Keistimewaan Bahasa Arab (6)

Baca pembahasan sebelumnya Keistimewaan Bahasa Arab (5)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, masih di kitab Majmu’ Al-Fatawa, beliau menegaskan,

وكان السلف يؤدّبون أولادهم على اللحن، فنحن مأمورون أمرَ إيجابٍ أو أمرَ استحبابٍ أن نحفظ القانون العربي، ونُصلح الألسن المائلة عنه، فيحفظ لنا طريقة فهم الكتاب والسنّة، والاقتداء بالعرب في خطابها، فلو تُرك الناس على لحنهم كان نقصاً وعيباً

“Kebiasaan Salaf dahulu menghukum anak-anak mereka karena kesalahan pengucapan bahasa Arab, jadi kita diperintahkan -dengan jenis perintah wajib atau sunnah- untuk menjaga kaidah-kaidah bahasa Arab (Al-Qanun Al-‘Arabi), dan membenarkan pengucapan bahasa Arab yang menyimpang darinya, sehingga terjaga metode memahami Al-Qur`an dan As-Sunnah, dan mengikuti bangsa Arab dalam berkomunikasi dalam bahasa Arab, karena seandainya dibiarkan manusia salah dalam berbahasa Arab, tentunya hal ini merupakan kekurangan dan aib” (Majmu’ Al-Fatawa: 32/252).

Dalam kitab lainnya beliau -yang memiliki nama lengkap Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyyah dan terkenal dengan julukan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ini- menjelaskan bahayanya terbiasa meninggalkan berbahasa Arab, dan beralih kepada membiasakan diri berbahasa non Arab. Beliau menuturkan,

وأما اعتياد الخطاب بغير العربية التي هي شعار الإسلام ولغة القرآن حتى يصير ذلك عادة للمصر وأهله ولأهل الدار وللرجل مع صاحبه ولأهل السوق أو للأمراء أو لأهل الديوان أو لأهل الفقه فلا ريب أن هذا مكروه فإنه من التشبه بالأعاجم وهو مكروه كما تقدم

“Adapun membiasakan berbicara dengan menggunakan bahasa selain bahasa Arab -yang sebenarnya bahasa Arab tersebut merupakan syiar Islam dan bahasa Al-Qur`an- hingga menjadi adat di sebuah kota dan pendudukmya, dan kebiasaan bagi penghuni rumah, seseorang dengan sahabatnya, kebiasaan bagi pengunjung pasar, atau para pejabat, kebiasaan bagi karyawan di kantor atau Ahli Fiqih -tidak ada keraguan sedikitpun- bahwa hal ini hukumnya makruh, karena hal ini termasuk tasyabbuh dengan orang non Arab. Dan (sekali lagi) hal ini hukumnya makruh sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.”

ولهذا كان المسلمون المتقدمون لما سكنوا أرض الشام ومصر ولغة أهلهما رومية وارض العراق وخراسان ولغة أهلهما فارسية وأهل المغرب ولغة أهلها بربرية عودوا أهل هذه البلاد العربية حتى غلبت على أهل هذه الأمصار مسلمهم وكافرهم وهكذا كانت خراسان قديما ثم إنهم تساهلوا في أمر اللغة واعتادوا الخطاب بالفارسية حتى غلبت عليهم وصارت العربية مهجورة عند كثير منهم ولا ريب أن هذا مكروه

“Oleh karena itu, kaum muslimin terdahulu, tatkala mereka tinggal di negeri Syam, Mesir (penduduknya berbahasa romawi), Irak, Khurasan (penduduknya berbahasa Persi), dan di negeri Maghrib (penduduknya berbahasa barbar) membiasakan penduduk negeri-negeri itu berbahasa Arab sampai bahasa Arab tersebut menjadi bahasa yang dominan bagi  penduduk negeri-negeri tersebut, baik orang Islam, maupun orang kafir. Demikian pula sebenarnya yang terjadi di negeri Khurasan dahulu, (namun) kemudian lambat laun mereka teledor dalam menjaga bahasa Arab mereka, dan (akhirnya) merekapun terbiasa berbahasa Persi, sampai bahasa Persi menjadi bahasa yang dominan di kalangan mereka, sedangkan bahasa Arab ditinggalkan oleh sebagian besar di antara mereka. Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa hal ini hukumnya makruh.”

وإنما الطريق الحسن اعتياد الخطاب بالعربية حتى يتلقنها الصغار في الدور والمكاتب فيظهر شعار الإسلام وأهله ويكون ذلك أسهل على أهل الإسلام في فقه معاني الكتاب والسنة وكلام السلف بخلاف من اعتاد لغة ثم أراد أن ينتقل إلى أخرى فإنه يصعب

“Dan sesungguhnya metode yang bagus adalah membiasakan berbicara dengan bahasa Arab sampai anak-anak kecil terlatih mengucapkannya di rumah-rumah dan perpustakaan, sehingga tampaklah syi’ar Islam dan kaum muslimin. Hal ini menyebabkan kaum muslimin mudah dalam memahami makna-makna Al-Kitab dan As-Sunnah serta perkataan Salafush Shaleh. Berbeda halnya dengan orang yang terbiasa dengan suatu bahasa (non Arab) lalu ia ingin beralih kepada bahasa lainnya (Arab), maka hal itu sulit (baginya)” (Iqtidha` Ash-Shirath Al-Mustaqim: 1/526)

[Bersambung]

Daftar Link Artikel Berseri:

  1. Keistimewaan Bahasa Arab (1)
  2. Keistimewaan Bahasa Arab (2)
  3. Keistimewaan Bahasa Arab (3)
  4. Keistimewaan Bahasa Arab (4)
  5. Keistimewaan Bahasa Arab (5)
  6. Keistimewaan Bahasa Arab (6)
  7. Keistimewaan Bahasa Arab (7)

 

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/31100-keistimewaan-bahasa-arab-6.html

Keistimewaan Bahasa Arab (4)

Keistimewaan Bahasa Arab (4)

Baca pembahasan sebelumnya : Keistimewaan Bahasa Arab (3)

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menyatakan dalam kitab Tafsirnya,

ثم أثنى على الكتاب بتمام البيان فقال: {فُصِّلَتْ آيَاتُهُ} أي: فصل كل شيء من أنواعه على حدته، وهذا يستلزم البيان التام، والتفريق بين كل شيء، وتمييز الحقائق

“Kemudian Allah memuji Kitab-Nya karena kesempurnaan penjelasan yang terdapat di dalamnya, Allah berfirman {فُصِّلَتْ آيَاتُهُ}, maksudnya dijelaskan segala sesuatu dengan keanegaragamannya sehingga terbedakan satu dengan yang lainnya. Hal ini mengharuskan adanya penjelasan yang sempurna, dan pembedaan antara satu dengan yang lainnya, serta pembedaan hakikat-hakikat.”

Selanjutnya As-Sa’di rahimahullah menafsirkan firman Allah

{قُرْآنًا عَرَبِيًّا }, yaitu, باللغة الفصحى أكمل اللغات، فصلت آياته وجعل عربيًا

“Dengan bahasa yang fasih, lagi paling sempurna, dijelaskan makna ayat-ayat Al-Qur`an dan Allah jadikannya berbahasa Arab.”

Adapun firman Allah {لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ }, As-Sa’di rahimahullah menafsirkan,

أي: لأجل أن يتبين لهم معناه، كما تبين لفظه، ويتضح لهم الهدى من الضلال، والْغَيِّ من الرشاد. وأما الجاهلون، الذين لا يزيدهم الهدى إلا ضلالاً، ولا البيان إلا عَمًى فهؤلاء لم يُسَقِ الكلام لأجلهم، {سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ}

“Maksudnya, agar jelas maknanya bagi mereka, sebagaimana jelas lafalnya, dan terang bagi mereka antara petunjuk dan kesesatan, penyimpangan dan lurus. Adapun orang-orang yang bodoh, yaitu orang-orang yang petunjuk (Al-Qur`an) tidaklah menambah mereka kecuali kesesatan dan kebutaan terhadap kebenaran, maka bukan untuk mereka pembicaraan ini ditujukan.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman” (Q.S. Al-Baqarah: 6).

Bahasa Arab Mempengaruhi Tingkat Pemahaman terhadap Al-Qur`an

Al-Qur`an Al-Karim demikian berpengaruhnya pada hati bangsa Arab karena itu adalah bahasa mereka. Oleh karena itu, semakin dalam ilmu bahasa Arab seseorang, maka ia semakin paham kandungan Al-Qur`an Al-Karim. Demikian pentingnya bahasa Arab di pandangan ulama rahimahumullah, hingga mereka pun memperhatikan bahasa Arab baik dengan mempelajari, menulis kitab-kitab tentangnya, dan mengajarkannya. Semua itu termasuk bagian dari upaya berkhidmah untuk mempelajari dan mengajarkan Al-Qur`an Al-Karim. Membela bahasa Arab dan memperjuangkan mensosialisasikannya termasuk bagian dari membela Al-Qur`an Al-Karim dan menjaganya.

Perbedaan kadar dalam memahami Al-Qur`an Al-Karim sangatlah dipengaruhi oleh seberapa besar pemahaman seseorang terhadap bahasa Arab. Semakin luas pengetahuan seseorang dalam memahami bahasa Arab, maka semakin dalam pengetahuannya terhadap nash Al-Qur`an Al-Karim dan As-Sunnah dan semakin kokoh pemahamannya. Dahulu orang-orang asli bangsa Arab di kalangan para sahabat, ketika di masa turunnya Al-Qur`an Al-Karim, mereka memiliki pengetahuan yang luas tentang bahasa Arab yang masih murni dan belum banyak terpengaruh dengan bahasa non Arab, sehingga mereka menjadi umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling mampu memahami makna, hukum, rahasia dan maksud yang terkandung dalam Al-Qur`an Al-Karim.

Adapun orang-orang yang datang sesudahnya, semakin jauh mereka dari kemampuan berbahasa Arab yang murni, maka semakin berkurang pula pemahaman mereka terhadap makna, hukum, rahasia, dan maksud yang terkandung dalam Al-Qur`an Al-Karim. 

[Bersambung]

Daftar Link Artikel Berseri:

  1. Keistimewaan Bahasa Arab (1)
  2. Keistimewaan Bahasa Arab (2)
  3. Keistimewaan Bahasa Arab (3)
  4. Keistimewaan Bahasa Arab (4)

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/30977-keistimewaan-bahasa-arab-4.html

Keistimewaan Bahasa Arab (5)

Keistimewaan Bahasa Arab (5)

Baca pembahasasn sebelumnya: Keistimewaan Bahasa Arab (4)

Imam Syafi’i rahimahullah Sosok jenius yang Mendalami Bahasa Arab dalam Kurun Waktu Dua Puluh Tahun

Merupakan hal yang wajar jika seseorang yang dianugerahi kejeniusan, lalu ia mempelajari sesuatu dalam waktu yang singkat. Namun tidaklah demikian sosok Imam Syafi’i rahimahullah yang cerdas, jenius, dan memiliki kemampuan yang sangat kuat dalam menghafal pelajaran itu.

Sosok Imam Syafi’i demikian fahamnya bagaimana tingginya kedudukan ilmu bahasa Arab dalam Islam. Sehingga beliau sangat serius dan sangat besar perhatian, pengorbanan waktu, tenaga dan pikirannya dalam mempelajari bahasa Arab.

Inilah kesaksian suami dari putri Imam Syafi’i rahimahullah tentang mertuanya (Imam Syafi’i), ia berkata,

فأقام الشافعي علمَ العربية وأيامَ الناس عشرين سنة، فقلنا له في هذا، فقال: ما أردت بهذا إلا استعانةً للفقه

“Imam Syafi’i menghabiskan waktu dua puluh tahun dalam mempelajari bahasa Arab, kami bertanya kepada beliau (Imam Syafi’i) tentang hal ini, lalu beliaupun menjawab, ‘Dengan cara ini yang saya inginkan hanyalah agar (saya) terbantu untuk memahami Fiqih (hukum dalam  Al-Qur`an Al-Karim dan As-Sunnah)’” (Al-Faqih wal Mutafaqqih, Al-Khathib Al-Baghdadi: 2/41).

Hal ini bukan hal yang aneh karena Imam Syafi’i sendiri pernah berkata,

أصحاب ُالعربية جِنُّ الإنس، يُبصرون ما لم يبصرْ غيرُهم

Para ahli bahasa Arab adalah ‘jin’ nya manusia, mereka mengetahui ilmu yang tidak diketahui oleh selain mereka” (Adabusy Syafi’i wa Manaqibuhu, Ar-Razi, hal. 150).

5. Bahasa Arab adalah Syi’ar Islam dan Syi’ar Kaum Muslimin

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

اللسان العربي شعار الإسلام وأهله ، واللغات من أعظم شعائر الأمم التي بها يتميزون

Bahasa Arab adalah syi’ar Islam dan kaum muslimin, dan (sebenarnya) bahasa itu sendiri adalah syi’ar umat yang terbesar, dengannya mereka terbedakan (dengan selain mereka)” (Iqtidha` Ash-Shirath Al-Mustaqim: 1/519).

Beliau juga menjelaskan,

وما زال السلف يكرهون تغييرَ شعائرِ العربِ حتى في المعاملات وهو التكلّم بغير العربية إلاّ لحاجة، كما نصّ على ذلك مالك والشافعي وأحمد، بل قال مالك: مَنْ تكلّم في مسجدنا بغير العربية أُخرِجَ منه. مع أن سائر الألسن يجوز النطق بها لأصحابها، ولكن سوغوها للحاجة، وكرهوها لغير الحاجة، ولحفظ شعائر الإسلام مَنْ تكلّم في مسجدنا بغير العربية أُخرِجَ منه

“Salafush Shalih selalu membenci tindakan merubah syi’ar Arab sampaipun dalam mu’amalah, yaitu berbicara dengan bahasa non Arab, kecuali jika ada keperluan, sebagaimana ini dinyatakan oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Bahkan Imam Malik mengatakan, ‘Barangsiapa yang berbicara di masjid kami dengan bahasa non Arab, maka akan dikeluarkan (dari masjid kami).’ Padahal boleh saja bagi orang yang asli berbahasa dengan bahasa non Arab untuk berbahasa dengannya (di negri Arab). Akan tetapi mereka memperbolehkannya jika ada keperluan, dan membencinya apabila tidak ada keperluan, dan (hal itu dilakukan) dalam rangka menjaga syi’ar Islam” (Majmu’ Al-Fatawa: 32/255).

[Bersambung]

Daftar Link Artikel Berseri:

  1. Keistimewaan Bahasa Arab (1)
  2. Keistimewaan Bahasa Arab (2)
  3. Keistimewaan Bahasa Arab (3)
  4. Keistimewaan Bahasa Arab (4)
  5. Keistimewaan Bahasa Arab (5)

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/31003-keistimewaan-bahasa-arab-5.html

Bimbingan Praktis Umrah (1)

Bimbingan Praktis Umrah (1)

Syarat Diterimanya Suata Amal Ibadah

Ibadah tidaklah diterima oleh Allah Ta’ala kecuali jika terpenuhi dua syarat, yaitu:

1. Niat Ikhlas Hanya Untuk Mengharap Ridho Allah

Ikhlas untuk Allah Ta’ala sematayaitu seseorang beribadah kepada Allah Ta’ala dengan hanya mengharap keridhoaan-Nya dan pahala-Nya, tidak bercampur riya`, sum’ah, dan tidak mencari perhiasan dunia.

2. Sesuai Dengan Tuntunan yang Diajarkan Rasulullah

Mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beribadah kepada Allah Ta’alaDan hal ini tidak mungkin terealisasi kecuali dengan mengetahui Sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu, kewajiban atas seorang hamba yang hendak beribadah kepada Allah Ta’ala, baik ibadah jenis ucapan maupun perbuatan adalah mempelajari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar amalnya sesuai dengan Sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan di antara ibadah agung yang wajib diketahui tata caranya adalag umrah. Lebih-lebih lagi di bulan ramadhan ini.

Dalam rangka memenuhi kedua syarat tersebut, maka dalam kesempatan kali ini, penyusun akan meringkaskan tuntunan ibadah umrah, dengan tujuan agar ibadah umrah yang dilakukan seorang muslim dan muslimah sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selain diringi oleh keihlasan yang menyebabkan amalan tersebut diterima oleh Allah Ta’ala.

Definisi Umroh (العمرة)

Secara bahasa, Umrah adalah ziyarah (berkunjung).

Adapun secara syar’i, definisi Umrah adalah:

التعبد لله بالطواف بالبيت، وبالصفا والمروة، والحلق أو التقصير

“Beribadah kepada Allah dengan melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah, dan melakukan sa’i antara bukit Shafa dan Marwa, serta menggundul atau memendekkan (rambut kepala)” (Syarhul Mumti’: ⅞).

Baca juga:

Hukum Umrah

Ulama rahimahumullah berbeda pendapat tentang hukum umroh, dan pendapat mereka terbagi menjadi dua pendapat, yaitu:

Pendapat yang Menyatakan Sunnah

Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Malik, pendapat lama Imam Syafi’i, dan salah satu riwayat Imam Ahmad, sekaligus ini adalah riwayat dari Ibnu Mas’ud, dan pendapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Pendapat yang Menyatakan Wajib.

Wallahu a’lam, inilah pendapat yang terkuat.

Ini merupakan pendapat sekelompok sahabat radhiyallahu ‘anhum, seperti Umar, dan putranya, Ibnu Abbas, Zaid bin Tsabit, dan sekaligus pendapat sekelompok tabi’in, seperti: Sa’id bin Jubair, Atha`, Thawus, Mujahid, Al-Hasan, dan Ibnu Sirin. Pendapat ini pun merupakan salah satu pendapat Imam Syafi’i, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, serta pendapat Zhahiriyyah.

Di antara dalilnya, yaitu:

Firman Allah Ta’ala:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah” (Q.S. Al-Baqarah: 196).

Alasan pendalilannya adalah adanya perintah dalam ayat ini, dan jika dikembalikan kepada kaidah dalam Ushul Fiqih, yaitu perintah menunjukkan hukum wajib selama tidak ada dalil yang memalingkan dari hukum wajib tersebut. Apalagi dalam ayat ini umrah digandengkan dengan haji.

Dalam Hadits yang shahih, Abu Dawud (1799), dan An-Nasa`i (2719) meriwayatkan dari Ash-Shubai bin Ma’bad, beliau berkata,

كُنْتُ أَعْرَابِيًّا نَصْرَانِيًّا . . . فَأَتَيْتُ عُمَرَ ، فَقُلْتُ : يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ، إِنِّي أَسْلَمْتُ ، وَإِنِّي وَجَدْتُ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ مَكْتُوبَيْنِ عَلَيّ فَأَهْلَلْتُ بِهِمَا ، فَقَالَ عُمَرُ : هُدِيتَ لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

“Dahulu aku seorang badui yang beragama nasrani….lalu aku menemui Umar, akupun berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya saya memeluk agama Islam, dan sesungguhnya saya mendapatkan haji dan umroh merupakan dua kewajiban atas diri saya, lalu akupun mengeraskan suara saat bertalbiyyah dalam kedua ibadah tersebut.’ Umar berkata, ‘Anda telah diberikan petunjuk sesuai dengan Sunnah Nabimu shallallahu ‘alaihi wa sallam.’”

[Bersambung]

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Print Friendly, PDF & Email

Sumber: https://muslim.or.id/30818-bimbingan-praktis-umrah-1.html

Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5)

Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5)

Baca pembahasan sebelumnya Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (4)

Selanjutnya, di bagian akhir dari muqaddimah kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an, Syaikh Badrud Din Muhammad bin Abdullah Az-Zarkasy Asy-Syafi’i rahimahullah menerangkan alasan penulisan kitabnya tersebut. Beliau rahimahullah mengatakan,

وَلَمَّا كَانَتْ عُلُومُ الْقُرْآنِ لَا تَنْحَصِرُ وَمَعَانِيهِ لَا تُسْتَقْصَى وَجَبَتِ الْعِنَايَةُ بِالْقَدْرِ الْمُمْكِنِ وَمِمَّا فَاتَ الْمُتَقَدِّمِينَ وَضْعُ كِتَابٍ يَشْتَمِلُ على أنواع علومه وكما وَضَعَ النَّاسُ ذَلِكَ بِالنِّسْبَةِ إِلَى عِلْمِ الْحَدِيثِ فَاسْتَخَرْتُ اللَّهَ تَعَالَى- وَلَهُ الْحَمْدُ- فِي وَضْعِ كِتَابٍ فِي ذَلِكَ… وَسَمَّيْتُهُ البرهان في علوم القرآن

“Ketika (telah diketahui bahwa) ilmu-ilmu Al-Qur`an itu tak terbatas dan makna-maknanyapun tak terliputi (oleh ilmu manusia), maka haruslah diberikan perhatian sekadar yang memungkinkan (untuk dilakukan). Dan salah satu yang terluput dilakukan ulama terdahulu adalah menuliskan kitab (secara khusus dalam bidang) yang mencakup berbagai macam ilmu-ilmu Al-Qur`an (Ulumul Qur`an). Dan sebagaimana ulama menuliskan kitab-kitab secara khusus dalam bidang ilmu Hadits, maka saya memohon petunjuk kepada Allah Ta’ala -Alhamdulillah-, untuk menuliskan sebuah kitab dalam disiplin ilmu Ulumul Qur`an….dan aku beri nama kitab ini dengan:  Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an.

(Selesai ringkasan muqoddimah Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an).

Baca juga:
* [VIDEO] Nasehat Bagi Penghafal Qur’an
* Hukum Membaca Al Qur’an Secara Berjamaah Satu Suara
* Doa-Doa Dari Al Qur’an

Nasehat Penutup

Di akhir serial artikel yang sederhana ini, penulis ingin menasehati diri sendiri khususnya, dan kaum muslimin semuanya -semoga Allah menambahkan hidayah-Nya kepada kita semua- bahwa menyibukkan diri dengan Al-Qur`an Al-Karim, baik dengan membacanya, memahaminya, mengamalkannya dan mendakwahkannya, adalah aktifitas yang sangat besar pengaruhnya bagi perbaikan keimanan diri kita. Karena orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya, dijamin keluar dari kegelapan kemaksiatan kepada cahaya ketaatan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ  

(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” (Q.S. Ibrahim: 1).

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan,

“Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia telah menurunkan kitab-Nya kepada Rasul-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan manfaat kepada makhluk, mengeluarkan manusia dari kegelapan, kebodohan, kekufuran, akhlak yang buruk dan berbagai macam kemaksiatan kepada cahaya ilmu, iman dan akhlak yang baik. Firman Allah, {بِإِذْنِ رَبِّهِمْ}

“dengan izin Tuhan mereka” maksudnya adalah tidaklah mereka mendapatkan tujuan yang dicintai oleh Allah melainkan dengan kehendak dan pertolongan dari Allah, maka di sini terdapat dorongan bagi hamba untuk memohon pertolongan kepada Tuhan mereka. Kemudian Allah menjelaskan tentang cahaya yang ditunjukkan kepada mereka dalam Al-Qur`an, dengan berfirman,

{إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ} “(yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” maksudnya adalah yang mengantarkan kepada-Nya dan kepada tempat yang dimuliakan-Nya, yang mencakup atas ilmu yang benar dan pengamalannya. Dalam penyebutan {العزيز الحميد} setelah penyebutan jalan yang mengantarkan kepada-Nya, terdapat isyarat kepada orang yang menitinya bahwa ia adalah orang yang mulia dengan pengaruh kemuliaan Allah, lagi kuat walaupun tidak ada penolong kecuali Allah. Dan terpuji dalam urusan-urusannya lagi memperoleh akibat yang baik” (Tafsir As-Sa’di, hal. 478).

Dari penjelasan di atas, sangatlah jelas bahwa barangsiapa yang ingin keluar dari dosa-dosa, ingin keluar dari kekurangan dan kelemahannya, maka perbanyaklah mempelajari Al-Qur`an dan mengamalkannya, bukannya justru menyedikitkan hal itu, sembari sibuk dengan urusan-urusan dunia dan memperbanyaknya sehingga sampai mengutamakannya melebihi Al-Qur`an.

Baca juga:
* Bolehkah Meletakkan Al Qur’an Di Lantai?
* Membaca Doa Dari Al Qur’an Ketika Sujud

Dari sini nampak sekali kerugian yang sangat besar ada pada diri orang yang terlena dengan dunia, sedangkan ia jarang menyentuh dan membaca Al-Qur`an, sedikit mengetahui tafsirnya, dan sedikit pula mengamalkannya. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa penulis, memperbaiki keimanan penulis, dan menerima amal penulis. Semoga Allah menganugerahkan kepada penulis kemudahan untuk banyak membaca Al-Qur`an dan Al-Hadits, mempelajari keduanya, serta mengamalkan keduanya. Sebagaimana penulis juga berdoa agar Allah anugerahkan hal itu semua kepada para pembaca. Amiin. Wallahu a’lam.

(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)

Daftar Link Artikel Berseri:

  1. Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1)
  2. Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2)
  3. Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3)
  4. Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4)
  5. Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5)

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id 

Sumber: https://muslim.or.id/30648-kemuliaan-al-quran-al-karim-5.html

Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4)

Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4)

Baca pembahasan sebelumnya Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (3)

Profil Pakar Tafsir Al Qur`an, Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu

Kesaksian ilmiah sesama pakar Tafsir Al-Qur`an Al-Karim tentu lebih didahulukan daripada ulama dalam bidang lainnya, karena sesama Ahli Tafsir tentunya lebih tahu kehebatan sesama mereka. Adalah ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, sosok pakar Tafsir yang lebih dahulu dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu pun mengakui kehebatan ilmu Al-Qur`an Al-Karim ‘Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu. ‘Ali radhiyallahu ‘anhu berkomentar tentang keilmuan sosok ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu,

كَأَنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى الْغَيْبِ مِنْ وراء سِتْرٍ رَقِيقٍ

Seolah-olah ia melihat sesuatu yang gaib dari belakang tabir yang tipis.”

Ahli Tafsir lainnya, ‘Abdullah Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu pun mempersaksikan kepakaran ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berucap,

نِعْمَ تَرْجُمَانُ الْقُرْآنِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ

Sebaik-baik penafsir Al-Qur`an adalah Abdullah bin Abbas.”

Padahal ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu ketika itu masih berusia muda. Beliau masih sempat hidup selama 36 tahun setelah wafatnya Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Apabila pujian Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu terhadap sosok pemuda yang bernama ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu setinggi itu maka bagaimana lagi dengan ketinggian ilmu ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu pada saat tiga puluh tahun lebih, sesudah wafatnya Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu?

Baca juga:
* Menikmati Bacaan Al Qur’an
* Dua Perang Yang Diabadikan Allah Dalam Al Qur’an
* Sungguh Allah Akan Menghinakan Musuh Al Qur’an

Ibnu Athiyyah rahimahullah menyebutkan sederetan nama-nama para pakar Tafsir Al-Qur`an Al-Karim,

فَأَمَّا صَدْرُ الْمُفَسِّرِينَ وَالْمُؤَيَّدُ فِيهِمْ فَعَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَيَتْلُوهُ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا وَهُوَ تَجَرَّدَ لِلْأَمْرِ وَكَمَّلَهُ وَتَتَبَّعَهُ الْعُلَمَاءُ عَلَيْهِ كَمُجَاهِدٍ وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ وَغَيْرِهِمَا

“Adapun para ulama tafsir pendahulu dan mereka diteguhkan (oleh Allah Ta’ala), yaitu Ali bin Abi Thalib, selanjutnya Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma -beliau mengkhususkan diri dalam menekuni ilmu tafsir dan menyempurnakannya- dan diikuti hal tersebut oleh para ulama sesudah beliau, seperti Mujahid, Sa‘id bin Jubair, dan selain keduanya.

Sebenarnya masih ada ulama-ulama besar dari Salafush Shalih, seperti Sa‘id bin Al-Musayyab, Asy-Sya‘bi, dan selain keduanya yang mereka ini sangat mengagungkan ilmu tafsir Al-Qur`an Al-Karim, namun mereka tidak berani tampil, padahal mereka mampu, hal itu karena kehati-hatian dan wara’ mereka.

Kandungan Tafsir Al Qur`an  Sangat Luas Tanpa Batas

Kemudian datang sesudah mereka tingkatan generasi para ulama Ahli Tafsir setingkat demi setingkat, semuanya menginfakkan rezeki ilmu Tafsir yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada mereka, namun ketahuilah wahai para pembaca, tafsir yang mereka sampaikan tetap saja belum bisa meliputi semua penjelasan kandungan Al-Qur`an Al-Karim dari berbagai sisi dengan sempurna, masih banyak sekali mutiara-mutiara kandungan Al-Qur`an Al-Karim yang tidak bisa diliputi oleh ilmu seluruh makhluk, karena Al-Qur`an Al-Karim adalah sifat Allah Ta’ala, sedangkan sifat Allah tidak ada penghujung akhirnya!

Oleh karena inilah, Sahl bin Abdullah berkata,

لَوْ أُعْطِيَ الْعَبْدُ بِكُلِّ حَرْفٍ مِنَ الْقُرْآنِ أَلْفَ فَهْمٍ لَمْ يَبْلُغْ نِهَايَةَ مَا أَوْدَعَهُ اللَّهُ فِي آيَةٍ مِنْ كِتَابِهِ لِأَنَّهُ كَلَامُ اللَّهِ وَكَلَامُهُ صِفَتُهُ وَكَمَا أَنَّهُ لَيْسَ لِلَّهِ نِهَايَةٌ فَكَذَلِكَ لَا نِهَايَةَ لِفَهْمِ كَلَامِهِ وإنما يفهم كل بمقدار مَا يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيْهِ وَكَلَامُ اللَّهِ غَيْرُ مَخْلُوقٍ وَلَا تَبْلُغُ إِلَى نِهَايَةِ فَهْمِهِ فُهُومٌ مُحْدَثَةٌ مَخْلُوقَةٌ

“Seandainya seorang hamba dianugerahi seribu pemahaman pada setiap huruf Al-Qur`an, maka tidak akan bisa membatasi kandungan yang Allah simpan dalam suatu ayat di Kitab-Nya, karena Al-Qur`an itu adalah Kalamullah, sedangkan Kalamullah adalah sifat-Nya, sebagaimana Allah itu tidak berakhir, maka demikian pula (sifat-Nya, sehingga) tidak ada batas akhir untuk pemahaman terhadap Al-Qur`an. Yang ada hanyalah masing-masing (ulama) memahami (Al-Qur`an) sekadar ilmu yang Allah bukakan untuknya. Kalamullah itu bukan makhluk, maka pemahaman (manusia) -yang merupakan makhluk yang dulunya tidak ada- tentunya tidak akan sampai meliputi (seluruh) kandungan Al-Qur`an (dengan sempurna).”

Baca juga:
* Apakah Al Qur’an Bebas Tafsir?

(Ringkasan Muqaddimah Kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur`an)

[Bersambung]

Daftar Link Artikel Berseri:

  1. Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (1)
  2. Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (2)
  3. Kemuliaan Al Qur’an Al Karim (3)
  4. Kemuliaan Al Qur`an Al-Karim (4)
  5. Kemuliaan Al Qur`an Al Karim (5)

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id 

Sumber: https://muslim.or.id/30559-kemuliaan-al-quran-al-karim-4.html

Keistimewaan Bahasa Arab (4)

Keistimewaan Bahasa Arab (4)

Baca pembahasan sebelumnya : Keistimewaan Bahasa Arab (3)

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menyatakan dalam kitab Tafsirnya,

ثم أثنى على الكتاب بتمام البيان فقال: {فُصِّلَتْ آيَاتُهُ} أي: فصل كل شيء من أنواعه على حدته، وهذا يستلزم البيان التام، والتفريق بين كل شيء، وتمييز الحقائق

“Kemudian Allah memuji Kitab-Nya karena kesempurnaan penjelasan yang terdapat di dalamnya, Allah berfirman {فُصِّلَتْ آيَاتُهُ}, maksudnya dijelaskan segala sesuatu dengan keanegaragamannya sehingga terbedakan satu dengan yang lainnya. Hal ini mengharuskan adanya penjelasan yang sempurna, dan pembedaan antara satu dengan yang lainnya, serta pembedaan hakikat-hakikat.”

Selanjutnya As-Sa’di rahimahullah menafsirkan firman Allah

{قُرْآنًا عَرَبِيًّا }, yaitu, باللغة الفصحى أكمل اللغات، فصلت آياته وجعل عربيًا

“Dengan bahasa yang fasih, lagi paling sempurna, dijelaskan makna ayat-ayat Al-Qur`an dan Allah jadikannya berbahasa Arab.”

Adapun firman Allah {لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ }, As-Sa’di rahimahullah menafsirkan,

أي: لأجل أن يتبين لهم معناه، كما تبين لفظه، ويتضح لهم الهدى من الضلال، والْغَيِّ من الرشاد. وأما الجاهلون، الذين لا يزيدهم الهدى إلا ضلالاً، ولا البيان إلا عَمًى فهؤلاء لم يُسَقِ الكلام لأجلهم، {سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ}

“Maksudnya, agar jelas maknanya bagi mereka, sebagaimana jelas lafalnya, dan terang bagi mereka antara petunjuk dan kesesatan, penyimpangan dan lurus. Adapun orang-orang yang bodoh, yaitu orang-orang yang petunjuk (Al-Qur`an) tidaklah menambah mereka kecuali kesesatan dan kebutaan terhadap kebenaran, maka bukan untuk mereka pembicaraan ini ditujukan.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman” (Q.S. Al-Baqarah: 6).

Bahasa Arab Mempengaruhi Tingkat Pemahaman terhadap Al-Qur`an

Al-Qur`an Al-Karim demikian berpengaruhnya pada hati bangsa Arab karena itu adalah bahasa mereka. Oleh karena itu, semakin dalam ilmu bahasa Arab seseorang, maka ia semakin paham kandungan Al-Qur`an Al-Karim. Demikian pentingnya bahasa Arab di pandangan ulama rahimahumullah, hingga mereka pun memperhatikan bahasa Arab baik dengan mempelajari, menulis kitab-kitab tentangnya, dan mengajarkannya. Semua itu termasuk bagian dari upaya berkhidmah untuk mempelajari dan mengajarkan Al-Qur`an Al-Karim. Membela bahasa Arab dan memperjuangkan mensosialisasikannya termasuk bagian dari membela Al-Qur`an Al-Karim dan menjaganya.

Perbedaan kadar dalam memahami Al-Qur`an Al-Karim sangatlah dipengaruhi oleh seberapa besar pemahaman seseorang terhadap bahasa Arab. Semakin luas pengetahuan seseorang dalam memahami bahasa Arab, maka semakin dalam pengetahuannya terhadap nash Al-Qur`an Al-Karim dan As-Sunnah dan semakin kokoh pemahamannya. Dahulu orang-orang asli bangsa Arab di kalangan para sahabat, ketika di masa turunnya Al-Qur`an Al-Karim, mereka memiliki pengetahuan yang luas tentang bahasa Arab yang masih murni dan belum banyak terpengaruh dengan bahasa non Arab, sehingga mereka menjadi umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling mampu memahami makna, hukum, rahasia dan maksud yang terkandung dalam Al-Qur`an Al-Karim.

Adapun orang-orang yang datang sesudahnya, semakin jauh mereka dari kemampuan berbahasa Arab yang murni, maka semakin berkurang pula pemahaman mereka terhadap makna, hukum, rahasia, dan maksud yang terkandung dalam Al-Qur`an Al-Karim. 

[Bersambung]

Daftar Link Artikel Berseri:

  1. Keistimewaan Bahasa Arab (1)
  2. Keistimewaan Bahasa Arab (2)
  3. Keistimewaan Bahasa Arab (3)
  4. Keistimewaan Bahasa Arab (4)

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/30977-keistimewaan-bahasa-arab-4.html

Keistimewaan Bahasa Arab (3)

Keistimewaan Bahasa Arab (3)

Baca pembahasan sebelumnya: Keistimewaan Bahasa Arab (2)

Bahasa Arab adalah Bahasa yang Paling Efektif untuk Menyampaikan Gagasan

Allah Ta’ala jelaskan hal ini dalam firman-Nya,

إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur`an berupa kitab yang berbahasa Arab, agar kamu memahaminya” (QS. Yusuf : 2).

Pakar Tafsir yang terkenal, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan rahasia di balik penurunan Al-Qur`an dengan berbahasa Arab,

وذلك لأن لغة العرب أفصح اللغات وأبينها وأوسعها ، وأكثرها تأدية للمعاني التي تقوم بالنفوس

Hal yang demikian itu dikarenakan bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas, paling luas (kosakatanya), serta paling efektif dalam menyampaikan sebuah makna” (Tafsir Ibnu Katsir).

Bahasa Arab adalah Bahasa yang Paling Mulia.

Ibnu Katsir rahimahullah, saat menafsirkan QS. Yusuf: 2 di atas, juga menyatakan bahwa dikarenakan karakteristik bahasa Arab demikian sempurna dan istimewa, maka pantaslah jika Allah Ta’ala turunkan Kitabullah yang paling agung, yaitu Al-Qur`an Al-Karim, dalam bahasa yang paling agung. Berikut ini penuturan Ibnu Katsir rahimahullah,

فلهذا أنزلَ أشرف الكتب بأشرف اللغات، على أشرف الرسل، بسفارة أشرف الملائكة، وكان ذلك في أشرف بقاع الأرض، وابتدئ إنزاله في أشرف شهور السنة وهو رمضان، فكمل من كل الوجوه

“Oleh karena itulah, diturunkan Kitabullah yang paling mulia (Al-Qur`an) dalam bahasa yang paling mulia, kepada Utusan Allah yang paling mulia, disampaikan oleh Malaikat yang paling mulia, di tempat yang paling mulia di muka bumi, dimulai penurunannya di bulan yang paling mulia dalam setahun, yaitu bulan Ramadhan. Maka, sempurnalah (Al-Qur`an) dari berbagai sisi” (Tafsir Ibnu Katsir).

Bahasa Arab adalah Bahasa yang Jelas Lafal maupun Maknanya

Allah Ta’ala berfirman,

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui” (Q.S. Fushshilat: 3).

Berbagai Bentuk Kejelasan Ayat-Ayat Al-Qur`an

Al-Qurthubi rahimahullah membawakan dalam kitab tafsirnya beberapa tafsiran tentang firman Allah Ta’ala,

كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ

Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya

Dengan menukilkan perkataan Ahli Tafsir tentang bentuk-bentuk kejelasan ayat-ayat Al-Qur`an. Para Ahli Tafsir menjelaskan bahwa di antara maksud bahwa ayat-ayat Al-Qur`an itu jelas adalah bahwa dalam Al-Qur`an terdapat penjelasan tentang perkara yang halal dan yang haram, taat dan maksiat, janji dan ancaman, pahala dan siksa, kebenaran dan kebatilan, berikut ini perkataan mereka,

Qatadah rahimahullah menjelaskan,

ببيان حلاله من حرامه، وطاعته من معصيته

“Dengan adanya penjelasan (dalam Al-Qur`an) tentang perkara yang halal dan yang haram, taat, dan maksiat.”

بالوعد والوعيد

“Dengan adanya penjelasan janji dan ancaman (dalam Al-Qur`an)”, tutur Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah.

Sedangkan Sufyan rahimahullah menafsirkan,

بالثواب والعقاب

“Dengan adanya penjelasan pahala dan siksa (dalam Al-Qur`an).”

Kemudian Al-Qurthubi rahimahullah menutup tafsir firman Allah {كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ} dengan,

وقرئ فصلت أي : فرقت بين الحق والباطل ، أو فصل بعضها من بعض باختلاف معانيها ، من قولك : فصل أي : تباعد من البلد

“Dan dibaca {فُصِّلَتْ}, maksudnya adalah (dalam Al-Qur`an) dibedakan antara kebenaran dan kebatilan, atau dibedakan sebagian ayat yang satu dengan sebagian yang lainnya karena perbedaan maknanya. Berasal dari ucapanmu fushshila, artinya saling menjauh (berpisah) dari negeri.”

Imam Mufassirin di zamannya hingga sekarang, Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan {كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ} dengan,

كتاب بينت آياته

“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya.” Lalu beliau membawakan riwayat bahwa As-Sudi rahimahullah,

بينت آياته

“(Kitab yang) dijelaskan ayat-ayatnya.”

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan {قُرْآنًا عَرَبِيًّا} dengan ucapannya,

في حال كونه لفظا عربيا ، بينا واضحا ، فمعانيه مفصلة ، وألفاظه واضحة غير مشكلة

“(Kitabullah) dalam bahasa Arab secara lafal, jelas lagi terang. Jadi, maknanya jelas dan lafal pun terang tanpa kesulitan”

Adapun {لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ} ditafsirkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah,

أي : إنما يعرف هذا البيان والوضوح العلماء الراسخون

“Maksudnya hanya ulama yang kokoh ilmunyalah yang mengetahui jelas dan terangnya (makna seluruh Al-Qur`an).”

[Bersambung]

Daftar Link Artikel Berseri:

  1. Keistimewaan Bahasa Arab (1)
  2. Keistimewaan Bahasa Arab (2)
  3. Keistimewaan Bahasa Arab (3)
  4. Keistimewaan Bahasa Arab (4)

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/30541-keistimewaan-bahasa-arab-3.html

Keistimewaan Bahasa Arab (2)

Keistimewaan Bahasa Arab (2)

Baca pembahasan sebelumnya Keistimewaan Bahasa Arab (1)

Bahasa Arab, Bagian Dari Agama Islam

Asy-Syatibi rahimahullah menyebutkan bahwa Al-Qur`an Al-Karim diturunkan dengan bahasa Arab, oleh karena itu agar kita bisa memahami Al-Qur`an Al-Karim dengan baik haruslah dipahami sesuai dengan ilmu bahasa Arab. Lalu beliau membawakan dalil-dalil seputar diturunkannya Al-Qur`an Al-Karim dengan bahasa Arab dan rahasia dibalik hal itu berupa sifat bahasa Arab yang istimewa, berikut dalil-dalil tersebut:

Firman Allah Ta’ala,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur`an berupa kitab yang berbahasa Arab, agar kamu memahaminya” (Q.S. Yusuf: 2).

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ

dengan bahasa Arab yang jelas” (Q.S. Asy-Syu’araa`: 195).

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ

Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya Al-Qur`an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Nabi Muhammad). Padahal bahasa yang mereka tuduhkan adalah bahasa non Arab, sedang Al-Qur`an adalah dalam bahasa Arab yang terang” (Q.S. An-Nahl: 103).

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ ۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

Dan jikalau Kami jadikan Al-Qur`an itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan, ‘Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?’ Apakah (patut Al-Qur`an) dalam bahasa asing sedang (Rasulullah adalah orang) Arab?” (Q.S. Fushshilat: 44).

Asy-Syatibi rahimahullah setelah membawakan dalil-dalil tersebut menyatakan bahwa Al-Qur`an diturunkan berbahasa Arab, sehingga Al-Qur`an haruslah dipahami dengan bahasa Arab.

فمن أراد تفهمه، فمن جهة لسان العرب يفهم، ولا سبيل إلى تطلب فهمه من غير هذه الجهة

“Barangsiapa yang menginginkan untuk dapat memahami Al-Qur`an (dengan baik), maka haruslah dipahami dengan ilmu bahasa Arab, dan tidak ada jalan lain untuk bisa memahaminya (dengan baik) selain jalan ini.”[1]

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang memiliki keistimewaan yang banyak, di antara keistimewaan tersebut dijelaskan dalam ayat Al-Qur`an dan penjelasan ulama rahimahumullah.

Berikut ini sebagian dalil-dalilnya dan ucapan ulama tentangnya:

Bahasa Arab adalah Bahasa yang Sempurna dan Universal

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)

Dan sesungguhnya Al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Nabi Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas” (QS. Asy-Syu’ara: 192-195).

Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab Tafsirnya mengatakan,

أي : هذا القرآن الذي أنزلناه إليك [ أنزلناه ] بلسانك العربي الفصيح الكامل الشامل، ليكون بينا واضحا ظاهرا ، قاطعا للعذر ، مقيما للحجة ، دليلا إلى المحجة.

“Maksudnya bahwa Al-Qur`an ini adalah (wahyu) yang Kami turunkan kepadamu dengan lisan (bahasa)mu (yaitu) bahasa Arab yang fasih, sempurna, universal agar Al-Qur`an menjadi jelas, terang, lagi gamblang, memutuskan udzur, menegakkan hujjah dan sebagai dalil yang menunjukkan kepada tujuan yang dimaksud.”

Di antara makna {مُبِينٍ} dalam ayat tersebut adalah bahasa yang ciri khasnya mampu menjelaskan makna yang dimaksud oleh pembicara.

Ibnu Faris (w. 395) -salah satu ulama bahasa- menyatakan,

فلما خَصَّ – جل ثناؤه – اللسانَ العربيَّ بالبيانِ، عُلِمَ أن سائر اللغات قاصرةٌ عنه، وواقعة دونه

“Ketika Allah Ta’ala memilih bahasa Arab untuk menjelaskan (firman-Nya), menunjukkan bahwa bahasa-bahasa yang lainnya, kemampuan, dan tingkatannya di bawah bahasa Arab” (As-Shahibi fi Fiqh al-Lughah, 1/4).[2]

[bersambung]

Daftar Link Artikel Berseri:

  1. Keistimewaan Bahasa Arab (1)
  2. Keistimewaan Bahasa Arab (2)
  3. Keistimewaan Bahasa Arab (3)
  4. Keistimewaan Bahasa Arab (4)

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Catatan Kaki:

[1] Tautan 
[2] Tautan

Sumber: https://muslim.or.id/30299-keistimewaan-bahasa-arab-2.html