Modal Dasar Berdoa pada Allah (4)

Modal Dasar Berdoa pada Allah (4)

Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (3)

Apabila seseorang yang berdoa berkata,

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Ya Tuhanku, berilah petunjuk aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku serta supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan memperbaiki keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (Q.S. Al-Ahqaaf: 15).

Ketundukan dan perendahan diri kepada Allah ini (menuntutnya) untuk berusaha mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepadanya dan kepada kedua orangtuanya, baik dengan mengakuinya, menyanjung-Nya, memuji-Nya, menggunakan nikmat tersebut untuk taat kepada-Nya, mengetahui (belajar tentang) amal shalih yang diridhoi oleh Allah dan mengamalkannya, serta berusaha mendidik keturunannya dengan pendidikan agama yang akan memperbaiki (mereka).

Demikianlah semua doa itu -di satu sisi- secara jelas menunjukkan kepada bersandar, merendahkan diri, dan berlindungnya seorang hamba kepada Allah dalam mendapatkan harapan (kebaikan) yang beranekaragam, dan -di sisi lain- secara jelas menunjukkan (tuntutan untuk) bersungguh-sungguh dalam melakukan setiap sebab yang dengannya diperoleh sesuatu yang dimaksud (dalam doanya), karena sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan setiap perkara yang diharapkan (oleh seorang hamba) memiliki sebab yang dengannya bisa diperoleh harapan itu, dan Allah Ta’ala memerintahkannya untuk melakukan sebab tersebut dengan diiringi kuatnya (hati) dalam bersandar kepada Allah, sedangkan doa adalah gambaran kuatnya (hati) dalam bersandar kepada Allah, oleh karena itu doa merupakan ruh dan inti dari peribadahan.

Apabila seorang hamba memohon kepada Rabb-nya agar mewafatkannya dalam keadaan muslim dan agar mewafatkannya bersama dengan orang-orang yang baik, berarti itu merupakan doa agar ia bisa meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Hal ini menuntutnya untuk melakukan sebab yang dengannya diperoleh wafat di atas agama Islam dan menyelaraskan (dirinya) dengan sebab tersebut. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (Q.S. Ali Imran: 102).

Dan hal ini diperoleh dengan melakukan sebab dan bersandarnya hati kepada Yang Menjadikan sebab (Allah Ta’ala). Wallahu a’lam” (Majmu’ul Fawa’id waqtinashil Awabid, karya Abdur Rahman bin Nashir bin Sa’di rahimahullah, hal. 86).

Ironi dalam Doa

Seseorang berdoa, “Ya Allah, masukkan aku kedalam surga-Mu, namun langkah-langkahnya menuju ke neraka.

Tatkala lisan berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosaku”, namun perbuatannya membuat Allah murka kepadanya.

Pantaskah lisan mengucapkan, “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni”, namun amalannya amalan orang yg jauh dari sebab-sebab maaf dan ampunan Allah??

Doa, Harapan, Niat, dan Tuntutannya

Sobat, menuliskan doa taqabbalallahu minna wa minkum itu mudah. Sedangkan menghadirkan harapan yang sungguh-sungguh kepada Allah & niat yang lurus saat menulisnya itulah yang sulit. Adapun memenuhi kriteria hamba yg diterima amalnya itu lebih sulit lagi.

Berdoa Ihdinash Shirathal Mustaqim dalam shalat itu mudah. Namun menghadirkan kekhusyu’an saat berdoa, harapan yang benar, rasa butuh yang sangat kepada Allah, dan penghayatan makna doa tersebut dalam shalat itulah yang sulit. Sedangkan memenuhi tuntutan konsekuensi doa tersebut berupa ucapan dan perbuatan yang lurus, lahir maupun batin itu lebih sulit lagi.

Begitulah karakteristik doa, urusannya tidak sekedar pelafalan atau penulisan saja, namun ia sangat butuh kehadiran hati, keikhlasan, dan pengamalan konsekuensinya.

[Bersambung]

Daftar link artikel ini:

  1. Modal Dasar Berdoa pada Allah (1)
  2. Modal Dasar Berdoa pada Allah (2)
  3. Modal Dasar Berdoa pada Allah (3)
  4. Modal Dasar Berdoa pada Allah (4)
  5. Modal Dasar Berdoa pada Allah (5)

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/31585-modal-dasar-berdoa-pada-allah-4.html

Modal Dasar Berdoa pada Allah (3)

Modal Dasar Berdoa pada Allah (3)

Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (3)

Agar Doa Dikabulkan

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan syarat dan adab yang penting dalam berdoa pada Allah.

Beberapa adab yang penting dalam berdoa bisa dirangkum sebagai berikut:

  1. Kehadiran dan kosentrasi hati secara totalitas terhadap perkara yang diharapkan dalam doa.
  2. Mencari waktu dikabulkannya doa.
  3. Berdoa dengan hati yang khusyu’, merasa tak berdaya di hadapan Allah, merendahkan diri dan tunduk kepada-Nya, serta lembut (dalam berdoa).
    4. Menghadapnya hamba yang berdoa ke arah kiblat.
  4. Dalam keadaan suci.
  5. Mengangkat kedua tangan (memohon) kepada Allah.
  6. Memulai (doanya) dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya.
  7. Bershalawat untuk hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  8. Memulai dengan bertaubat dan beristigfar (kepada Allah) sebelum menyebutkan keperluan (lainnya).
  9. Menghadap kepada Allah, memelas dalam berdoa, dan merendahkan diri kepada-Nya
  10. Menggabungkan harap dan cemas dalam berdoa kepada-Nya.
  11. Bertawassul dengan nama dan sifat-Nya dengan mentauhidkan-Nya.
  12. Mendahului doa dengan bersedekah.
  13. Memilih lafal doa yang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beritakan bahwa lafal tersebut berpotensi untuk dikabulkan atau mengandung nama-Nya yang agung.

Maka doa yang seperti ini tidak akan tertolak, hanya saja ada suatu perkara yang diwanti-wanti oleh para ulama, yaitu seseorang yang sedang berdoa, di samping memenuhi adab dan syarat agar doa dikabulkan, juga perlu memenuhi konsekuensi dan penyempurna doa berupa berusaha dengan sungguh-sungguh mengambil sebab untuk meraih perkara yang diminta dalam doanya.

Disebutkan dalam Majmu’ul Fawa’id waqtinashil Awabid, karya Ibnu Sa’di rahimahullah, “Permohonan hidayah kepada Allah itu menuntut (seseorang yang berdoa) melakukan seluruh sebab yang dengannya diperoleh hidayah, baik berupa sebab (mencari) ilmu maupun sebab (mengamalkan) amal (shalih).

Permohonan rahmah dan ampunan kepada Allah, menuntut (seseorang yang berdoa) melakukan (seluruh) sebab yang memungkinkan dengannya diperoleh rahmah dan ampunan, dan sebab-sebab tersebut telah diketahui dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah.  Apabila seseorang yang berdoa mengucapkan

اللهم أصلح لي ديني الذي هــــو عصمة أمري ، وأصلح لي دنياي التي فيهـا معاشي … » (1) إلى آخره

“Ya Allah perbaikilah agamaku untukku yang ia merupakan benteng pelindung bagi urusanku dan perbaikilah duniaku untukku yang ia menjadi tempat hidupku…(sampai akhir doa ini).”

(Maka) doa dan permohonan perlindungan kepada Allah ini menuntut seorang hamba berusaha memperbaiki agamanya dengan mengenal kebenaran dan mengikutinya, serta mengenal kebatilan dan menjauhinya, serta menolak fitnah syubhat dan syahwat.

Doa inipun menuntut (seorang hamba) untuk berusaha dan mengambil sebab yang dengannya menjadi baik urusan dunianya, dan sebab-sebab tersebut beraneka ragam sesuai dengan keadaan makhluk.

[Bersambung]

Daftar link artikel ini:

  1. Modal Dasar Berdoa pada Allah (1)
  2. Modal Dasar Berdoa pada Allah (2)
  3. Modal Dasar Berdoa pada Allah (3)

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/31481-modal-dasar-berdoa-pada-allah-3.html

Keistimewaan Bahasa Arab (8)

Keistimewaan Bahasa Arab (8)

Baca pembahasan sebelumnya Keistimewaan Bahasa Arab (8)

1. Hukum Mempelajari Bahasa Arab

Berikut ini sebagian fatwa yang menjelaskan tentang hukum mempelajari bahasa Arab.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah,

فإنَّ نفسَ اللغة العربية من الدِّين، ومعرفتها فرضٌ واجب؛ فإن فهم الكتاب والسنة فرض، ولا يفهم إلا بفهمِ اللغة العربية، وما لا يتمُّ الواجب إلا به فهو واجب، ثم منها ما هو واجبٌ على الأعيان، ومنها ما هو واجبٌ على الكفاية

“Bahasa Arab itu termasuk bagian agama (Islam), mengetahuinya adalah kewajiban, karena sesungguhnya memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itu adalah perkara yang wajib, dan tidaklah dapat dipahami kecuali dengan memahami bahasa Arab, dan sebuah kewajiban yang tidak bisa terlaksana kecuali dengan sarana tertentu, maka sarana tersebut hukumnya wajib.Di antara (hukum mempelajari) bahasa Arab itu ada yang fardhu ‘ain ada pula yang fardhu kifayah” (Iqtidha` Ash-Shirath Al-Mustaqim: 1/527).

Syaikh Abdullah Jibrin hafizhahullah pernah ditanya tentang hukum mempelajari bahasa Arab. Beliau hafizhahullah menjawab,

يجب عليه تعلم ما يلزمه في الإسلام لفظا ومعنى كالتكبير والفاتحة والتسبيحات…الواجبة في الصلاة وغيرها . والله أعلم

“Wajib baginya untuk mempelajari perkara yang memang ia diwajibkan untuk mempelajarinya dalam Islam, baik lafal maupun maknanya, seperti takbir, Al-Fatihah, tasbih… seluruh perkara yang wajib dilakukan dalam shalat dan selain shalat. Wallahu a’lam.”

2. Hukum Mempelajari Bahasa Non Arab

Telah disebutkan di atas tentang nukilan fatwa hukum mempelajari bahasa Arab yang menggambarkan demikian pentingnya mempelajari bahasa Arab. Oleh karena itu hendaknya setiap orang tua kaum muslimin mengajarkan bahasa Arab kepada anak-anak mereka sedari kecil agar faedah-faedah mempelajari bahasa Arab berupa mengasah daya pikir, membentuk karakter baik, akhlak karimah, dan mudah  menguasai ilmu Syariat, serta faedah lainnya semakin banyak didapatkan oleh anak-anak kaum muslimin. Merekalah yang nantinya akan menjadi penerus dari generasi tua, dan kelak akan memimpin negara ini.

Namun sebaliknya, ketika anak-anak kita sedari usia dini dikenalkan dan dibiasakan dengan mempelajari bahasa asing yang berasal dari negara-negara yang mayoritas mereka adalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, masih ditambah lagi, tidak diajarkan kepada mereka bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur`an dan Al-Hadits, maka ancaman yang menghadang anak-anak kita adalah lisan mereka akan terbiasa dengan bahasa asing dan bahkan mereka bisa terseret kepada bacaan-bacaan dalam bahasa asing yang berkonten merusak agama dan akhlak mereka, dengan dalih menfasihkan bahasa asing tersebut.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa mempelajari bahasa non Arab bukanlah perkara yang diharamkan, bahkan bisa jadi hukumnya fardhu kifayah, ketika tidak bisa terlaksana dakwah Islam kecuali dengan mempelajari bahasa non Arab. Hal itu dikarenakan menyampaiakan agama Allah kepada orang non Arab merupakan sebuah kewajiban, sedangkan bahasa adalah alat untuk menyampaikan dakwah, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S. Ibrahim: 4).

Adapun jika mempelajari bahasa non Arab itu untuk keperluan duniawi yang mubah, maka hukum mempelajarinya adalah mubah pula. Kendati hukum mempelajari bahasa non Arab demikian, namun beliau tetap tidak menyetujui dan bahkan memandang adanya ancaman bahaya apabila anak-anak usia dini -yang berumur sekitar empat atau lima tahun- sudah diajari bahasa Inggris, karena dikhawatirkan lisan mereka akan terbiasa dengan bahasa Inggris sehingga mereka mahir berbahasa Inggris dan tidak terbiasa dengan bahasa Arab, serta dikhawatirkan pula akan terdorong untuk membaca bacaan-bacaan yang buruk dengan dalih berlatih membaca teks berbahasa Inggris.

Wallahu a’lam.

Daftar Link Artikel Berseri:

  1. Keistimewaan Bahasa Arab (1)
  2. Keistimewaan Bahasa Arab (2)
  3. Keistimewaan Bahasa Arab (3)
  4. Keistimewaan Bahasa Arab (4)
  5. Keistimewaan Bahasa Arab (5)
  6. Keistimewaan Bahasa Arab (6)
  7. Keistimewaan Bahasa Arab (7)
  8. Keistimewaan Bahasa Arab (8)

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/31357-keistimewaan-bahasa-arab-8.html

Keistimewaan Bahasa Arab (7)

Keistimewaan Bahasa Arab (7)

Baca pembahasan sebelumnya Keistimewaan Bahasa Arab (6)

III. Faedah yang Tersimpan Di Balik Mempelajari Bahasa Arab

1. Tahukah Anda, bahwa Bahasa Arab dapat Mengasah Daya Pikir An

Pernahkah Anda berpikir bahwa kumpulan teori tata bahasa Arab beserta teori yang mengiringinya membuat seseorang pemakai bahasa Arab terasah daya pikirnya setiap kali ia membaca sebuah kitab ulama? Kumpulan teori nahwu, mulai dari marfu’at, manshubat, majruratul asma`,dan selainnya sangatlah dibutuhkan untuk dihadirkan dan diolah dalam waktu yang singkat pada benak orang yang sedang membaca sebuah kitab ulama agar ia bisa melafalkan dan memahami makna teks kitab tersebut dengan benar. Oleh karena itu pantaslah apabila Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,

تَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ فَإِنَّهَا تُنْبِتُ الْعَقْلَ وَتَزِيدُ فِي الْمُرُوءَةِ

“Pelajarilah bahasa Arab, karena sesungguhnya bahasa Arab itu dapat mengokohkan akal dan menambah kehormatan.”

Dan prosesi berpikir yang seperti inilah yang secara bertahap akan menajamkan pisau analisa seseorang serta mengasah daya pikirnya.

2. Ingin Pendidikan Berkarakter? Jangan Tinggalkan Mempelajari Bahasa Arab

Seseorang yang mempelajari bahasa Arab dengan tujuan agar bisa memahami Al-Qur`an dan As-Sunnah serta mengamalkan keduanya dengan sebaik-baiknya akrab membaca Al-Qur`an dan As-Sunnah, dan akrab dengan kitab-kitab tafsir, syarah Hadist, Fiqih, fatwa ataupun ucapan para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in serta fatwa para ulama.

Demikian pula ia akan terdorong mempelajari sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat, dan generasi salafush shaleh lainnya. Semua ini berpengaruh besar dalam pembentukan karakter baik dan revolusi mental pelajar bahasa Arab, asalkan ia memiliki tujuan belajar yang benar dan kesungguhan mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Terkait dengan hal ini, sorang ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang jenius, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan,

اعلم أنّ اعتياد اللغة يؤثر في العقلِ والخلقِ والدينِ تأثيراً قويّاً بيّناً ، ويؤثر أيضاً في مشابهةِ صدرِ هذه الأمّةِ من الصحابةِ والتابعين، ومشابهتهم تزيد العقلَ والدينَ والخلقَ.

“Ketahuilah bahwa perhatian terhadap bahasa Arab akan berpengaruh sekali terhadap kekuatan akal, akhlak (moral), agama (seseorang) dengan pengaruh yang sangat kuat lagi nyata. Demikian juga akan mempunyai efek positif berupa mendorong upaya meneladani generasi awal umat ini dari kalangan sahabat, tabi’in dan meniru mereka. Sedangkan meniru mereka akan meningkatkan kekuatan akal, agama, dan akhlak” (Iqtidha Shiratil Mustaqim, hlm. 527)

3. Inilah Metode Brilian Menguasai Ilmu Syariat!

Bahasa Arab merupakan sarana pokok mentransfer ilmu-ilmu Syariat Islam ini selama berabad-abad lamanya. Para ulama rahimahumullah telah memikirkan metode yang paling mudah dan singkat, sehingga dapat menhantarkan seseorang menguasai  ilmu-ilmu Syariat dengan baik. Di antara metode brilian yang Allah berikan petunjuk para ulama untuk menggunakannya adalah metode manzhumah atau bait-bait sya’ir.

Siapa yang tak kenal kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama dalam bentuk bait-bait sya’ir, yang lebih akrab disebut dengan manzhumah atau nazham? Sebut saja, misalnya Manzhumah Asy Syathibiyah, bait-bait ringkas tentang ilmu Qiraah sab’ah, Manzhumah Al-Jazariyah, bait-bait ringkas tentang ilmu Tajwid, ada pula Manzhumah Al-Baiquniyah, bait-bait ringkas tentang ilmu Musthalah Hadits, dan masih banyak yang lainnya.

Ulama yang meringkas berbagai disiplin ilmu dalam bait-bait syair tersebut punya tujuan agar penjelasan yang disampaikannya menjadi ringkas dan menarik susunannya sehingga lebih mudah dipelajari dan dihafal.

[Bersambung]

Daftar Link Artikel Berseri:

  1. Keistimewaan Bahasa Arab (1)
  2. Keistimewaan Bahasa Arab (2)
  3. Keistimewaan Bahasa Arab (3)
  4. Keistimewaan Bahasa Arab (4)
  5. Keistimewaan Bahasa Arab (5)
  6. Keistimewaan Bahasa Arab (6)
  7. Keistimewaan Bahasa Arab (7)

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/31351-keistimewaan-bahasa-arab-7.html

10 Kiat Istiqamah (3)

10 Kiat Istiqamah (3)

Baca pembahasan sebelumnya Sepuluh kaedah Istiqomah (2)

Kesungguhan dalam bersandar, berharap, dan memohon kepada Allah termasuk diantara kaedah istiqomah yang pertama-tama dan asasi!

Demikianlah saudaraku, ayat-ayat yang menunjukkan bahwa hidayah itu ada di tangan Allah Ta’ala banyak jumlahnya.

Jadi, hidayah itu karunia Allah Ta’ala yang Allah Ta’ala berikan kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Mengetahui siapa diantara hamba-hamba-Nya yang benar-benar bersungguh-sungguh untuk mendapatkan petunjuk-Nya dan layak mendapatkan petunjuk-Nya, dan siapa yang enggan mendapatkannya!

Oleh karena itulah, termasuk diantara kaedah istiqomah yang pertama kali perlu diperhatikan dan sangat mendasar adalah kesungguhan seorang hamba dalam bersandar, berharap, dan memohon kepada Allah Ta’ala, karena hidayah istiqomah itu hanyalah ada di tangan-Nya. Allah Ta’ala yang memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya jalan yang lurus.

Tahukah anda doa yang banyak dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Karena istiqomah itu ada di tangan Allah Ta’ala, maka pantaslah apabila doa yang banyak dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa mohon ketetapan hati di atas agama-Nya!

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu menuturkan:

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak berdoa :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Sang Pembolak-balik hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu”.

Lalu akupun berkata:

“Wahai Rasulullah, kami beriman kepadamu, dan beriman kepada ajaran Islam yang engkau bawa, maka apakah engkau mengkhawatirkan kami?”.

Beliau menjawab :

نَعَمْ، إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ، يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

“Ya! Sesungguhnya hati (para hamba) itu berada diantara dua jari dari jari-jemari Allah, Dia membolak-balikkannya sesuai dengan yang Dia kehendaki!”. [HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan selainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi 2140].

Jadi, istiqomah itu di tangan Allah Ta’ala, maka barangsiapa yang ingin bisa istiqomah dalam hidupnya, maka mohonlah kepada Allah Ta’ala semata, hendaklah ia menghiba, merengek-rengek, dan memelas dalam memohonnya kepada Allah Ta’ala.

Inilah kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat malam!

Oleh karena istiqomah itu di tangan Allah Ta’ala, maka pantaslah apabila diantara kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat malam adalah membuka shalat malam dengan doa istiftah yang diantara kalimatnya, yaitu:

إنك تهدي من تشاء إلى صراط مستقيم

“ٍSesungguhnya Engkau memberi petunjuk orang yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus” [HR. Muslim dalam Shahihnya].

Kewajiban memohon kepada Allah Ta’ala hidayah jalan yang lurus dalam setiap shalat kita!

Oleh karena istiqomah itu di tangan Allah Ta’ala, maka pantaslah apabila kita diwajibkan berdoa pada setiap shalat-shalat yang kita lakukan dengan memohon hidayah kepada-Nya jalan yang lurus! Bahkan, Allah Ta’ala mewajibkan kita berdoa dengan doa itu berulang kali dalam sehari semalam!

Doa tersebut adalah sebuah doa yang terdapat dalam surat Al-Fatihah,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus,

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. [QS. Al-Fatihah]

[Bersambung]

Daftar link artikel ini:

  1. 10 Kiat Istiqamah (1)
  2. 10 Kiat Istiqamah (2)
  3. 10 Kiat Istiqamah (3)

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/31345-10-kiat-istiqamah-3.html

10 Kiat Istiqamah (2)

10 Kiat Istiqamah (2)

Baca pembahasan sebelumnya 10 Kiat Istiqamah (1)

Istiqamah Itu Anugrah, Mintalah Pada Sang Pemberi Anugerah

Di dalam Al-Qur`an terdapat banyak ayat yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala menyandarkan kepada diri-Nya hidayah jalan yang lurus dan seluruh urusan itu ada di tangan-Nya. Allah Ta’ala lah yang memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan menyesatkan orang yang Dia kehendaki pula. Di tangan Allah-lah hati seluruh hamba-Nya, maka barangsiapa yang Allah kehendaki lurus hatinya, Allah-pun akan luruskannya sebagai karunia dari-Nya! Namun, barangsiapa yang hatinya Allah ketahui enggan untuk lurus, maka Allah simpangkan hatinya sesuai dengan keadilan-Nya. Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S. An-Nisa`.

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ ۖ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتً. وَإِذًا لَآتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًاا. وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا.

Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka). dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami. Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus” (Q.S. An-Nisa`:66-68).

Allah Ta’ala berfirman dalam ayat yang lainnya, masih dalam surat yang sama,

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (yang khusus) dari-Nya dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya” (Q.S.An-Nisa: 175).

Allah Ta’ala berfirman dalam Q.S. Yunus: 25,

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)” (QS.Yunus: 25).

Allah Ta’ala juga berfirman Q.S. Al-An’am, An-Nur, dan At-Takwir,

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ فِي الظُّلُمَاتِ ۗ مَنْ يَشَإِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah tuli, bisu, dan berada dalam gelap yang pekat. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus” (Q.S. Al-An’am: 39).

لَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ ۚ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus” (Q.S. An-Nur: 46).

إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ لِلْعَالَمينْ لمن شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيم َوَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Al-Qur`an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam” (Q.S. At-Takwir: 27-29).

[Bersambung]

Daftar link artikel ini:

  1. 10 Kiat Istiqamah (1)
  2. 10 Kiat Istiqamah (2)
  3. 10 Kiat Istiqamah (3)

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/31331-10-kiat-istiqamah-2.html

Modal Dasar Berdoa pada Allah (2)

Modal Dasar Berdoa pada Allah (2)

Baca pembahasan sebelumnya Modal Dasar Berdoa pada Allah (1)

Agar Doa Dikabulkan Allah

Doa bukan hanya sekedar ucapan. Doa yang mustajab memiliki beberapa syarat dan adab yang agung. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan tentang beberapa hal yang perlu dipenuhi apabila seorang hamba ingin dikabulkan doanya, beliau rahimahullah berkata,

وَإِذَا جمع مَعَ الدُّعَاءِ حُضُورَ الْقَلْبِ وَجَمْعِيَّتَهُ بِكُلِّيَّتِهِ عَلَى الْمَطْلُوبِ ، وَصَادَفَ وَقْتًا مِنْ أَوْقَاتِ الْإِجَابَةِ السِّتَّةِ ، وَهِيَ

“Apabila sebuah doa digabungkan dengan kehadiran dan kosentrasi hati secara totalitas terhadap perkara yang diharapkan, serta bertepatan dengan salah satu waktu dikabulkannya doa yang enam waktu, yaitu:

الثُّلُثُ الْأَخِيرُ مِنَ اللَّيْلِ ، وَعِنْدَ الْأَذَانِ ، وَبَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ، وَأَدْبَارُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ ، وَعِنْدَ صُعُودِ الْإِمَامِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ حَتَّى تُقْضَى الصَّلَاةُ مِنْ ذَلِكَ الْيَوْمِ ، وَآخِرُ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

(1) Sepertiga malam terakhir,

(2) ketika adzan,

(3) antara adzan dan iqamah,

(4) di akhir setiap sholat wajib (sebelum salam),

(5) ketika imam naik mimbar pada hari Jumat hingga selesainya sholat (Jumat) hari itu.

(6) Akhir dari waktu (hari Jumat) setelah Ashar.

وَصَادَفَ خُشُوعًا فِي الْقَلْبِ، وَانْكِسَارًا بَيْنَ يَدَيِ الرَّبِّ، وَذُلًّا لَهُ، وَتَضَرُّعًا، وَرِقَّةً .

“dan bertepatan dengan kekhusyuan hati, merasa tak berdaya di hadapan Allah, merendahkan diri dan tunduk kepada-Nya, serta kelembutan hati.”

وَاسْتَقْبَلَ الدَّاعِي الْقِبْلَةَ

“Menghadapnya hamba yang berdoa ke arah Kiblat.”

وَكَانَ عَلَى طَهَارَةٍ

“Dan ia dalam keadaan suci.”

وَرَفَعَ يَدَيْهِ إِلَى اللَّهِ

“Iapun mengangkat kedua tangannya (memohon) kepada Allah.”

وَبَدَأَ بِحَمْدِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ

“Dan memulai (doanya) dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya.”

ثُمَّ ثَنَّى بِالصَّلَاةِ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Ia bershalawat dan salam untuk hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

ثُمَّ قَدَّمَ بَيْنَ يَدَيْ حَاجَتِهِ التَّوْبَةَ وَالِاسْتِغْفَارَ

“Kemudian ia memulai dengan bertaubat dan beristighfar (kepada Allah) sebelum menyebutkan keperluan (lainnya).”

ثُمَّ دَخَلَ عَلَى اللَّهِ، وَأَلَحَّ عَلَيْهِ فِي الْمَسْأَلَةِ، وَتَمَلَّقَهُ وَدَعَاهُ رَغْبَةً وَرَهْبَةً.

“Mulailah ia menghadap kepada Allah, memelas dalam berdoa, dan merendahkan diri di hadapan-Nya, serta berdoa kepada-Nya dengan harap dan cemas.”

وَتَوَسَّلَ إِلَيْهِ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَتَوْحِيدِهِ

“Ia pun bertawassul dengan nama dan sifat-Nya serta dengan mentauhidkan-Nya.”

وَقَدَّمَ بَيْنَ يَدَيْ دُعَائِهِ صَدَقَةً، فَإِنَّ هَذَا الدُّعَاءَ لَا يَكَادُ يُرَدُّ أَبَدًا، وَلَا سِيَّمَا إِنْ صَادَفَ الْأَدْعِيَةَ الَّتِي أَخْبَرَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهَا مَظَنَّةُ الْإِجَابَةِ، أَوْ أَنَّهَا مُتَضَمِّنَةٌ لِلِاسْمِ الْأَعْظَمِ.

“Ia pun mendahului doanya dengan bershadaqah, maka doa yang seperti ini tidak akan tertolak selamanya, terlebih lagi jika bertepatan dengan lafal-lafal doa yang Nabi shallallahu’alaihi wa sallam memberitakan bahwa lafal-lafal tersebut berpotensi untuk dikabulkan atau lafal-lafal tersebut mengandung nama-Nya yang paling agung.”

[bersambung]

Daftar link artikel ini:

  1. Modal Dasar Berdoa pada Allah (1)
  2. Modal Dasar Berdoa pada Allah (2)

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/31293-modal-dasar-berdoa-pada-allah-2.html

10 Kiat Istiqamah (1)

10 Kiat Istiqamah (1)

Bagaimana Cara Istiqamah?

Di antara perkara yang banyak ditanyakan masyarakat kepada ulama, para penuntut ilmu syar’i, dan para da’i adalah tentang masalah istiqamah (meniti jalan yang lurus), dan perkara-perkara yang dapat membantu seseorang untuk dapat tetap tegar meniti jalan Allah yang lurus (As-Shiratul Mustaqim). Sesungguhnya pembahasan istiqamah adalah pembahasan yang sangat penting, dan ajaran yang agung, layak bagi setiap muslim dan muslimah untuk memperhatikannya dengan perhatian yang besar. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ. نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah.’ Kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kalian takut dan janganlah merasa sedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian. Kami adalah pelindung-pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta. Sebagai hidangan (bagi kalian) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Fushshilat: 30-32).

Istiqamah dengan meniti jalan Allah Ta’ala yang lurus, membuahkan akibat yang baik dan buah manis berupa kebahagiaan di dunia dan akhirat, keberuntungan yang hakiki, dan kebaikan seluruh urusan seorang hamba. Maka selayaknyalah seseorang yang menginginkan kebahagiaan, keselamatan, dan kebaikan di dunia dan akherat memperhatikan masalah istiqamah ini dengan sungguh-sungguh, baik dengan mempelajarinya, mengamalkan tuntutannya, maupun menjaga agar tetap istiqamah sampai meninggal dunia, dengan terus menerus hati bersandar kepada Allah Ta’ala semata.

10 Kiat Istiqamah

Penjelasan sepuluh kiat istiqamah ini diringkas dari buku

Asyru Qowa’id fil Istiqamah yang ditulis oleh Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah. Dalam buku tersebut, sang penulis hafizhahullah memaparkan dengan indah, singkat, dan jelas tentang pengertian istiqamah, dan kiat-kiat agar seseorang mampu untuk istiqamah di dalam hidupnya. Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafizhahullah yang kini telah meraih gelar profesor doktor tersebut, menyebutkan sepuluh bab tentang istiqamah. Kendati buku ini tergolong buku yang tipis (kutaib), namun dengan taufik Allah sang penulis berhasil menjelaskan masalah istiqamah dengan baik melalui 10 bab tersebut, yaitu:

  1. Istiqamah adalah anugerah dari Allah Ta’ala.
  2. Hakikat istiqamah adalah meniti jalan yang lurus (Islam).
  3. Dasar istiqamah adalah keistiqamahan hati.
  4. Istiqamah yang tertuntut adalah sesuai Sunnah, apabila tidak mampu, maka mendekatinya.
  5. Istiqamah terkait dengan ucapan, perbuatan, dan niat.
  6. Istiqamah tidak terwujud kecuali dengan ikhlas karena Allah, dan dengan pertolongan Allah, serta sesuai dengan perintah Allah.
  7. Seorang hamba, meski bagaimanapun ketinggian tingkat istiqamahnya, maka ia tidak boleh bersandar kepada amalnya.
  8. Buah istiqamah di dunia adalah istiqamah di atas jembatan (Ash-Shiroth) pada hari kiamat.
  9. Penghalang istiqamah adalah syubhat yang menyesatkan, atau syahwat yang menggelincirkan.
  10. Tasyabbuh (meniru) orang kafir termasuk penghalang istiqamah terbesar.

[bersambung]

Daftar link artikel ini:

  1. 10 Kiat Istiqamah (1)
  2. 10 Kiat Istiqamah (2)
  3. 10 Kiat Istiqamah (3)

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/31217-10-kiat-istiqamah-1.html

Bertaubat, Sebab Dikabulkan Doa (2)

Bertaubat, Sebab Dikabulkan Doa (2)

Baca pembahasan sebelumnya Bertaubat, Sebab Dikabulkan Doa (1)

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Hud ‘alaihis salam bahwa beliau mengatakan kepada kaumnya:

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhan kalian lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atas kalian, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kalian, dan janganlah kalian berpaling dengan berbuat dosa’”. (QS. Hud: 52).

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf: 96).

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

“(42) Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.”

فَلَوْلَا إِذْ جَاءَهُمْ بَأْسُنَا تَضَرَّعُوا وَلَٰكِنْ قَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“(43) Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 42-43).

Allah Ta’ala berfirman memerintahkan hamba-Nya untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah:

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

“Dan hendaklah kalian meminta ampun kepada Tuhan kalian dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kalian mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik kepada kalian sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kalian berpaling, maka sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Hud: 3).

Jadi, bertaubat dan memohon ampun kepada Allah Ta’ala adalah sebab turunnya kebaikan, keberkahan dan pengkabulan doa. Diriwayatkan dalam sebuah riwayat bahwa Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu keluar memohon kepada Allah agar diturunkan hujan, lalu beliau tidaklah mengucapkan lafal doa kecuali hanya sekedar istigfar hingga turunlah hujan atas manusia. Orang-orangpun berkata: ‘Kami tidak melihatmu mengucapkan doa meminta hujan.’ Beliaupun menjawab: ‘Saya telah memohon turun hujan dengan kunci-kunci langit yang dengan itu bisa turun hujan.’ Kemudian beliau membaca:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارً

“)10) Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,”

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

“(11) Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat.”

Allah Ta’ala berfirman:

وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“(12) dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untuk kalian sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).

[Bersambung]

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/31204-bertaubat-sebab-dikabulkan-doa-2.html

Bertaubat, Sebab Dikabulkan Doa (1)

Bertaubat, Sebab Dikabulkan Doa (1)

Termasuk adab yang agung dalam berdoa dan salah satu sebab dikabulkannya doa adalah seorang hamba mendahulukan taubat dari seluruh dosa-dosanya sebelum menyampaikan permohonan lainnya dalam doa kepada Allah Ta’ala, ia mengakui dosa-dosanya dan keteledorannya, serta menyesali dosa dan kesalahannya, karena bertumpuknya dosa, serta banyaknya kemaksiatannya merupakan sebab tidak dikabulkannya doa.

Dinukil dari Siyar A’lamin Nubala`: 13/15[1] bahwa Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata:

“Janganlah engkau menganggap terlambat pengkabulan doa, padahal engkau telah menutup jalannya dengan dosa-dosa (mu)!”

Sebuah Hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

ثم ذكر الرجل يطيل السفر ، أشعث أغبر ، يمدّ يديه إلى السماء : يا رب يا رب ، ومطعمه حرام ، ومشربه حرام ، وملبسه حرام ، وغُذّي بالحرام ، فأنّى يُستجاب له ؟

“Kemudian beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) menyebutkan seseorang yang lama berpergian jauh, acak-acakan rambutnya dan berdebu. Dia mengangkat kedua tangannya ke atas: ‘Ya Rabbi…Ya Rabbi…’, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, badannya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana doanya bisa terkabulkan?”. (HR. Muslim).

Imam Nawawi rahimahullah berkata :

“(Bahwa orang ini) lama bepergian dalam rangka beribadah kepada Allah, seperti haji, ziarah, bersilaturrahmi dan yang lainnya.”[2]

Baca juga:

Kalau seseorang safar yang lama dalam rangka melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala saja, lalu ia berdoa, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menilai orang itu jauh dari terkabulkan doanya, bagaimana lagi dengan doa orang yang safar untuk tujuan bermaksiat?!

Oleh karena itu, maka barangsiapa yang ingin agar Allah mengabulkan doa dan merealisasikan harapannya, hendaklah ia bertaubat dengan taubat nasuha dari segala dosa-dosanya.

Allah Jalla wa ‘Ala tidak keberatan sama sekali mengampuni dosa-dosa orang yang dikehendaki-Nya dan tidak keberatan memberi kebutuhan orang yang memohon kepada-Nya bagi orang yang Allah kehendaki.

Dahulu para nabi dan rasul (utusan) Allah Ta’ala mendorong dan menyemangati umat mereka untuk bertaubat dan istigfar, serta menjelaskan kepada umat mereka bahwa hal itu termasuk sebab dikabulkannya doa, turunnya hujan, banyaknya kebaikan, tersebarnya keberkahan pada harta dan anak.

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘alaihis salam bahwa beliau berkata kepada kaumnya:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارً

“(10) Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,”

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

“(11) Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat.”

Allah Ta’ala berfirman:

وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“(12) dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untuk kalian sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12).

[Bersambung]

Penulis: 
Artikel: Muslim.or.id

Catatan Kaki

[1] Tautan 
[2] Tautan

Sumber: https://muslim.or.id/31120-bertaubat-sebab-dikabulkan-doa-1.html