Keindahan Islam (1)

Keindahan Islam (1)

Bismillahi wal hamdullillahi wahdahu wash shalatu was salamu ‘ala man la nabiyya ba’dahu, amma ba’du.

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah yang meridahi agama Islam untuk umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Segala puji hanya bagi Allah yang menjadikan syari’at yang dibawa oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup syari’at Allah dan menjadi syari’at yang paling sempurna serta dibawa oleh utusan-Nya yang paling mulia, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keindahan Islam adalah suatu tema yang sangat menyejukkan jiwa orang-orang yang berhati hanif dan melapangkan dada orang-orang yang berfitrah lurus. Betapa tidak, dengan mengetahui keindahan Islam, seorang muslim semakin paham tentang agama yang dianutnya, dan semakin mantap dalam beragama Islam. Dengan dijelaskan tentang keindahan Islam, seorang non muslim pun akan terdakwahi dan syubhat merekapun akan terbantah.

Perkara-perkara inilah yang disebut oleh Markaz Qatar litta’rif bilIslam –dalam kitabnya berjudul: At-Ta’rif bil Islam– sebagai hal yang merupakan urgensi mengenal keindahan Islam. Disebutkan di dalam kitab tersebut, bahwa urgensi mengenal keindahan Islam itu terbagi menjadi tiga sisi faedah besar, yaitu:

Sisi Pemeliharaan: Menguatkan Keimanan Seorang Muslim

Mengenal keindahan Islam mendorong seorang muslim untuk mengetahui agamanya, semakin mengenal keistimewaan, dan keagungan agamanya, sehingga menguatlah keimanannya dan bertambah kuat iltizamnya dengan agama Islam.

Sisi Pencegahan: Membentengi Diri dari Serangan Syubhat

Sesungguhnya mengenal keindahan Islam merupakan bekal dan senjata bagi seorang muslim dalam menghadapi syubhat yang dilontarkan oleh musuh-musuh Islam. Seorang muslim yang paham tentang keindahan Islam diharapkan akan mudah mengetahui kedustaan dan keburukan syubhat yang merusak keimanannya dan mampu membentengi diri dari bahayanya.

Sisi Dakwah: Metode yang Sangat Indah dalam Berdakwah

Salah satu metode terbaik dalam menjelaskan Islam kepada orang-orang dan mengajak mereka melaksanakan agama Islam adalah dengan mengenalkan keindahan Islam yang sangat banyak kepada mereka. Hal ini, bukan hanya bermanfaat bagi keimanan seorang muslim, namun juga akan mendorong non muslim tertarik mengenal agama Islam dengan baik serta mengetahui keindahan dan kekokohan dasar-dasar agama Islam ini.

Islam Adalah Satu-Satunya Agama yang Diridhoi Oleh Allah

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imraan:19).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

إخبار من الله تعالى بأنه لا دين عنده يقبله من أحد سوى الإسلام ، وهو اتباع الرسل فيما بعثهم الله به في كل حين ، حتى ختموا بمحمد صلى الله عليه وسلم ، الذي سد جميع الطرق إليه إلا من جهة محمد صلى الله عليه وسلم ، فمن لقي الله بعد بعثته محمدا صلى الله عليه وسلم بدين على غير شريعته ، فليس بمتقبل .

“(Dalam ayat ini terdapat) kabar dari Allah Ta’ala bahwa tidak ada agama di sisi-Nya yang Allah terima dari seseorang selain Islam, yaitu mengikuti para rasul dalam perkara yang Allah utus mereka dengannya dalam setiap waktu hingga ditutup dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah menutup seluruh jalan menuju kepada-Nya kecuali dari jalur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka barangsiapa yang berjumpa dengan Allah setelah Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa agama Islam, dalam keadaan ia beragama dengan agama selainnya, maka agamanya tersebut tidaklah diterima.”

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

Sumber: https://muslim.or.id/29308-keindahan-islam-1.html

Dampak Fitnah (4)

Dampak Fitnah (4)

Nasehat salah satu Khalifah Rasyidun, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tentang Hal-Hal yang Dibutuhkan Seorang Muslim dalam Menghadapi Fitnah

Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam kitabnya Al-Adab Al-Mufrad dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

لا تكونوا عُجُلاً مَذَايِيعَ بُذُرًا: فإن من ورائكم بلاءً مبرِّحاً أو مُكْلِحاً، وأمور مُتَماحِلَةً رُدُحاً

“Janganlah kalian suka terburu-buru, mudah menyebarkan dan memperbesar  fitnah serta suka membuka rahasia lagi tidak pandai menjaga lisan, karena di belakang kalian terdapat musibah yang sangat buruk atau tidak disukai, dan perkara-perkara yang membinasakan lagi fitnah-fitnah yang besar” (Al-Adab Al-Mufrad (327), berkata Al-Albani (Hadis ini) sahih).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu melarang tiga perkara, yaitu:

  1. Melarang kita menjadi orang yang ‘ujul, yaitu bersikap suka terburu-buru dalam memutuskan perkara, berucap maupun bertindak. Hendaklah kita menjadi orang yang tenang, berhati-hati dan teliti memandang suatu permasalahan dan dampak-dampak yang ditimbulkannya, serta baik dan buruknya. Dengan demikian, diharapkan seseorang melangkah dengan pertimbangan yang benar-benar matang.
  2. Melarang kita menjadi orang yang madzayi’, yaitu tipe penyebar fitnah atau orang yang memperbesar api fitnah, baik dengan ucapan maupun tindakannya. Dengan tersebarnya fitnah, maka daerah yang terkena fitnah menjadi lebih luas dan dengan diperbesar api fitnah akan terjadi keburukan dan bahaya yang lebih besar, meskipun daerah yang tidak terkena fitnah tidaklah bertambah luas.
  3. Melarang kita menjadi orang yang budzur, yaitu suka membuka rahasia lagi tidak pandai menjaga lisan. Merupakan perkara yang dimaklumi bersama, bahwa di saat api fitnah bergejolak, satu kalimat saja yang terucapkan -padahal semestinya satu kalimat tersebut disimpan demi mencegah bahaya dan dampak buruk yang besar- terbukti bisa menyebabkan darah kaum muslimin mengalir dan merusak harta dan kehormatan mereka. Bahkan bisa saja timbul bahaya yang lebih besar dari itu semua, yaitu bahaya dan musibah yang menimpa agama seorang muslim.

Kesimpulan

Dari beberapa penjelasan pada serial sebelumnya, dapat kita ketahui bahwa pembahasan mengenai “Dampak-dampak negatif fitnah” ini merupakan pembahasan yang sangat penting, karena merupakan penjagaan seseorang dari segala keburukan, baik keburukan di dunia, terlebih lagi keburukan di akhirat.

Seseorang yang memahami dampak-dampak negatif fitnah, bahayanya dan pengaruh buruknya, diharapkan akan waspada, berhati-hati dan menjaga diri dari segala keburukan. Ia bukan hanya selamat dari keburukan ketika fitnah itu datang, bahkan jauh-jauh hari sebelum fitnah itu menyerang, iapun akan diberi taufik oleh Allah untuk menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang dicintai oleh-Nya, sehingga bisa jadi hal itu menjadi sebab yang besar bagi dirinya untuk menjadi sosok pembuka pintu kebaikan bagi orang lain saat fitnah datang menyerang.

Sesungguhnya dampak-dampak negatif fitnah, bahayanya dan pengaruh buruknya itu banyak jumlahnya, namun Syaikh Abdur Razzaq hafizhahullah akan menulis sebagiannya saja dengan harapan Allah menjadikan hal itu bisa bermanfaat luas bagi kaum muslimin.

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

Sumber: https://muslim.or.id/29271-dampak-fitnah-4.html

Dampak Fitnah (3)

Dampak Fitnah (3)

Kisah Imam Ahmad rahimahullah ketika Menghadapi Fitnah

Perhatikanlah begitu menakjubkan sikap Imam Ahmad rahimahullah, sosok yang mendapatkan anugerah Allah berupa ketajaman pandangan jauh ke depan, beliau mampu melihat akibat buruk yang akan ditimbulkan dari sebuah fitnah. Pahami dan hayati kisah sang Imam tersebut, dan bayangkan bagaimanakah seandainya fitnah yang dihadapi oleh Imam Ahmad tersebut terjadi di tengah-tengah masyarakat kita?

Berikut kisah singkatnya, suatu saat sejumlah ulama Baghdad mendatangi Imam Ahmad rahimahullah di rumahnya. Ketika itu kaum muslimin sedang menghadapi fitnah munculnya pendapat dari penguasa yang menyatakan bahwa Alquran itu makhluk dan masalah lainnya. Mereka mengatakan kepada Imam Ahmad, “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), masalah ini sudah semakin membesar dan tersebar (luas), maka Imam Ahmad pun balik bertanya tentang maksud mereka,“Apa yang kalian inginkan?”

Kami ingin bermusyarah (dengan Anda) untuk menyatakan sikap politik bahwa kita tidak ridha dengan kepemimpinannya dan pemerintahannya” jawab mereka.

Lalu Imam Ahmad rahimahullah mendebat mereka sesaat lamanya dan beliaupun berkata,

عليكم بالنكرة بقلوبكم ولا تخلعوا يدا من طاعة ولا تشقوا عصا المسلمين ولا تسفكوا دماءكم ودماء المسلمين معكم، انظروا في عاقبة أمركم واصبروا حتى يستريح بر أو يستراح من فاجر

“Saudara-saudara wajib mengingkarinya dengan hati, namun janganlah kalian mencabut ketaatan kalian (kepada penguasa) dan janganlan kalian memecah belah barisan kaum muslimin. Janganlah pula kalian alirkan darah kalian dan darah kaum muslimin bersama kalian.  Perhatikanlah akibat (buruk) dari sikap kalian dan bersabarlah hingga orang yang baik dapat hidup tentram atau masyarakat merasa aman dari keburukan orang-orang yang jahat” (Diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Khallali dalam kitab As-Sunnah, no. 90).

Ajakan Imam Ahmad rahimahullah ini sesungguhnya didasarkan kepada pandangan beliau yang jauh terhadap akibat buruk yang dikhawatirkan menimpa pelakunya. Namun, sangat disayangkan bahwa mereka tidak menghiraukan nasehat sang Imam! Bahkan, mereka malah mengajak putra dari saudara laki-laki Imam Ahmad untuk ikut serta mengambil langkah politis tersebut. Bapaknyapun tidak tinggal diam, saudara Imam Ahmad itu melarang putranya untuk ikut serta dengan mengatakan, “Hati-hatilah, (jangan sampai) engkau menyertai mereka, karena sesungguhnya Imam Ahmad tidaklah melarang mereka kecuali agar mereka tidak terjatuh kedalam keburukan!” lalu iapun menyampaikan udzurnya.

Singkat cerita, mereka tetap mengambil langkah politis keluar dari ketaatan kepada penguasa tatkala itu, akibatnya apa yang dikhawatirkan oleh sang Imam pun terjadi, diantara mereka ada yang terbunuh, dan ada pula yang dipenjara, semua itu terjadi tanpa menghasilkan perbaikan apa-apa. Kisah ini membuktikan bahwa sikap berhati-hati, mempertimbangkan masak-masak akibat buruk sebuah masalah, dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, termasuk sesuatu yang paling bermanfaat bagi seorang hamba, baik untuk dunianya maupun nasib di akhiratnya.

Nasehat Pakar Tafsir di Kalangan Sahabat, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tentang Sikap yang Benar dalam Menghadapi Fitnah

Seorang sahabat yang mulia, Ahli Tafsir Alquran, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengucapkan ucapan emas,  sebagai nasehat bagi kita semua di dalam menghadapi fitnah.

Beliau berkata,

إنها ستكون أمور متشابهات: فعليكم بالتُّؤَدَة، فإنك أن تكون تابعا في الخير خيرً من أن تكون رأساً في الشر

“Sungguh kelak akan muncul perkara -perkara yang samar (fitnah), maka kalian harus bersikap tenang (tidak terburu-buru), karena sesungguhnya engkau menjadi seorang pengikut dalam kebaikan itu lebih baik daripada engkau menjadi pemimpin dalam keburukan” (Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Al-Mushannaf : 38343 dan Al-Baihaqi dalam kitab Asyu’ab: 9886).

[Bersambung]

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

Sumber: https://muslim.or.id/29252-dampak-fitnah-3.html

Dampak Fitnah (2)

Dampak Fitnah (2)

Peringatan terhadap Fitnah dalam Al Qur’an dan As-Sunnah

Di dalam Al Qur’an dan As-Sunnah terdapat dalil-dalil tentang peringatan terhadap fitnah dan perintah untuk menjauhinya, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” (QS. Al-Anfaal: 25).

Perhatikanlah dalam hadis di bawah ini, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya untuk memohon perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari buruknya fitnah dajjal. Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian telah selesai tasyahhud (akhir) [dalam riwayat lain jika  salah seorang diantara kalian  selesai dari tasyahhud akhir], maka hendaknya ia memonon perlindungan kepada Allah dari empat perkara, dengan mengatakan

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, sesungguhnya ini berlindung kepadamu dari adzab Jahannam, adzab kubur, fitnah kehidupan dan kematian, dan dari buruknya fitnah masih dajjal” (HR. Muslim: 588).

Sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

ستكون فتن القاعد فيها خير من الماشي، والماشي خير من الساعي

“Akan datang beberapa fitnah, (dalam masalah itu) orang yang duduk  lebih baik daripada orang yang berjalan, sedangkan orang yang berjalan lebih baik dari orang yang berjalan cepat” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Maksud hadis di atas adalah sebagai informasi bahwa setiap kali seseorang menjauh dari usaha menggerakkan fitnah, maka semakin baik dan semakin bermanfaat baginya. Iapun memohon kepada Allah untuk melindungi dirinya dan melindungi kaum muslimin dari keburukan fitnah. Dalam Shahih Muslim, dari hadis Zaid bin Tsabit, dari Nabi kita ‘alaihish shalatu was salam bahwa beliau bersabda,

تعوذوا بالله من الفتن من ظهر منها وما بطن

“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari fitnah zhohir maupun batin”

Beginilah sikap Salafsush Sholeh terhadap Fitnah

Bab tentang memahami dampak-dampak buruk fitnah itu sangatlah besar faedahnya bagi manusia, karena hal itu akan menghasilkan sikap berhati-hati dari terjatuh kepada fitnah sehingga iapun terjaga darinya, sebagaimana sebuah ungkapan Bahasa Arab,

السعيد من اتعظ بغيره

“Orang yang berbahagia adalah orang yang mampu mengambil pelajaran dari kejadian yang pernah terjadi pada orang lain”.

Seorang hamba yang terpuji adalah orang yang memahami dan mempelajari dampak-dampak negatif fitnah dan ia mau bertanya kepada ulama sebelum terjadinya fitnah, barangkali di dalam fitnah tersebut terdapat celah yang menjerumuskan dirinya kedalam jurang pembuka pintu keburukan bagi dirinya dan bagi orang lain, lalu iapun bisa menghindarinya.

Suatu saat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadis dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

إِنَّ مِنْ النَّاسِ ناسا مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَ إِنَّ مِنْ النَّاسِ ناسا مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مفتاحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ  مفتاحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

Sesungguhnya diantara manusia, ada orang yang menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan, namun ada juga orang yang menjadi pembuka pintu keburukan dan penutup pintu kebaikan. Maka berbahagialah orang-orang yang Allah jadikan kunci kebaikan ada pada kedua tangannya. Dan celakalah orang-orang yang Allah jadikan kunci keburukan ada pada kedua tangannya” (HR Ibnu Majah, dan selainnya, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah).

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

Sumber: https://muslim.or.id/29229-dampak-fitnah-2.html

Dampak Fitnah (1)

Dampak Fitnah (1)

Makna Fitnah

Pakar bahasa Arab, Ibnu Faris rahimahullah menjelaskan huruf fa`, ta` dan nun adalah (huruf-huruf) dasar yang sahih menunjukkan kepada makna cobaan dan ujian (Maqayisul Lughah: 4/472).

Ahli Nahwu, Al-Jurjani mengatakan bahwa fitnah adalah sesuatu yang dengannya menjadi jelas keadaan manusia, keadaan yang baik maupun buruk. (Dalam Bahasa Arab) disebutkan Anda menguji emas dengan api, jika api membakarnya. Dengannya dapat Anda ketahui mana emas yang murni atau tercampur (kotoran) (At-Ta’rifat: 138)

Hal ini selaras dengan penjelasan Ar-Raghib rahimahullah dalam Al-Mufrodatnya: 623 bahwa asal kata ‘fitnah’ adalah memasukkan emas kedalam api, agar nampak yang baik dari yang buruk.

Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari: 11/176 membawakan salah satu pendapat yang menjelaskan tentang fitnah,

أصل الفتنة الاختبار، ثم استعملت فيما أخرجته المحنة والاختبار إلى المكروه، ثم أطلقت على كل مكروه أو آيل إليه كالكفر والإثم والتحريق والفضيحة والفجور وغير ذلك.

“Pada asalnya kata ‘fitnah’ bermakna ‘ujian’, kemudian kata tersebut dipakai untuk menunjukkan kepada sesuatu yang dikeluarkan kepada sesuatu yang dibenci melalui cobaan dan ujian, kemudian kata ‘fitnah’ tersebut itu dimutlakkan untuk setiap yang dibenci atau akibatnya kembali kepada sesuatu yang  dibenci, seperti kekafiran, dosa, pembakaran, penyingkapan aib, kefajiran dan selainnya.”

Dalam Fathul Bari disebutkan salah satu bentuk fitnah adalah

الفتنة: ما ينشأ عن الاختلاف في طلب الملك حيث لا يعلم المحقّ من المبطل (فتح الباري [13/ 34])

Fitnah adalah sesuatu yang muncul dari perselisihan (manusia) dalam memperoleh kekuasaan hingga tidak diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah.

Ibnul A’rabi telah meringkas makna-makna fitnah secara bahasa, yaitu,

الفتنة الاختبار، والفتنة المحنة، والفتنة المال، والفتنة الأولاد، والفتنة الكفر، والفتنة اختلاف الناس بالآراء والفتنة الإحراق بالنار (لسان العرب لابن منظور).

“Fitnah bermakna ujian, fitnah bermakna cobaan, fitnah bermakna harta, fitnah bermakna anak-anak, fitnah bermakna kekafiran, fitnah bermakna perselisihan pendapat di antara manusia,  fitnah bermakna pembakaran dengan api” (Lisanul Arab, Ibnu Manzhur).

Kata Fitnah dalam Al Qur’anul Karim dan As-Sunnah

Kata ‘fitnah’ dalam dalil mengandung banyak makna, di antara makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, yaitu cobaan dan ujian, memalingkan dari jalan kebenaran dan menolaknya, siksa, syirik dan kekufuran, terjatuh di dalam kemaksiatan dan kemunafikan, samarnya antara kebenaran dengan kebatilan, penyesatan, pembunuhan dan penawanan, perselisihan pendapat dan tidak bersatunya hati orang-orang, dan selainnya. Demikan banyaknya makna kata ‘fitnah’ dalam dalil, sehingga pantas jika Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyimpulkan tips memaknai kata fitnah dalam sebuah kalimat,

ويعرف المراد حيثما ورد بالسياق والقرائن

“Dan dimanapun (kata fitnah) disebutkan, dapat diketahui maksudnya dari konteks kalimat dan petunjuk-petunjuknya” (Fathul Bari 11/176).

Urgensi Mengetahui Bentuk Fitnah dan Dampak-Dampak Negatifnya

Ada suatu ungkapan indah,

كيف يتقي من لا يدري ما يتقي

“Bagaimana seseorang bisa menjaga diri dari suatu bahaya, jika ia tidak mengetahui bahaya apa yang ia harus jaga dirinya darinya?”

Orang yang tidak mengetahui fitnah dan tidak mengetahui dampak buruknya, sangat mungkin ia akan terjatuh kedalam suatu fitnah dan bahkan bergelimang dengannya serta membahayakan kehidupannya, namun tidak menyadarinya, yang ada adalah penyesalan. Mengenal dampak buruk sesuatu dan bahaya-bahayanya, memberikan bekal kepada seorang hamba berupa sikap menjaga diri darinya dan sikap berhati-hati terhadapnya.

Demikian pula, mengenal fitnah dan dampaknya sangat besar manfaatnya, karena hal ini termasuk sikap melihat akibat dan kembalinya suatu perkara, dan sikap ini terhitung sebagai sikap kecerdikan seorang hamba sebelum melangkah dan memutuskan perkara, ia memandang jauh kedepan akibat dan dampak perkara tersebut. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan mengulangi sabdanya sampai tiga kali,

إن السعيد لمن جُنِّبَ الفتن

“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah-fitnah”.

[Bersambung]

Disarikan dari kitab Atsarul Fitan, Syaikh Abdur Razzaq, hal.5-6.

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

Sumber: https://muslim.or.id/29212-dampak-fitnah-1.html

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (9)

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (9)

7. Ciuman cinta

Abu Hurairah –semoga Allah meridhainya- berkata,

قَبَّلَ النَّبِىّ صلى الله عليه وسلم الْحَسَنَ بْنَ عَلِىٍّ ، وَعِنْدَهُ الأقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِىُّ جَالِسًا ، فَقَالَ الأقْرَعُ : إِنَّ لِى عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ قَالَ : مَنْ لا يَرْحَمُ لا يُرْحَمُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, ‘Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan dirahmati’” (HR Al-Bukhari no 5997 dan Muslim no 2318).

Dalam kisah yang sama dari ‘Aisyah –semoga Allah meridhainya- ia berkata,

جَاءَ أَعْرَابِى إِلَى النَّبِى صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ ، فَمَا نُقَبِّلُهُمْ ، فَقَالَ النَّبِى صلى الله عليه وسلم أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ

Datang seorang Arab badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda, ‘Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki? Kami tidak mencium mereka.’ Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa sayang dari hatimu’” (HR Al-Bukhari no 5998 dan Muslim no 2317).

Ibnu Baththol rahimahullah berkata, “Menyayangi anak kecil, memeluknya, menciumnya, dan lembut kepadanya termasuk dari amalan-amalan yang diridhai oleh Allah dan akan diberi ganjaran oleh Allah. Tidakkah engkau perhatikan Al-Aqro’ bin Haabis menyebutkan kepada Nabi bahwa ia memiliki sepuluh orang anak laki-laki, tidak seorang pun yang pernah ia cium, maka Nabi pun berkata kepada Al-Aqro’ bahwa siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayang.

Maka hal ini menunjukan bahwa mencium anak kecil, menggendongnya, ramah kepadanya merupakan perkara yang mendatangkan rahmat Allah1.

8. Candaan Cinta

Dari Mahmud bin Ar-Robi’ berkata,

عَقَلْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجَّةً مَجَّهَا فِي وَجْهِي وَأَنَا ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ دَلْوٍ

“Saya teringat sebuah semburan (air dari mulut) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau semburkan di wajahku, air itu diambil dari timba, sedangkan ketika itu saya (masih) seorang anak berumur lima tahun” (HR. Al-Bukhari).

Ada sebuah riwayat Imam Ahmad, tentang kisah Abu Umair yang telah disebutkan sebelum ini, terdapat keterangan, “Dan beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ) dahulu banyak mencandainya (Abu Umair). Suatu saat beliau mengunjunginya, lalu beliau melihatnya dalam keadaan sedih, kemudian beliau bertanya,

مالي أرى أبا عمير حزيناً ؟

“Saya melihat Abu Umair bersedih, ada apa gerangan?”

Kemudian orang-orangpun menjawab, “Telah mati burung kecilnya yang dahulu ia bermain dengannya!” (HR. Imam Ahmad, shahih)

[Bersambung]

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

Sumber: https://muslim.or.id/29200-sepuluh-bahasa-cinta-dalam-mendidik-anak-9.html

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (8)

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (8)

4. Kata Cinta

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أنه مر على صبيان فسلم عليهم وقال كان النبي صلى الله عليه وسلم يفعله

Diriwayatkan dari Anas, bahwa beliau melewati beberapa anak kecil lalu beliau (Anas) memberi salam kepada mereka dan berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal tersebut” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud  dan At-Tirmidzi).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا. أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَىْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan pada kalian suatu amalan yang jika kalian melakukannya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian” (HR. Muslim no. 54).

Al-Baraa` radhiyallahu ‘anhu berkata, Saya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda –sedangkan Al-Hasan bin Ali diatas pundaknya-,

اللهم إني أحبه فأحبه

“Ya Allah, sesungguhnya saya mencintainya, maka cintailah ia” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

5. Sentuhan Cinta

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

كان صلى الله عليه وسلم يزور الأنصار، ويسلِّم على صبيانهم، ويمسح رؤوسهم

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungi para sahabat Anshar, mengucapkan salam kepada anak-anak mereka dan mengecup kepala anak-anak mereka” (HR. An-Nasaa`i, shahih).

Dari Jabir bin Samuroh berkata,

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةَ الْأُولَى، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى أَهْلِهِ وَخَرَجْتُ مَعَهُ، فَاسْتَقْبَلَهُ وِلْدَانٌ، فَجَعَلَ يَمْسَحُ خَدَّيْ أَحَدِهِمْ وَاحِدًا وَاحِدًا

“Saya menunaikan shalat Zhuhur bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau keluar menuju ke rumah istri beliau dan saya pun keluar bersama beliau. Muncullah anak-anak menemui beliau, beliaupun mulai mengusap kedua pipi salah seorang dari mereka, satu persatu”.

Jabir bin Samuroh berkata,

وَأَمَّا أَنَا فَمَسَحَ خَدِّي

“Adapun saya, maka beliau mengusap satu pipiku” (HR. Muslim).

6. Dekapan Cinta

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambilku dan mendudukkanku di atas pahanya serta meletakkan Hasan di paha beliau yang lainnya, lalu beliau mendekap keduanya dan berdo’a,

اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا

Ya Allah kasihilah keduanya karena aku mengasihi keduanya” (HR. Al-Bukhari).

Pelajaran

Kata-kata cinta, sentuhan dan dekapan cinta yang dicontohkan oleh sosok utusan Allah yang paling mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika kita terapkan dengan ikhlas dan semangat ittiba’ kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka akan melahirkan buah-buah positif bagi pembentukan karakter keturunan kita. Sebut saja sifat-sifat positif pada diri anak yang diharapkan muncul dan menguat itu, seperti sang anak akan terpupuk rasa kasih sayangnya terhadap sesama, mencintai dan menghormati orang yang lebih tua, merasa diperhatikan dan dihargai oleh orang yang lebih tua usianya, serta melatih komunikasi atas dasar cinta kasih, baik verbal maupun non verbal.

(Bersambung)

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

Sumber: https://muslim.or.id/29186-sepuluh-bahasa-cinta-dalam-mendidik-anak-8.html

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (7)

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (7)

2. Panggilan Cinta

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa ia berkata, “Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak menjenguk kami. Ketika itu saya memiliki adik laki-laki yang masih kecil, dijuluki Abu Umair. Ia memiliki burung kecil yang ia suka bermain dengannya. Lalu matilah burung itu. Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguknya, lalu beliau melihatnya sedang bersedih, kemudian beliau bertanya,

مَا شَأْنُهُ

“Ada apa dengannya?”

Orang-orang menjawab “Telah mati burung kecil itu!”, maka beliaupun bertanya,

يَا‏ ‏أَبَا عُمَيْرٍ‏ مَا فَعَلَ ‏ ‏النُّغَيْرُ

“Wahai Abu Umair! Apakah gerangan yang dilakukan oleh burung kecil itu?” (HR. Abu Dawud, shahih).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sengaja memanggilnya dengan panggilan khas (tashghiir) dalam rangka untuk membuatnya senang dan merasa diperlakukan dengan sikap yang memang diharapkannya, yaitu memberi perhatian yang lebih disaat dirinya sedang bersedih. Cobalah ayah dan ibu perhatikan kisah di atas, bukankah sebenarnya beliau sudah diberitahu bahwa Abu Umair sedih karena burung kecilnya mati?

Namun mengapa beliau tetap saja bertanya? Hikmah yang besar tentunya di balik sikap beliau tersebut.

Secara psikologis, anak-anak yang mengalami kesedihan butuh tempat untuk curhat, mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatinya. Dan semakin orang itu memiliki keutamaan yang tinggi ditambah dengan sifatnya yang mudah akrab dengan anak-anak, hal ini akan mendorong anak-anak semakin terbuka untuk curhat kepadanya.

Oleh karena itu, sengaja beliau bertanya menggunakan kalimat yang memancing tercurahkannya isi hati sang anak kepadanya. Di samping itu, seorang anak kecil ketika mendapatkan perhatian dari orang yang terhormat, apalagi dari sosok Utusan Allah yang termulia, akan sangat merasa dihargai, sehingga giliran selanjutnya diharapkan terbentuk kepribadian yang memiliki kepercayaan diri yang bagus.

3. Sambutan Cinta

Dari Abdullah bin Ja’far berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِصِبْيَانِ أَهْلِ بَيْتِهِ

Dahulu kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika datang dari safar, diarahkanlah anak-anak dari Ahli Bait beliau (untuk menyambut beliau)”.

Abdullah bin Ja’far berkata,

وَإِنَّهُ قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَسُبِقَ بِي إِلَيْهِ فَحَمَلَنِي بَيْنَ يَدَيْهِ ثُمَّ جِيءَ بِأَحَدِ ابْنَيْ فَاطِمَةَ فَأَرْدَفَهُ خَلْفَهُ قَالَ فَأُدْخِلْنَا الْمَدِينَةَ ثَلَاثَةً عَلَى دَابَّةٍ

Suatu saat beliau datang dari safar, lalu akupun didahulukan untuk menyambut beliau, lalu beliaupun mengangkatku (untuk didudukkan di atas tunggangan beliau) di depan beliau, kemudian didatangkanlah salah satu dari dua putra Fathimah (Hasan atau Husain, pent.), beliaupun memboncengnya di belakangnya, lalu kamipun bertiga menaiki binatang tunggangan masuk Madinah” (HR. Muslim).

Lihatlah bagaimana sambutan hangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat memungkinkan beliau ketika itu masih dalam keadaan capai karena beratnya safar zaman dahulu, namun tetap bertawadhu’ dan menyempatkan diri untuk menyambut kedua anak tersebut dengan penuh kedekatan, sehingga mereka berduapun merasa tersanjung dan merasa akrab dengan manusia yang paling mulia di muka bumi. Kenangan seperti inilah yang masih diingat oleh bocah sang pelaku sejarah ketika itu, Abdullah bin Ja’far radhiallahu ‘anhu. Hal ini menanamkan pelajaran-pelajaran karakter yang mulia, seperti rendah hati, kemampuan membangun komunikasi dengan baik, dan empati yang bagus kepada orang lain.

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

Sumber: https://muslim.or.id/29174-sepuluh-bahasa-cinta-dalam-mendidik-anak-7.html

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (6)

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (6)

Cinta yang murni itu memiliki tanda-tanda. Kasih sayang yang tuluspun menuntut adanya pernyataan dan sikap sebagai bukti-buktinya. Tanda-tanda cinta dan bukti-bukti kasih sayang itu adalah sebuah bahasa manusia saat mengungkapkan perasaan yang terpendam dalam hatinya. Nah, apa saja tanda-tanda dan bukti-bukti cinta dan kasih sayang yang tulus dari seorang ayah dan ibu kepada putra-putrinya? Berikut ini jawabannya.

  1. Cinta Allah Ta’ala
  2. Panggilan Cinta
  3. Sambutan Cinta
  4. Kata Cinta
  5. Sentuhan Cinta
  6. Dekapan Cinta
  7. Ciuman Cinta
  8. Candaan Cinta
  9. Penghargaan Cinta
  10. Pemberian Cinta

Perlu dipahami bahwa jumlah sepuluh disini bukanlah maksudnya sebagai pembatasan, namun hal ini sekedar untuk memberi contoh bentuk-bentuk cinta dan kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak-anak. Selanjutnya diharapkan para pembaca terpacu untuk mencari contoh-contoh lain dari suri teladan terbaik di dunia ini.

1. Cinta Allah Ta’ala Adalah Asal dari Seluruh Cinta yang Terpuji

Ibnul Qoyyim rahimahullah menyatakan,

فأصل المحبة المحمودة التي أمر الله تعالى بها، وخلق خلقه لأجلها: هي محبته وحده لا شريك له المتضمنة لعبادته دون عبادة ما سواه، فإن العبادة تتضمن غاية الحب بغاية الذل، ولا يصلح ذلك إلا لله عز وجل وحده

“Dasar cinta terpuji yang Allah Ta’ala perintahkannya dan Allah ciptakan makhluk karenanya adalah mencintai Allah semata, tiada sekutu baginya. Cinta Allah mengandung peribadahan kepada-Nya semata dan tidak menyembah selain-Nya, karena sesungguhnya ibadah mengandung puncak cinta diiringi dengan puncak perendahan diri. Sikap ini tidak boleh dipersembahkan kecuali kepada Allah Azza wa Jalla semata” (Ighaatsatul Lahfan, hal. 457-458).

Kecintaan seseorang kepada Allah wajib ada di atas segala bentuk kecintaannya kepada selain-Nya, karena cinta Allah adalah dasar dari agama Islam ini, dengan sempurnanya cinta ini pada hati seseorang, menjadi sempurna pula keimanannya, dan sebaliknya, dengan berkurangnya kadar kecintaan seseorang kepada Allah, akan berkurang pula keimanannya.

Allah berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman lebih mencintai kepada Allah” (QS. Al-Baqarah: 165).

Ibnul Qoyyim pun juga menjelaskan bahwa cintalah yang menggerakkan orang yang mencintai sesuatu mencari sesuatu tersebut. Maka orang yang mencintai Allah dengan benar dan baik, akan tergerak untuk mencari perkara yang dicintai oleh Allah pada setiap ucapan maupun perbuatannya. Lahirnya maupun batinnya akan ia pantau terus agar sesuai dengan kecintaan dan keridhaan Rabbnya. Inilah yang kita kenal pada penjelasan sebelum ini dengan definisi ibadah.

Ayah dan Ibu, ajarkanlah kepada ananda cinta kepada Sang Penciptanya. Tanamkan kepada diri putra-putri Anda bagaimana mencintai Allah dengan baik dan benar. Pahamkan mereka dengan penuh kasih sayang, bahwa mencintai Allah itu harus dibuktikan dengan mencari segala sesuatu yang dicintai-Nya. Perkara yang dicintai oleh Allah terdapat dalam syari’at-Nya yang dibawa oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencintai Allah yang benar adalah dengan mengikuti Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’” (QS. Ali Imraan: 31).

Semoga dengan demikian putra-putri kita menjadi sadar bahwa tujuan hidup mereka adalah menjadi anak-anak yang dicintai oleh Allah. Inilah letak kebahagiaan yang hakiki bagi kita sebagai orang tua ketika melihat putra-putri kita dicintai dan diridhai oleh Allah. Bagaimana kita tidak bahagia, tidak sejuk pandangan mata kita, dan tidak ridha hati kita sebagai orang tua? Bukankah apabila Allah ridha kepada seorang anak, maka tentulah setiap orang tua yang lurus fithrahnya akan ridha terhadapnya.

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

Sumber: https://muslim.or.id/29152-sepuluh-bahasa-cinta-dalam-mendidik-anak-6.html

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (5)

Sepuluh Bahasa Cinta Dalam Mendidik Anak (5)

Definisi Kasih Sayang (rahmah)

Dalam kitab Mufrodaatul Quraan yang ditulis oleh Ar-Ragib Al-Ashfahani rahimahullah dikisahkan sebagai berikut.

الرَّحْمَة رقَّة تقتضي الإحسان إلى الْمَرْحُومِ، وقد تستعمل تارةً في الرِّقَّة المجرَّدة، وتارة في الإحسان المجرَّد عن الرِّقَّة

“Rahmah adalah rasa belas kasih (didalam hati) yang mengharuskan (seseorang) berbuat baik kepada makhluk yang disayangi, terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk rasa belas kasih (didalam hati) saja, namun terkadang kata ‘rahmah’ dipakai untuk mengungkapkan perbuatan baik saja tanpa rasa belas kasih (di dalam hati).”

Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan kata ‘rahmah’ dalam Ighaatsatul Lahfan,

فالرحمة صفة تقتضي إيصال المنافع والمصالح إلى العبد ، وإن كرهتها نفسه ، وشقت عليها ، فهذه هي الرحمة الحقيقية

“Rahmah adalah suatu sifat yang mengharuskan adanya penyampaian manfaat dan maslahat kepada seorang hamba meskipun hal itu dibenci dan dirasakan berat olehnya, inilah rahmah yang sebenarnya”.

Ibnul Qoyyim pun melanjutkan penjelasannya bahwa orang yang paling sayang kepada Anda adalah orang yang paling bermanfaat dan bermaslahat bagi Anda dan paling menjaga anda dari segala hal yang membahayakan Anda, walaupun sikap itu berat Anda rasakan.

Misalnya, seorang ayah yang sayang kepada anaknya, maka ia akan ‘memaksakan’ atau mengarahkan untuk mau belajar adab Islami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan sang ayah pun akan menghalang-halangi anaknya menuruti hawa nafsunya yang membahayakannya.

Dan apabila sang ayah mendapatkan dirinya teledor dalam hal itu, maka itu disebabkan sedikitnya rasa kasih sayangnya kepada sang anak, meskipun ia berdalih bahwa dirinya amat menyayangi putranya dan ingin menyenangkannya, karena ini berarti kasih sayang yang diiringi ketidaktahuan akan hakikat kasih sayang yang sebenarnya, sebagaimana sikap ini terjadi pada sebagian ibu-ibu. Oleh karena itu, termasuk kesempurnaan Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang adalah Dia menimpakan berbagai macam musibah kepada seorang hamba, mengujinya dengan berbagai macam ujian, dan mencegahnya mendapatkan banyak hal yang disukai oleh hawa nafsunya, karena Dia menyayanginya.

Namun, karena kebodohan seorang hamba dan kezalimannya, ia menyangka yang tidak-tidak terhadap Rabbnya sampai iapun tidak memahami bahwa hal itu adalah bentuk ihsan Allah kepada dirinya dengan mengujinya dan menimpakan musibah kepadanya. Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang paling bermanfaat bagi diri seorang hamba (Diringkas dari Ighaatsatul Lahfan, hal. 491).

Definisi Cinta

Ar-Rogib Al-Ashfahani rahimahullah mengatakan:

المحبَّة: ميل النفس إلى ما تراه وتظنه خيرًا

“Cinta adalah condongnya jiwa kepada sesuatu yang dipandangnya dan disangkanya sebagai sebuah kebaikan”.

Adapun Ibnul Qoyyim rahimahullah memiliki pandangan lain dalam mendefinisikan cinta, beliau menjelaskan bahwa tidaklah ada suatu ungkapan yang lebih jelas dalam membatasi makna cinta daripada kata ‘cinta’ itu sendiri. Justru dengan membatasi makna cinta dalam sebuah definisi akan menambah tidak jelasnya makna cinta.

Adapun apa yang banyak dikatakan oleh manusia tentang cinta, hanyalah sebatas penjelasan tentang sebab-sebab cinta, perkara-perkara yang mengharuskannya, tanda-tandanya, dan bukti-bukti cinta (Diringkas dari Madarijus Salikin : 3/11). Jadi, cinta menurut Ibnul Qoyyim adalah cinta itu ya cinta, suatu hal yang sulit jika harus menjelaskan perkara yang sudah jelas dirasakan dalam hati manusia.

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

Sumber: https://muslim.or.id/29133-sepuluh-bahasa-cinta-dalam-mendidik-anak-5.html