Metode Berdakwah Kepada Non-Muslim (1)

Metode Berdakwah Kepada Non-Muslim (1)

Dakwah adalah Jalan para Rasul, para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan para Imam Kaum Muslimin

Allah Ta’ala telah mengutus para rasul ‘alaihimush shalatu was salamu sebagai da’i yang mengajak hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada Allah semata dengan meniti jalan yang lurus.

Para rasul ‘alaihimush shalatu was salamu telah menjelaskan agama yang Allah turunkan dengan sempurna, mereka telah menegakkan hujjah, memberi peringatan, membawa kabar gembira serta menghilangkan syubhat sehingga tidak ada alasan untuk menyatakan tidak mengetahui agama Islam dan tidak ada alasan untuk tidak menerima agama Islam. Allah Ta’ala berfirman,

… لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَىٰ مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ

“…agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Anfaal: 42).

Para rasul ‘alaihimush shalatu was salamu telah membebaskan umat mereka dari perbudakan terhadap hawa nafsu dan syahwat sehingga mereka menghamba kepada Allah semata, dan mendorong umat untuk meraih keridhaan Allah. Tidak ada satu kebaikan pun kecuali telah mereka jelaskan dan tidak ada satu keburukan pun kecuali telah mereka peringatkan. Dan yang paling sempurna melaksanakan tugas Ad-Dakwah ilallah adalah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa ajaran yang paling sempurna.

Lalu tongkat estafet dakwah diteruskan oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in, dan tabi’ut-tabi’in, para imam kaum muslimin, ulama mereka dan da’i-da’i ilallah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikut beliau mengajak kepada Allah di atas ilmu yang shahih.

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan ilmu (yang benar), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (QS. Yusuf: 108).

Agama Allah tidaklah tersebar, dan kebaikan sebuah masyarakat pun tidaklah terwujud kecuali dengan Ad-Dakwah ilallah.

Sebaliknya, sebuah umat tidaklah binasa, sebuah umat tidaklah diazab, dan keburukan tidaklah tersebar di tengah-tengah umat kecuali karena akibat meninggalkan dakwah ataupun tidak memberikan perhatian yang semestinya kepada dakawah tersebut.

Kebutuhan manusia terhadap dakwah melebihi kebutuhan manusia terhadap makan dan minum. Seseorang yang terkena musibah kelaparan sehingga tidak mendapatkan makanan dan minuman, maka akibat terparahnya adalah mati, namun jika orang yang mati kelaparan tersebut adalah orang yang bertakwa, maka kematian itupun menghantarkannya kepada surga. Akan tetapi, apabila seseorang berpaling dari seruan Ad-Dakwah ilallah dan menolaknya, maka ancamannya bukan hanya kematian, namun juga adzab neraka yang menyala-nyala.

Skala Prioritas dalam Berdakwah Ilallah

Perlu diingat, bahwa ajaran agama Islam itu keutamaannya beranekaragam dan bertingkat-tingkat, ada yang termulia dan paling mendasar, ada pula yang tidak demikian, namun keyakinan yang pasti adalah semua ajaran Islam itu mulia dan penting. Oleh karena itu di dalam mendakwahkan Islam pun perlu diperhatikan skala prioritas. Dahulukan perkara yang terpenting dan termulia sebelum perkara yang penting dan mulia. Dahulukan perkara yang mendasar sebelum perkara yang terbangun di atas dasar tersebut.

Dalam mendakwahkan ajaran Islam, ketika seorang da’i menghadapi dua pilihan dan keadaan yang menuntut harus dipilih salah satunya, maka dahulukan perkara yang wajib sebelum perkara yang sunnah, karena perintah Allah itu ada yang wajib dan ada pula yang sunnah untuk dikerjakan. Demikian pula, dahulukan melarang dari perkara yang haram, sebelum melarang dari perkara yang makruh, karena larangan Allah itu ada yang haram dilakukan dan ada pula yang makruh dilakukan.

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/29553-metode-berdakwah-kepada-non-muslim-1.html

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (5)

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (5)

2. Tafsiran kedua

“Apakah kalian menganggap al-laata, al-uzza, dan manaah itu sesembahan-sesembahan perempuan dan kalian tetapkan sesembahan-sesembahan permpuan tersebut sebagai sekutu-sekutu Allah Ta’ala yang layak untuk disembah, padahal biasanya kalian merendahkan perempuan dan kalian malu jika memiliki anak perempuan”1.

Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,

تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ

(22) Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.

Maksudnya adalah itu merupakan pembagian yang zalim dan batil. Bagaimana bisa kalian membagi untuk Rabb kalian dengan model pembagian yang kalau seandainya pembagian seperti itu diterapkan di antara makhluk saja, akan terhitung sebagai bentuk kecurangan, ketidakadilan, kebatilan dan kedunguan. Bahkan sebenarnya kalian pun juga tidak mau mendapatkan pembagian anak perempuan, tapi kalian tetapkan anak perempuan itu untuk Allah Ta’ala.

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ

(23) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.

Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Kemudian Allah berfirman mengingkari mereka terkait dengan bid’ah yang mereka ada-adakan dan perbuat, berupa kedustaan, mengada-ada dan kekufuran, dalam bentuk menyembah patung dan berhala serta menyebut patung dan berhala tersebut sebagai “sesembahan-sesembahan”, (maka Allah pun mengingkari mereka)

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya”

maksudnya (penamaan itu hanyalah) dari diri kalian sendiri,

مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ

“Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya,”

maksudnya: (tidak menurunkan) hujjah (yang benar sedikit pun),

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka”

maksudnya: mereka tidak memiliki landasan (yang benar) kecuali sebatas berbaik sangka kepada bapak-bapak (pendahulu) mereka yang meniti jalan kebatilan sebelum mereka. Seandainya tidak demikian, tentulah penamaan itu dikarenakan mereka mengikuti nafsu mengejar kepemimpinan (kekuasaan) dan mengagungkan bapak-bapak mereka terdahulu.

وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ

“dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka,”

maksudnya: Allah telah mengutus kepada mereka para rasul yang membawa kebenaran yang terang dan hujjah yang tegas, namun kendati demikian, mereka tidaklah mengikuti petunjuk (Allah) yang sampai kepada mereka dan mereka pun tidak mau tunduk melaksanakannya.

Penutup

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan beberapa faidah sebagai berikut:

  1. Kesalahan musyrikin yang disebutkan dalam Surat An-Najm: 19-23 ini ada tiga, yaitu:
    1. Mereka menyembah sesembahan-sesembahan selain Allah yang tidak bisa memberi manfaat dan tidak mampu menimpakan mudharat (bahaya).
    2. Mereka memberi nama dan sifat kepada tiga sesembahan tersebut dengan nama yang diambil dari nama Allah.
    3. Mereka anggap ketiga sesembahan tersebut sebagai anak-anak perempuan Allah.
  1. Di antara jurus kaum musyrikin dalam melegalkan kesyirikan mereka adalah memberi nama dan sifat kepada sesembahan-sesembahan mereka dengan nama dan sifat yang mengandung kesan indah dan mengandung kekhususan Ilahiyyah.
  1. Inti kesyirikan mereka adalah bahwa mereka meyakini akan memperoleh barakah dari al-laatta, al-uzza, dan manaah (tabarruk) dengan mengagungkan, berharap, dan mempersembahkan ritual ibadah kepada sesembahan-sesembahan tersebut.
  1. Barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada kuburan yang dikeramatkan, maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-laatta, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada pohon yang dikeramatkan,  maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada al-uzza, barangsiapa yang bertabarruk (ngalap berkah) kepada batu yang dikeramatkan (patung), maka perbuatannya seperti perbuatan orang yang tabarruk kepada manaah.

[Selesai]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

  1. Ringkasan Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 178 

Sumber: https://muslim.or.id/29532-tafsir-surat-an-najm-19-23-ngalap-berkah-yang-salah-5.html

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (4)

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (4)

Tafsiran الْأُخْرَىٰ

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ

(20) dan Manaah yang ketiga (terakhir) lagi hina (sebagai anak perempuan Allah)?

Terdapat dua tafsiran untuk memaknai الْأُخْرَىٰ dalam QS. An-Najm: 20, yaitu:

1. Al-Ukhra dengan makna “hina atau rendah”, sehingga  terjemah ayatnya yaitu:

وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ

(20) dan Manah yang ketiga (terakhir) lagi hina (sebagai anak perempuan Allah)?

Makna Al-Ukhra dengan makna rendah ini juga terdapat dalam firman Allah Ta’ala,

وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ

(39) Dan berkata tokoh-tokoh mereka kepada orang-orang lemah (pengikut) di antara mereka, ‘Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami (dengan diringankan azabnya), maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan” (QS. Al-A’raaf: 39).

Kata Ukhra di sini dimaknai sebagai orang-orang lemah, strata sosial yang rendah dan statusnya sebagai pengikut.

2. Al-Ukhra dengan makna “selain(nya)”maka terjemah ayatnya sebagai berikut. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ

(20) dan Manaah yang ketiga, selain (kedua)nya (sebagai anak perempuan Allah)?

Makna Ukkhra seperti ini adalah salah satu bentuk gaya bahasa Arab untuk menyertakan sesuatu yang memiliki kesamaan dengan beberapa perkara yang telah disertakan sebelumnya. Apabila bangsa Arab mengabarkan sesuatu yang berbilang, tapi salah satu dari perkara yang berbilang tersebut disangka oleh sebagian orang tidak termasuk kedalam bagiannya, karena dianggap tidak sebanding dengan dengan perkara selainnya atau tidak sepadan dengan kebesaran selainnya, maka dalam bahasa Arab diungkapkan dengan menyebutkan sesuatu yang disangka salah tersebut dan menegaskannya dengan kata aakhor atau ukhroo, sebagai penutup dalam penyebutan beberapa perkara yang berbilang tersebut.

Contohnya,

وفلانٌ هو الآخَر

“Sedangkan si anu itu juga orang lain (selain orang-orang yang telah disebutkan, pent.) yang termasuk (kedalam orang-orang tersebut)”.

Perlu diketahui, di antara suku-suku bangsa Arab, para penyembah manaah itu jumlahnya banyak, maka dalam ayat yang agung ini diingatkanlah para penyembah manaah, bahwa jumlah mereka yang banyak tidak menyebabkan diistimewakan dan dibedakannya manaah dari kedua sesembahan selainnya, karena semuanya sama, semua sesembahan itu sama-sama sesembahan selain Allah yang batil. Berarti konteks ayat kesembilan belas dan kedua puluh ini adalah menyatakan kehinaan, keburukan dan salahnya keyakinan mereka dan sesembahan mereka tersebut dan menetapkan bahwa ketiga berhala dan patung itu adalah sesembahan-sesembahan yang batil.

Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman,

أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ

(21) Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?

Ayat di atas punya dua tafsiran, yaitu:

1. Tafsiran pertama:

Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya menyebutkan tafsiran yang pertama, yaitu:

أي : أتجعلون له ولدا، وتجعلون ولده أنثى، وتختارون لأنفسكم الذكور

Maksudnya, ‘Apakah kalian menganggap Allah memiliki anak, dan kalian menetapkan anak Allah itu perempuan, sedangkan kalian memilih untuk diri kalian anak laki-laki?’”.

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

Sumber: https://muslim.or.id/29527-tafsir-surat-an-najm-19-23-ngalap-berkah-yang-salah-4.html

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (3)

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (3)

Kedua1

Dengan mentasydidkan huruf ta` (ت), sehingga dibaca al-laatta (اللاَتَّ) yang merupakan ism fa’il dari  latta-yaluttu ( لَتَّ-يَلُتُّ ). Dan bacaan dengan tasydid ini merupakan bacaan Ibnu Abbas, Ibnuz Zubair, Mujahid, dan selainnya2. Pada asalnya al-laatta adalah orang saleh yang dahulu membuat adonan (makanan) dari tepung untuk memberi makan jama’ah haji, sebagai bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lalu ketika ia meninggal dunia, kaum musyrikin berdiam diri di kuburannya dan mencari berkah darinya, sebagaimana peristiwa yang terjadi di kaum Nabi Nuh tatkala mereka bersikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang saleh. Dengan demikian al-laatta adalah kuburan yang dikeramatkan dan dicari berkahnya. Oleh karena itu, kesyirikan para penyembah al-laatta adalah ngalap berkah (tabarruk bil qubuur) kepada kuburan yang dikeramatkan.

Dan kandungan ayat ini mencakup kedua tafsiran ini, sehingga mencakup larangan terhadap dua tabarruk yang syirik ini, yaitu  ngalap berkah (tabarruk bil ahjaar) kepada batu-batu yang dikeramatkan dan ngalap berkah (tabarruk bil qubuur) kepada kuburan yang dikeramatkan.

Al-’uzza dan Bentuk Penyembahannya3

Al-uzza (الْعُزَّىٰ) adalah sebuah pohon yang berada antara kota Mekkah dan Thaif. Di dekatnya, dibangun rumah dan ada seorang dukun perempuan yang menjadi penunggunya, ia menghadirkan jin sehingga orang-orang tertipu dengan kekeramatan pohon tersebut, semua itu dilakukan dalam rangka menyesatkan orang-orang. Dahulu kaum musyrikin Quraisy dan Mekkah menyembah pohon yang dikeramatkan tersebut, yang hakekatnya adalah menyembah setan (jin) yang dihadirkan oleh dukun perempuan tersebut. Setan itulah yang terkadang berbicara dengan suara yang didengar oleh manusia, seolah-olah terkesan pohon itu yang berbicara.

Mereka menamai pohon yang dikeramatkan tersebut dengan (الْعُزَّ), karena mengambil dari (العزيز), dan ini adalah penyelewengan terhadap nama Allah, karena menamai sesembahan selain Allah dengan nama yang diambil dari nama Allah adalah pelecehan terhadap Allah. Hal ini dikarenakan tertutupnya hati mereka dari kebenaran, dengan dalih “pengagungan” terhadap sesembahan selain Allah Tabaraka wa Ta’ala tersebut.

Dahulu kaum musyrikin Quraisy dan Mekkah meyakini bisa mendapatkan berkah dari pohon yang dikeramatkan tersebut dengan mengagungkannya dan melakukan ritual penyembahan kepadanya. Dengan demikian al-’uzza adalah pohon yang dikeramatkan dan dicari berkahnya. Oleh karena itu, kesyirikan para penyembah al-uzza adalah ngalap berkah (tabarruk bil qubuur) kepada pohon yang dikeramatkan.

Manaah dan Bentuk Penyembahannya4

Manaah adalah batu besar (patung) yang dikeramatkan. maanah berada di antara kota Mekah dan Madinah. Dahulu suku khuza’ah, aus dan khazraj mengagungkannya, mereka berihram untuk haji dan umrah dari tempat patung tersebut. Penamaannya diambil dari nama Allah Al-Mannan (Yang Maha Memberi Karunia) dan dinamakan dengan manaah karena banyaknya darah binatang yang dialirkan dalam rangka ngalap berkah dengan cara menyembelih binatang di sisi batu besar tersebut.

Ingatlah! Bahwa di antara ciri khas kaum musyrikin dalam melariskan dagangan kesyirikannya adalah mengadakan upacara ritual pengaliran darah binatang untuk selain Allah Ta’ala ataupun upacara-upacara ritual selainnya yang dibuat-buat dan dikesankan memiliki nilai filosofis yang tinggi, padahal itu hanya tipu daya setan belaka, tak satupun dalil yang menunjukkan kebernarannya.

Dengan demikian, manaah adalah batu (patung) yang dikeramatkan dan dicari berkahnya. Oleh karena itu, kesyirikan para penyembah manaah adalah ngalap berkah (tabarruk bil qubuur) kepada batu (patung) yang dikeramatkan.

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

___

  1. Dintisarikan dari I’anatul Mustafid, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 216. 
  2. Lihat: Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 175. 
  3. Dintisarikan dari At-Tamhid, Syaikh Sholeh Alusy Syaikh, hal. 130-131, I’anatul Mustafid,Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 216, dan Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 176-177 
  4. Dintisarikan dari At-Tamhid, Syaikh Sholeh Alusy Syaikh, hal. 130-131, I’anatul Mustafid,Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 217, dan Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 177 

Sumber: https://muslim.or.id/29525-tafsir-surat-an-najm-19-23-ngalap-berkah-yang-salah-3.html

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (2)

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (2)

Ketidak-berdayaan sesembahan-sesembahan mereka, al-laata, al-uzza, dan manaah ini semakin nampak apabila kita renungi ayat kesatu sampai kedelapan belas dari surat An-Najm yang berisikan tentang keagungan Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya, kemuliaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendapatkan wahyu Al Quran, dan kemuliaan Malaikat Jibril ‘alaihis salam.

Sedangkan dua ayat selanjutnya, yaitu ayat kesembilan belas dan kedua puluh itu berisikan tentang perbandingan antara ketidakberdayaan ketiga sesembahan mereka yang terbesar tersebut dengan keagungan Allah Ta’ala dan kekuasaan-Nya dan perkara lainnya yang disebutkan dalam ayat-ayat yang sebelumnya.

Sebagai contoh saja, ketiga sesembahan mereka tersebut tidaklah bisa mewahyukan kepada kaum musyrikin suatu wahyu, adapun Allah Ta’ala, Dia Ta’ala mewahyukan Alquran kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan,

لما ذكر الوحي إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، وذكر من آثار قدرته ما ذكر ، حاج المشركين إذ عبدوا ما لا يعقل وقال : أفرأيتم هذه الآلهة التي تعبدونها أوحين إليكم شيئا كما أوحي إلى محمد ؟

“Tatkala Allah menyebutkan wahyu yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tentang kekuasaan-Nya sebagaimana yang telah disebutkan (sebelumya), Allah pun membantah hujjah kaum musyrikin, karena mereka menyembah sesembahan-sesembahan yang tidak berakal.

Allah menyatakan bahwa terangkanlah kepadaku tentang sesembahan-sesembahan yang kalian sembah ini, apakah sesembahan-sesembahan ini (sanggup) menyampaikan wahyu kepada kepada kalian sebagaimana Allah mewahyukan (Alquran) kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam1.

Di samping itu, ketiga berhala dan patung mereka tersebut tidak mampu membuat mereka mencapai kedudukan yang tinggi sebagaimana yang Allah jadikan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketiga berhala dan patung itupun tidak mampu menciptakan malaikat yang mulia sebagaimana Allah menciptakan malaikat Jibril ‘alaihis salam.

Lalu apakah layak berhala dan patung seperti itu dianggap sebagai sekutu-sekutu Allah Azza wa Jalla? Demikianlah seluruh pertanyaan-pertanyaan dalam Alquran Al-Karim yang bebentuk tantangan (tahaddi) dan pembuktian ketidakmampuan (ta’jiz), maka tidaklah mungkin bisa dijawab oleh kaum musyrikin sampai hari Kiamat tiba.

Siapa al-laata, al-uzza dan manaah? Bagaimana Kaum Musyrikin Menyembah Mereka?

Allah Ta’ala berfirman:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ

(19) Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Laata dan al Uzza.

Al-Laata

Terdapat dua tafsiran Ulama rahimahumullah terhadap {اللَّاتَ}, yaitu2.

Pertama:

Tanpa mentasydidkan huruf ta` (ت): al-laata (اللَّاتَ), Dan bacaan tanpa tasydid ini adalah bacaan jumhur ulama3. Al-laata adalah batu besar halus, berwarna putih dan terukir. Jadi, Al-laata adalah sebuah patung di daerah Thaif milik Bani Tsaqif. Kaum musyrikin dahulu mencari keberkahan darinya, meminta pemenuhan hajat mereka kepadanya dan meminta kepadanya agar terangkat musibah yang menimpa kepada mereka.

Dengan demikian, al-laata adalah batu atau patung yang dikeramatkan dan dicari keberkahannya. Oleh karena itu, kesyirikan para penyembah al-laata adalah ngalap berkah (tabarruk bil ahjaar) kepada batu-batu yang dikeramatkan.

Mereka menamai batu yang dikeramatkan tersebut dengan (اللَّاتَ), karena mengambil dari (الإله), dengan anggapan bahwa al-laata memang sesembahan yang layak untuk dimintai barakah, maslahat, dan keselamatan. Demikianlah para kaum musyrikin di zaman sekarang, mereka menamai sesembahan-sesembahan mereka dengan nama yang menurut mereka indah dan mengandung kekhususan Ilahiyyah sehingga banyak orang yang tertipu dengannya, sehingga mereka mengagungkan dan menyembah sesembahan-sesembahan tersebut.

Camkanlah baik-baik! Bahwa jurus melariskan dagangan kesyirikan berupa menamai kesyirikan dengan nama yang mengandung kesan indah sebenarnya adalah jurus nenek moyang musyrikin semenjak tempoe doeloe.

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

  1. Tafsir Al-Qurthubi, QS. An-Najm: 19 
  2. Dintisarikan dari I’anatul Mustafid, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 215 
  3. Lihat: Taisiirul Aziziil Hamiid, Syaikh Sulaiman bin Abdillah, hal. 175 

Sumber: https://muslim.or.id/29515-tafsir-surat-an-najm-19-23-ngalap-berkah-yang-salah-2.html

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (1)

Tafsir Surat An-Najm 19-23: Ngalap Berkah Yang Salah (1)

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:

Allah Ta’ala berfirman:

أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّىٰ

(19) Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Laata dan al-Uzza,

وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَىٰ

(20) dan Manah yang ketiga (terakhir) lagi hina (sebagai anak perempuan Allah)?

أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ

(21) Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?

تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَىٰ

(22) Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ ۖ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَىٰ

(23) Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu adakan; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka (QS. An-Najm: 19-23).

Tafsir

Kandungan umum beberapa ayat ini adalah penetapan tauhid di hati kaum mukminin, sekaligus bantahan terhadap kesyirikan kaum musyrikin. Allah membantah kaum musyrikin penyembah berhala dan patung. Berhala dan patung yang paling mereka agungkan adalah al-laata, al-uzza, dan manaah, Allah menyatakan kepada mereka:

{أَفَرَأَيْتُمُ}

Maksudnya

Kabarkan kepadaku tentang berhala dan patung ini, apakah sesembahan-sesembahan tersebut sanggup memberi manfaat atau menimpakan mudhorot (bahaya)? Apakah sesembahan-sesembahan tersebut bisa menyelamatkanmu dari segala marabahaya?Apakah sesembahan-sesembahan itu sanggup memberi rezeki kepadamu?

Kaum musyrikin pun tidak mampu menjawabnya, karena memang terbukti bahwa sesembahan-sesembahan tersebut tidak sanggup berbuat apa-apa dan tidak mampu menolong kaum musyrikin di berbagai kancah peperangan, seperti perang badar dan selainnya.

Sesembahan-sesembahan itu pun tidak mampu menolak bahaya yang Allah timpakan kepada kaum musyrikin di berbagai peristiwa. Maka hal ini menjadi dalil yang tegas bahwa alasan mereka dalam menyembah berhala dan patung tersebut agar mendapatkan manfaat atau terhindar bahaya dari diri mereka adalah perkara yang tertolak dan batil1.

Al-Qurthubi rahimahullah dalam kitab Tafsirnya mengatakan,

وفي الآية حذف دل عليه الكلام ; أي أفرأيتم هذه الآلهة هل نفعت أو ضرت حتى تكون شركاء لله

“Dalam ayat ini sesunguhnya terdapat pola kalimat yang menyimpan kata-kata yang tak disebutkan (hadzfun). Kata-kata tersebut ditunjukkan dari konteks pembicaraan, yaitu ‘Terangkanlah kepadaku tentang berhala dan patung ini, apakah sesembahan-sesembahan ini sanggup memberi manfaat atau menimpakan mudharat (bahaya) hingga merekapun dianggap sebagai sekutu-sekutu Allah.”

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

____

  1. Diintisarikan dari Al-Mulakhhosh, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 88-89 dan I’anatul Mustafid, Syaikh Sholeh Al-Fauzan, hal. 215. 

Sumber: https://muslim.or.id/29495-tafsir-surat-an-najm-19-23-ngalap-berkah-yang-salah-1.html

Keindahan Islam (14)

Keindahan Islam (14)

Ibnu Hazm rahimahullah menjelaskan,

لا خلاف بين أحد من أهل اللغة والشريعة في أن كل وحي نزل من عند الله تعالى فهو ذكر منزل فالوحي كله محفوظ بحفظ الله تعالى له بيقين وكل ما تكفل الله بحفظه فمضمون ألا يضيع منه وألا يحرف منه شيء أبدا تحريفا لا يأتي البيان ببطلانه

“Tidak ada perselisihan diantara ahli bahasa Arab dan ulama syari’at bahwa setiap wahyu yang diturunkan dari sisi Allah Ta’ala itu disebut dengan “Adz-Dzikru” yang diturunkan (dari-Nya). Oleh karena itu, seluruh wahyu (baik Alquran maupun As-Sunnah, pent.) itu dengan yakin (pasti) dijaga dengan penjagaan dari Allah Ta’ala . Dan setiap sesuatu yang Allah jamin penjagaannya, maka sesuatu itu tidak akan ditelantarkan dan tidak akan dibiarkan sedikitpun untuk diselewengkan tanpa ada satupun bantahan yang menyatakan kebatilannya, selama-lamanya (AL-Ihkam fi Ushulil Ahkam).

Dari sinilah nampak keindahan agama Islam yang bersumber pada Alquran dan As-Sunnah ini, karena agama ini terjaga dan tidak mungkin Alquran dan As-Sunnah  dirubah, dikurangi, ditambah, diganti ataupun diselewengkan tanpa ada ulama yang bangkit meluruskannya atau menjelaskan kebatilannya. Hal ini mendorong pemeluk agama Islam semakin mantap mempelajari dan mengamalkan seluruh ajaran agama Islam yang senantiasa murni sebagaimana pertama kali Allah Ta’ala turunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Penutup

Sesungguhnya apa yang penyusun sampaikan barulah sekelumit dari keistimewaan dan keindahan agama Islam ini, itupun dengan kalimat dan ungkapan yang sangat jauh dari kesempurnaan dalam menggambarkan keindahan satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah Ta’ala ini.

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,

و لا يمكن ضبط الحكم و المصالح في باب واحد من أبواب العلم، فضلا عن جميعه

“Tidak mungkin bisa disebutkan semua hikmah dan maslahat dalam satu bab ilmu (Syari’at) ini, apalagi jika harus disebutkan semuanya.”

Keindahan tentang shalat saja, misalnya, kita tidaklah bisa mengungkapkan seluruh hikmah dan maslahat yang terdapat di dalamnya, apalagi jika harus menyebutkan semua hikmah dan maslahat dari zakat, puasa, haji, amar ma’ruf nahi mungkar, dan seluruh syari’at Islam ini, maka suatu hal mustahil mampu  diungkapkan oleh manusia.

Namun, penyusun berharap lima keistimewaan yang sekaligus merupakan keindahan agama Islam ini, yaitu

  1. Islam adalah agama yang sempurna
  2. Islam agama Tauhid
  3. Islam adalah agama yang mudah
  4. Agama Islam terbangun di atas meraih kebaikan dan menolak bahaya
  5. Allah Ta’ala menjaga agama Islam ini dari perubahan, menjadi pendorong yang kuat bagi seorang muslim untuk membentengi dirinya dari segala hal yang merusak keimanannya dan ia semakin terdorong untuk meningkatkan keimanannya. Serta diharapkan pula risalah ini mendorong non muslim untuk tertarik kepada agama Islam yang sangat indah, agung dan sempurna ini.

Wa shallallahu wa sallam ‘ala Nabiyyina Muhammad, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

Sumber: https://muslim.or.id/29493-keindahan-islam-14.html

Keindahan Islam (13)

Keindahan Islam (13)

5. Allah Ta’ala Menjaga Agama Islam dari Perubahan

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya” (QS. Al-Hijr: 9).

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah menafsirkan kata الذِّكْرَ dengan Alquran. Beliau mengatakan,

وإنا للقرآن لحافظون من أن يزاد فيه باطل مَّا ليس منه، أو ينقص منه ما هو منه من أحكامه وحدوده وفرائضه

“Sesungguhnya Kami benar-benar menjaga Alquran dari penambahan perkara batil yang bukan bagian darinya, atau pengurangan sesuatu yang merupakan bagian darinya, baik berupa hukum, batasan maupun kewajiban-kewajiban yang terdapat di dalamnya.”

Jaminan dari Allah Ta’ala berupa penjagaan Alquran ini berkonsekuensi kepada penjagaan As-Sunnah yang merupakan penjelas Alquran, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Kami turunkan kepadamu Alquran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (QS. An-Nahl: 44).

Hal ini selaras dengan tafsiran Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ketika beliau menafsirkan kata الذِّكْرَ dalam QS. Al-Hijr: 9 dengan Alquran dan As-Sunnah, beliau mengatakan,

وذكر الرحمن الذي أنزله هو الكتاب والسنة …وهو الذكر الذي قال الله فيه: {إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ} (الحجر: 9)

“Dan maksud Dzikrur Rahman adalah Al-Kitab dan As-Sunnah… Makna Dzikir seperti inilah yang dimaksud dalam firman Allah

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya” (QS. Al-Hijr: 9)” (Al-Fatawa Al-Kubra, 2/274)1.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga mengatakan,

“Allah Ta’ala berfirman

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya

maka dari itu, jika ada kesalahan dalam tafsir Alquran, penukilan hadits maupun penjelasannya, pastilah Allah akan mempersiapkan dari umat ini orang yang menjelaskan kesalahan tersebut dan menyebutkan dalil (yang benar) untuk membuktikan kesalahan orang yang salah dan kedustaan orang yang dusta, karena sesungguhnya umat ini tidak akan bersepakat di atas kesesatan, dan senantiasa ada sekelompok orang yang jaya di atas kebenaran hingga dekat hari Kiamat. Karena mereka ini berada pada generasi umat terakhir sehingga tak ada lagi nabi setelah nabi mereka dan tidak ada Kitabullah setelah Kitabullah yang diturunkan untuk mereka (Alquran).

Adapun umat-umat terdahulu sebelum mereka, jika mereka mengganti dan mengubah wahyu yang diturunkan untuk mereka, maka Allah mengutus seorang nabi yang menjelaskan (kebenaran) kepada mereka, memerintahkan kepada mereka (kebaikan) dan melarang mereka (dari berbuat keburukan).

Hanya saja, sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada nabi (lagi yang diutus), namun Allah telah menjamin bahwa Dia akan menjaga Wahyu yang diturunkan-Nya dan menjamin umat (Islam) ini tidak akan pernah bersepakat dalam kesesatan, bahkan di setiap zaman, Allah persiapkan untuk umat ini ulama dan Ahlul Quran yang menjaga agama-Nya” (Al Jawab Ash-Shahih, 3/39)2.

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

Sumber: https://muslim.or.id/29482-keindahan-islam-13.html

Keindahan Islam (12)

Keindahan Islam (12)

– Zakat Adalah Syari’at Allah yang Mengandung Tarbiyyah berupa penyucian jiwa, sekaligus tarbiyyah akhlak berupa dermawan, peka terhadap penderitaan saudara seiman sehingga dapat membantu saudara seiman yang membutuhkan harta. Di antara pendidikan yang terkandung dalam syari’at Zakat adalah sikap menjauhi kebakhilan, pandai mensyukuri nikmat Allah, serta menjadi penyebab keberkahan dan terjaganya harta muzakki, baik secara maknawi maupun fakta yang nampak, dan mendidik orang yang menunaikannya agar senantiasa bertawakkal kepada Allah Sang Pemberi rezeki. Di samping itu, zakat juga bisa merupakan sarana penopang jihad fi sabilillah.

– Dalam puasa terdapat maslahat berupa latihan mengendalikan hawa nafsu dengan meninggalkan perkara yang dicintai dalam rangka mencari sesuatu yang dicintai oleh Allah dan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Orang yang berpuasa terdidik dengan keikhlasan, kesabaran, dan tekad kuat meraih ridha Allah.

– Adapun orang yang menunaikan Haji akan terdidik untuk berkorban dengan harta, waktu, tenaga, bahkan jiwa demi meraih keridhaan Allah Ta’ala, demikian pula ia akan terdorong untuk mengingat padang mahsyar dan prosesi hari Akhir. Di samping itu, orang yang menunaikan haji akan melakukan berbagai macam bentuk peribadahan. Orang yang menunaikan haji dengan baik akan terisi pengagungan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla, ia juga akan mengingat keadaan para nabi dan rasul ‘alaihimush shalatu was salam, serta mencintai mereka. Di samping itu juga terdapat kemaslahatan saling mengenal antar kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia dan menggalang persatuan imaniyyah sesama kaum muslimin serta mempererat ukhuwwah Islamiyyah. Semua maslahat di atas, masih ditambah lagi diraihnya pahala yang besar, keridhaan-Nya, serta terhindar dari murka-Nya.

– Disyari’atkan berkumpul dalam peribadahan shalat berjama’ah, shalat jum’at, shalat ‘Idul Fithri  dan ‘Idul Adha, bermajelis ta’lim mengandung kemaslahatan yang besar berupa menghilangkan pemutusan hubungan, kedengkian, dan permusuhan, menumbuhkan saling kasih sayang, saling tolong menolong dan berlomba-lomba dalam kebaikan, serta menghasilkan sikap mencontoh satu sama lainnya dalam kebaikan, di samping itu juga mendapatkan pahala yang tidak didapatkan dalam ibadah-ibadah lainnya yang dilakukan tanpa berjama’ah.

– Dibolehkannya jual beli dan berbagai akad yang mubah dalam Islam adalah dalam rangka menjaga keadilan di antara manusia, melindungi hak mereka, dan memenuhi kebutuhan mereka dengan cara yang halal.

– Dihalalkannya berbagai makanan, minuman, dan pakaian yang baik serta pernikahan yang sah, karena adanya kemaslahatan untuk mereka, pemenuhan kebutuhan dengan cara yang baik dan karena tidak ada bahaya di dalamnya.

– Sebaliknya, diharamkan berbagai makanan, minuman, dan pakaian yang buruk dan bentuk pernikahan yang batil, karena terdapat bahaya di dalamnya, baik di dunia maupun di akhirat dan tidak butuhnya manusia terhadap hal-hal yang buruk tersebut.

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,

و بالجمــــــــــلة: فإن أوامر الرب قوت القلوب و غذاؤها، و نواهيه داء القلوب و كلومها

“Kesimpulannya bahwa perintah-perintah Ar-Robb adalah makanan pokok hati dan gizinya, sedangkan larangan-larangan-Nya adalah penyakit hati dan sesuatu yang melukainya.”

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

Sumber: https://muslim.or.id/29478-keindahan-islam-12.html

Keindahan Islam (11)

Keindahan Islam (11)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

الله بعث الرسل بتحصيل المصالح وتكميلها، وتعطيل المفاسد وتقليلها، فكل ما أمر الله به ورسوله؛ فمصلحته راجحة على مفسدته، ومنفعته راجحة على المضرة، وإن كرهته النفوس

“Allah Ta’ala telah mengutus para rasul-Nya untuk meraih maslahat dan menyempurnakannya, serta menolak mafsadat (kerusakan/bahaya) dan menyedikitkannya. Setiap perkara yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, maka maslahat dan manfaatnya lebih dominan daripada mafsadat dan mudharatnya, meskipun hal itu tidak disukai oleh hawa nafsu” (Majmu’ul Fatawa [24/287])1.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

القول الجامع؛ أن الشريعة لا تهمل مصلحة قط، بل الله تعالى قد أكمل لنا الدين وأتم النعمة، فما من شيء يقرب إلى الجنة إلا وقد حدثنا به النبي صلى الله عليه وسلم

“Kesimpulan umumnya adalah syari’at tidaklah menelantarkan kemaslahatan sedikitpun. Bahkan Allah Ta’ala telah menyempurnakan untuk kita agama ini dan menyempurnakan nikmat-Nya. Oleh karena itu, tidak ada sesuatupun yang mendekatkan (seorang hamba) kepada surga kecuali telah disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (kepada umatnya)” (Majmu’ul Fatawa [11/344])2.

Contoh Maslahat yang Terdapat dalam Agama Islam

Sesungguhnya, banyak sekali maslahat dan manfaat dalam syari’at Islam yang dapat dihayati oleh setiap orang yang beriman, namun dalam kesempatan ini, sedikit saja yang bisa penyusun sampaikan darinya. Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah mengungkapkan beberapa maslahat yang terdapat didalam syari’at Allah, berikut ini intisari keterangan beliau dalam kitab beliau Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah dan Ad-Durrah Al-Mukhtasharah.

– Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa di antara perintah Allah yang teragung adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam peribadahan. Tauhid mengandung kemaslahatan bagi hati, melapangkan hati, didapatkannya cahaya dan bersihnya hati dari kotoran (yang mengotorinya). Di samping itu, juga terdapat di dalamnya kemaslahatan badan, dunia dan akhirat.

– Dan larangan Allah yang terbesar adalah larangan dari berbuat syirik dalam peribadahan. Mudharat dan bahaya yang ditimbulkan oleh kesyirikan pun tentunya amatlah besar, baik kemudharatan yang mengenai hati, badan, dunia dan akhirat.

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menyatakan,

فكل خير في الدنيا و الآخرة: فهو من ثمرات التوحيد، و كل شر في الدنيا و الآخرة فهو من ثمرات الشرك

“Setiap kebaikan di dunia dan akhirat, maka itu merupakan buah dari tauhid, sedangkan setiap keburukan di dunia dan akhirat, maka itu adalah dampak negatif dari kesyirikan.”

Di antara perkara besar yang Allah perintahkan setelah tauhid (rukun Islam pertama) adalah keempat rukun Islam selanjutnya, yaitu shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji.

– Dalam syari’at Shalat terdapat tarbiyyah imaniyyahberupa keikhlasan, berkomunikasi menghadap Allah, memuji-Nya, berdo’a kepada-Nya dan ketundukan kepada-Nya. Kedudukan shalat di dalam “Pohon Iman” untuk mengairi dan melihara pohon iman tersebut. Kalaulah tidak disyari’atkan shalat secara berulang dalam sehari semalam, tentulah akan gersang pohon tersebut, sehingga dahan dan rantingnyapun sulit diarahkan kepada kebaikan.

Dengan shalat yang dilakukan secara berulang akan membuahkan keimanan yang meningkat dan kemanisan ubudiyyah yang terus diperbarui dari waktu ke waktu, serta membuahkan kesibukan hati mengingat Allah yang dapat mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar.

[Bersambung]

***

Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah

Artikel Muslim.or.id

[serialposts]

  1. http://majles.alukah.net/t49126/ 
  2. http://majles.alukah.net/t49126/ 

Sumber: https://muslim.or.id/29460-keindahan-islam-11.html